Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...
Beberapa bulan setelah momen itu, pelan-pelan aku mulai membuka diri. Menerima kebaikan-kebaikan di sekitarku tanpa merasa adanya ancaman. Ketakutanku masih ada, sangat ada. Tetapi ia kukubur dalam-dalam agar tak menghantui. Aku salah. Nyatanya ketakutan itu tetap bergentayang, dengan wujud lain. Membentuk sebuah trauma besar yang nyata. Ketakutan ditinggalkan, ketakutan hal-hal bahagia hanya berangsur sementara, ketakutan akan dunia yang tak selamanya ada di pihakku. Aku tahu aku kenapa. Aku tahu ada yang salah pada diriku. Aku tahu aku tidak baik-baik saja. Aku tahu. Sab, 8 Agustus 2026 -slm