Malam itu, langkahku terasa berat. Sesak di dada sudah menjalar hingga kepala. Riuhnya membuatku diam, tak lagi bersuara. Perut yang semula tak tahu apa-apa, tiba-tiba bergejolak marah. Sekujur tubuh ikut merasakan bagaimana sakit yang kurasakan saat itu. Aku tidak tahu bagaimana meredamkan sakit itu. "Apakah ini sudah saatnya?" Tanyaku kepada hati. Kaki berjalan gontai, menyusuri jalan yang kian sepi. Jam sudah menuju ke angka sembilan. Dengan pikiran yang berkecamuk, aku memutuskan duduk sebentar. Di sebuah trotoar pinggir jembatan, aku membuka ponsel sekali lagi. Hatiku bergumam, "Apakah hari ini terakhir kalinya aku melihat dunia?" Setelah meyakinkan diri, aku beranjak. Kembali menyusuri jalanan kosong. Tepian jembatan yang sunyi, hanya ada suara hati dan pikirannya. Dari kejauhan, terlihat pantulan cahaya rembulan di luasnya sungai yang malu-malu menunjukkan sinar sabitnya. "Cahaya yang indah." Dalam hati bergumam. Aku akan dilumat oleh pantulan cah...