Barangkali kesalahan ada padaku. Sifat yang mudah emosi, sukar mengontrol diri, bahkan tak bisa menyembunyikan kekesalan. Segala langkah demi langkah seolah ter- setting dari dalam otak. Hasrat setiap yang terjadi harus sesuai perencanaan mengakar kuat dalam tekad. Ah, menjadi pribadi terstruktur terkadang menuai banyak pertentangan. Entah karena keadaan di lapang tak sesuai harapan, ataupun dinamisnya hidup yang pelu banyak improvisasi. Tapi, dalam ingin mendesak terjadi sesuai harap. Selalu begitu. Bertabrakan dengan karakter orang lain adalah langganan. Apakah karena diri seorang anak tunggal yang selalu menjadi nomor 1? Seakan-akan segala pengertian, memahami, itu “harus aku”. Jangan salahkan takdir yang membuatku hidup menjadi semata wayang. Justru seharusnya menyalahkan diriku yang tak mampu mengendalikan berbagai sifat yang sebenarnya merugikan. Do’akan aku selalu, kawan. Hidupku yang tertangkap oleh pasang mata sebagai “sempurna” s esungguhnya banyak cela. Semoga ben...