Langsung ke konten utama

Postingan

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...
Postingan terbaru

Sedikit Ungkapan

Beberapa bulan setelah momen itu, pelan-pelan aku mulai membuka diri. Menerima kebaikan-kebaikan di sekitarku tanpa merasa adanya ancaman. Ketakutanku masih ada, sangat ada. Tetapi ia kukubur dalam-dalam agar tak menghantui. Aku salah. Nyatanya ketakutan itu tetap bergentayang, dengan wujud lain. Membentuk sebuah trauma besar yang nyata.  Ketakutan ditinggalkan, ketakutan hal-hal bahagia hanya berangsur sementara, ketakutan akan dunia yang tak selamanya ada di pihakku. Aku tahu aku kenapa. Aku tahu ada yang salah pada diriku. Aku tahu aku tidak baik-baik saja.  Aku tahu. Sab, 8 Agustus 2026 -slm

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...
Bahkan aku tidak tau bagaimana men- desk ripsikan perasaan gila gila gila gila ini.   terlalu kompleks isi kepalaku dan jiwaku  seperti kosong melompong.   aku kehil angan diriku. 

Sebuah Percobaan yang Gagal

Malam itu, langkahku terasa berat. Sesak di dada sudah menjalar hingga kepala. Riuhnya membuatku diam, tak lagi bersuara. Perut yang semula tak tahu apa-apa, tiba-tiba bergejolak marah. Sekujur tubuh ikut merasakan bagaimana sakit yang kurasakan saat itu. Aku tidak tahu bagaimana meredamkan sakit itu. "Apakah ini sudah saatnya?" Tanyaku kepada hati. Kaki berjalan gontai, menyusuri jalan yang kian sepi. Jam sudah menuju ke angka sembilan. Dengan pikiran yang berkecamuk, aku memutuskan duduk sebentar. Di sebuah trotoar pinggir jembatan, aku membuka ponsel sekali lagi. Hatiku bergumam, "Apakah hari ini terakhir kalinya aku melihat dunia?" Setelah meyakinkan diri, aku beranjak. Kembali menyusuri jalanan kosong. Tepian jembatan yang sunyi, hanya ada suara hati dan pikirannya. Dari kejauhan, terlihat pantulan cahaya rembulan di luasnya sungai yang malu-malu menunjukkan sinar sabitnya.  "Cahaya yang indah." Dalam hati bergumam.  Aku akan dilumat oleh pantulan cah...

Kosong (2)

Aku tidak berjanji untuk menuliskan kalimat indah malam ini. Memaksakan untuk menulis. Tak ada jiwa yang menyertainya. Perempuan dewasa, yang umurnya menjelang dua puluh empat tahun itu masih seperti anak kecil. Menangis sepanjang hari, merengek kepada ibunya, enggan makan apabila tidak disuapi, dan masih belum bisa mengerti bagaimana suasana hatinya. Pengalaman panjang yang membuatnya terbentuk menjadi sekarang. Tidak suka keramaian, mencintai kesendirian. Duduk sendiri di tengah keramaian tak lantas membuatnya takut. Musabab tiada seorang pun yang mengenalnya. Berkali-kali ia ingin menyudahi perjalanan rumit ini. Memilih putar balik, meski waktu tak memberinya kesempatan. Bisakah kali ini waktu berpihak padanya? Hidupnya selalu menyakiti orang sekitarnya. Menjadikan mereka lemah, tak berdaya dengan luka-luka yang perempuan itu berikan. Namun, mengapa mereka diam saja di sekitar perempuan itu? Tak lantas mencari perlindungan atau bersembunyi dari serangan mematikan? Apakah ia membiark...

Masih Hidup

Normalnya, manusia bekerja 8-10 jam sehari. Tapi, sepertinya sebagian besar manusia juga melakukan hal anomali dengan menghabiskan hampir 16 jam waktunya untuk bekerja, dan hanya tiga sampai empat jam waktu untuk tidur. Aku, mungkin bagian dari sebagian besar manusia anomali tersebut. Menghabiskan waktu matahari yang terik hingga tenggelam, hanya di depan laptop sembari mengerjakan banyak hal. Tapi, tak lantas kusebut sebagai produktif. Mungkin itu yang membedakanku dengan manusia lainnya. Terkadang, tak satupun pekerjaanku yang selesai meski waktu sudah kuhabiskan tiga perempat hari, hanya untuk mengamati layar laptop. Seperti kosong. Ia hanya ingin tetap hidup, seperti manusia pada umumnya. Walaupun entah apa yang ia lakukan. Hampa. Kosong. Tidak tau dengan inginnya. Ataukah, barangkali yang ia inginkan tak kunjung didapatkan? Tidak ada waktu mengeluh. Sudah waktunya terus berjalan, melakukan apapun yang bisa mengalihkan pikiran-pikiran buruk. Walaupun sesekali mesti mengusap wajah s...