Jumat malam, 14 Agustus 2026 aku kehilangan makhluk yang sangat kusayangi, kucingku Firdaus. Sejak lebaran idul fitri, nafsu makannya berkurang meskipun masih tetap mau makan. Sejak kutinggal ke luar kota, kondisinya terus menurun. Tidak selincah dan seaktif biasanya. Aku tidak menyangka bahwa Firdaus dalam kondisi tidak baik-baik saja. Ditambah lagi aku harus menempuh pendidikan selama 1,5 bulan dengan kondisi minim ponsel dan komunikasi. Aku jarang menanyakan tentang kabarnya. Tanggal 2 Agustus 2026, aku tiba di rumah kembali. Melihat kondisi Firdaus yang ternyata jauh berbeda dibandingkan bulan Mei terakhir aku di rumah. Tubuhnya semakin kurus, bulunya mulai gimbal tak terurus. Kemudian, aku dan ibu membawanya ke dokter hewan untuk diperiksa. Ia masih bisa mengeong tapi tak selincah biasanya. Kata dokter, hanya pilek biasa. Setelah itu, ibu merawatnya dengan memberikan obat dan menyuapi makanan, sebab Firdaus enggan makan. Hari demi hari kondisinya semakin menurun. Tidak ...
Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...