Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...
Postingan terbaru
Bahkan aku tidak tau bagaimana men- desk ripsikan perasaan gila gila gila gila ini.   terlalu kompleks isi kepalaku dan jiwaku  seperti kosong melompong.   aku kehil angan diriku. 

Sebuah Percobaan yang Gagal

Malam itu, langkahku terasa berat. Sesak di dada sudah menjalar hingga kepala. Riuhnya membuatku diam, tak lagi bersuara. Perut yang semula tak tahu apa-apa, tiba-tiba bergejolak marah. Sekujur tubuh ikut merasakan bagaimana sakit yang kurasakan saat itu. Aku tidak tahu bagaimana meredamkan sakit itu. "Apakah ini sudah saatnya?" Tanyaku kepada hati. Kaki berjalan gontai, menyusuri jalan yang kian sepi. Jam sudah menuju ke angka sembilan. Dengan pikiran yang berkecamuk, aku memutuskan duduk sebentar. Di sebuah trotoar pinggir jembatan, aku membuka ponsel sekali lagi. Hatiku bergumam, "Apakah hari ini terakhir kalinya aku melihat dunia?" Setelah meyakinkan diri, aku beranjak. Kembali menyusuri jalanan kosong. Tepian jembatan yang sunyi, hanya ada suara hati dan pikirannya. Dari kejauhan, terlihat pantulan cahaya rembulan di luasnya sungai yang malu-malu menunjukkan sinar sabitnya.  "Cahaya yang indah." Dalam hati bergumam.  Aku akan dilumat oleh pantulan cah...

Kosong (2)

Aku tidak berjanji untuk menuliskan kalimat indah malam ini. Memaksakan untuk menulis. Tak ada jiwa yang menyertainya. Perempuan dewasa, yang umurnya menjelang dua puluh empat tahun itu masih seperti anak kecil. Menangis sepanjang hari, merengek kepada ibunya, enggan makan apabila tidak disuapi, dan masih belum bisa mengerti bagaimana suasana hatinya. Pengalaman panjang yang membuatnya terbentuk menjadi sekarang. Tidak suka keramaian, mencintai kesendirian. Duduk sendiri di tengah keramaian tak lantas membuatnya takut. Musabab tiada seorang pun yang mengenalnya. Berkali-kali ia ingin menyudahi perjalanan rumit ini. Memilih putar balik, meski waktu tak memberinya kesempatan. Bisakah kali ini waktu berpihak padanya? Hidupnya selalu menyakiti orang sekitarnya. Menjadikan mereka lemah, tak berdaya dengan luka-luka yang perempuan itu berikan. Namun, mengapa mereka diam saja di sekitar perempuan itu? Tak lantas mencari perlindungan atau bersembunyi dari serangan mematikan? Apakah ia membiark...

Masih Hidup

Normalnya, manusia bekerja 8-10 jam sehari. Tapi, sepertinya sebagian besar manusia juga melakukan hal anomali dengan menghabiskan hampir 16 jam waktunya untuk bekerja, dan hanya tiga sampai empat jam waktu untuk tidur. Aku, mungkin bagian dari sebagian besar manusia anomali tersebut. Menghabiskan waktu matahari yang terik hingga tenggelam, hanya di depan laptop sembari mengerjakan banyak hal. Tapi, tak lantas kusebut sebagai produktif. Mungkin itu yang membedakanku dengan manusia lainnya. Terkadang, tak satupun pekerjaanku yang selesai meski waktu sudah kuhabiskan tiga perempat hari, hanya untuk mengamati layar laptop. Seperti kosong. Ia hanya ingin tetap hidup, seperti manusia pada umumnya. Walaupun entah apa yang ia lakukan. Hampa. Kosong. Tidak tau dengan inginnya. Ataukah, barangkali yang ia inginkan tak kunjung didapatkan? Tidak ada waktu mengeluh. Sudah waktunya terus berjalan, melakukan apapun yang bisa mengalihkan pikiran-pikiran buruk. Walaupun sesekali mesti mengusap wajah s...

Hiduplah Sehari Lagi, dan Sehari Lagi

Barangkali, tidak ada pilihan lain selain... Tetap hidup. Mungkin, menjadi tetap hidup adalah satu-satunya cara paling efektif tatkala merasa takut dengan api neraka, takut meninggalkan dunia dengan cara paksa, takut meninggalkan orang-orang yang sedih karena kepergianku. Aku percaya, dari banyaknya orang tidak peduli dengan keberadaanku, masih ada satu atau dua orang yang bersyukur aku ada. Setidaknya, meski hanya satu atau dua orang. Kadang merasa tidak berguna dalam hidup. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, mati sama saja tak bergunanya. Ada satu kekurangan dari mengakhiri hidup secara paksa, yakni membuat orang-orang yang menyayangiku bersedih. Tak apalah tetap hidup, setidaknya hanya untuk membuat beberapa orang tetap tersenyum. Sebab, mati pun masih akan menyusahkan. Harus membiayai pemakamanku, pengajian, dan lain sebagainya. Aku masih ingin menggunakan waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk memohon ampun. Aku tahu, sisi positifku biasanya tidak bertahan lama. Hanya 2-3 hari saja....

Berantakan

Sudah lama tidak menulis. Aku memaksakan diri membuka halaman blog, meski hanya sekadar mengetik beberapa kalimat. Tidak ada kalimat motivasi yang ingin kubagi. Hari ini hanya ingin menerima ruwetnya benang di kepalaku. Merasa sudah berusaha, tapi tak kunjung mendapatkan hasil. Takdir seperti tidak berpihak padaku. Sejak kecil, sudah susah. Sampai dewasa tetap susah. Dikejar umur orang tua yang kian menua, dikejar target menikah yang semakin dekat, tapi aku belum jadi apa-apa. Mimpiku banyak, tapi seperti cuma jadi mimpi. Umur produktif, tapi tidak mampu memberikan dampak apapun. Tak layak diberikan kebahagiaan, sebab kapasitasnya belum cukup untuk menerimanya. Merasa diri tak layak menjadi pasangan siapapun, sebab masih berantakan. Sebagai anak pun, belum bisa sepenuhnya berbakti. Konflik dengan kondisi rumah tak pernah menemui ujung. Setiap hari membuat orang sekitarku merasa terbebani sebab harus menghadapi sisi "Salma yang lain" ketika pikirannya semrawut. Tidak bisa tidu...