Langsung ke konten utama

Sebuah Percobaan yang Gagal

Malam itu, langkahku terasa berat. Sesak di dada sudah menjalar hingga kepala. Riuhnya membuatku diam, tak lagi bersuara. Perut yang semula tak tahu apa-apa, tiba-tiba bergejolak marah. Sekujur tubuh ikut merasakan bagaimana sakit yang kurasakan saat itu.

Aku tidak tahu bagaimana meredamkan sakit itu.

"Apakah ini sudah saatnya?" Tanyaku kepada hati.

Kaki berjalan gontai, menyusuri jalan yang kian sepi. Jam sudah menuju ke angka sembilan. Dengan pikiran yang berkecamuk, aku memutuskan duduk sebentar. Di sebuah trotoar pinggir jembatan, aku membuka ponsel sekali lagi. Hatiku bergumam, "Apakah hari ini terakhir kalinya aku melihat dunia?"

Setelah meyakinkan diri, aku beranjak. Kembali menyusuri jalanan kosong. Tepian jembatan yang sunyi, hanya ada suara hati dan pikirannya. Dari kejauhan, terlihat pantulan cahaya rembulan di luasnya sungai yang malu-malu menunjukkan sinar sabitnya. 

"Cahaya yang indah." Dalam hati bergumam. 

Aku akan dilumat oleh pantulan cahaya itu. Sebentar lagi. 

Kulihat bagaimana tingginya jembatan ini, membuat nyaliku sedikit ciut. Aku ingin mencoba untuk berteriak sekali saja untuk mengeluarkan amarah di dada. Apabila aku sudah lega, aku tidak perlu memutuskan lompat dari ketinggian itu. 

Belum sempat melakukan aksi apapun, dua orang perempuan seumuranku berhenti tepat di belakangku. Menarik tanganku, lalu berujar, "Mbak, ngapain? Kenapa nangis? Ayo aku antar pulang,"

Aku menoleh, ah ternyata aksiku diketahui orang lain.

"Saya gapapa mbak," Jawabku sekenanya. 

Jawabanku tentu tak mampu meyakinkan orang lain. Sebab kondisi tubuhku saat ini, serta air mata tak mampu membohongi pertanyaan itu.

"Nggak mbak, rumahnya dimana? Saya antar pulang ya." Ia menimpali lagi.

Aku kembali menggeleng, lalu berusaha melepaskan cengkraman di pergelangan tanganku.

Tidak lama kemudian, satu motor lagi, yang dikendarai oleh ibu-ibu juga menepi ke arahku. Ibu-ibu itu menanyakan hal yang sama seperti mbak-mbak yang menarik tanganku tadi. 

Aku tak bisa melanjutkan aksiku. Sementara ini, aku harus mengurungkan niatku untuk pergi dari dunia ini.

Setelah meyakinkan orang-orang itu bahwa aku baik-baik saja, aku berjalan kaki, menjauhi arah jembatan. Tidak tahu hendak berbuat apa. Aku duduk di pinggir jalan, sembari menangis, dan pikiran yang tak beraturan. 

Setidaknya, aku masih diberi kesempatan hidup. Entah untuk apa. Entah apakah sanggup untuk terus hidup. Setidaknya, untuk hari ini aku masih bisa menuliskan cerita gilaku. Percobaan mengakhiri hidup, yang ternyata gagal. 



Madiun, 28 Sept 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".   Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya.    Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya tit...