Langsung ke konten utama

Masih Hidup

Normalnya, manusia bekerja 8-10 jam sehari. Tapi, sepertinya sebagian besar manusia juga melakukan hal anomali dengan menghabiskan hampir 16 jam waktunya untuk bekerja, dan hanya tiga sampai empat jam waktu untuk tidur. Aku, mungkin bagian dari sebagian besar manusia anomali tersebut. Menghabiskan waktu matahari yang terik hingga tenggelam, hanya di depan laptop sembari mengerjakan banyak hal. Tapi, tak lantas kusebut sebagai produktif. Mungkin itu yang membedakanku dengan manusia lainnya. Terkadang, tak satupun pekerjaanku yang selesai meski waktu sudah kuhabiskan tiga perempat hari, hanya untuk mengamati layar laptop.

Seperti kosong. Ia hanya ingin tetap hidup, seperti manusia pada umumnya. Walaupun entah apa yang ia lakukan. Hampa. Kosong. Tidak tau dengan inginnya. Ataukah, barangkali yang ia inginkan tak kunjung didapatkan?

Tidak ada waktu mengeluh. Sudah waktunya terus berjalan, melakukan apapun yang bisa mengalihkan pikiran-pikiran buruk. Walaupun sesekali mesti mengusap wajah secara kasar, atau menghela napas panjang, atau bejibaku dengan napas yang kerap kali menyesakkan rongga dada. 

Kalimat menenangkan rasanya sudah tidak berguna. Persetan dengan kata-kata manis. Realita hidup tidak semanis kata-kata pujangga. Realita hidup tak semudah kalimat filsuf. Realita hidup tak semudah ceramah pemuka agama. Realita hidup tak seindah skenario sebuah film.

Sudah waktunya tetap hidup, dengan sisa tenaga yang ada. Dengan kekuatan yang tersisa. Dengan napas yang sepenggal. Yang penting tetap hidup.

 

Madiun, 11 Agustus 2025

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merefleksikan Pertemuan

 "Aku tau bagaimana ada di posisimu, pasti memerlukan waktu yang cukup lama untuk benar-benar lupa," Ujar salah seorang temanku. Tak dipungkiri, menyingkirkan perasaan cinta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, izinkan aku untuk terus berusaha. Hingga kemudian Tuhan berkata, "Kulapangkan dadamu, Kujadikan ikhlas hatimu." Walaupun tidak tahu kapan itu akan terjadi. Pertemuan malam ini, ketika kita rekan satu kelas kembali bercengkrama. Membahas kondisi terkini, atau sejenak memelihara memori empat tahun silam.  Topik obrolan kita tak jauh perihal masa lalu. Aku kembali memanggil memori itu, lagi. Tak terkecuali tentangmu. Tiga bulan, kesibukan tak lantas melepaskanmu dari ingatan. Aku tidak tahu jenis kenangan seperti apa yang lantas membuatku tak kunjung melupakanmu. Kita hanya bercengkrama melalui pesan singkat, saling mencuri pandang saat bertemu, berkabar melalui telepon. Kita tak pernah saling memeluk, ataupun menggenggam tangan. Kita tak benar-b...

Januari

Januari, misteri. Banyak tawa menghiasi permulaan tahun. pun air mata sebab jiwa dan raga seorang Salma terus menerus bertarung dengan adaptasi di tempat baru, teman baru, kondisi yang baru. Januari, dimana workload bekerja sedang berkurang, walau tak lantas kosong melompong. Banyak hal baru yang harus segera dimengerti.  Januari, kembali memilih asing. Seseorang yang selalu kuceritakan kepadamu tiba-tiba datang lagi tanpa diminta. Padahal berkali kali kuminta pada Tuhan untuk ikhlaskan hati menerima kenyataan. Bahwa saat itu aku, kita saling meninggalkan. Ternyata aku belum siap menghadapi hal-hal besar lainnya. Kembali, aku memilih jalan untuk asing. Memberi jarak agar kita bertumbuh. Januari, toilet kantor menjadi tempat favorit kedua setelah kamar kostku. Dimana aku bisa melepas pusing, penat, emosi. Kala pekerjaan sudah semakin berat, aku memilih duduk sejenak di toilet untuk menghela napas. Terima kasih toilet, setidaknya aku tidak harus bergabung pada manusia tatkala merasa ...

Gadis di Kedai kopi

Entah sudah seberapa parah penyakit lambung yang ia derita. Rupanya itu tak membuatnya semakin menyanyangi lambungnya. Kebiasaan minum kopi dan makan pedas sudah mendarah daging. Tak lantas menjadikannya kedai kopi sebagai tempat terlarang, atau menghirup aroma kopi sebagai sesuatu yang dicegah. Kini ia tetap disini, menyantap segelas kopi susu seperti biasa. Kadangkala ia mencoba caramel machiatto, atau capuccino. Akan tetapi, kopi susu gula aren menjadi comfort coffee yang masih menjadi andalan. Sebab aroma kopi sama nikmatnya dengan perasaan kepadamu yang tak pernah mati. Sebab sakit lambung yang kuderita masih lebih baik daripada sakit ditinggalkan olehmu. Sebab duduk bersamamu di kedai kopi masih menjadi anganku yang selalu kurapalkan setiap hari. Gadis di kedai kopi yang duduk di ujung kursi. Sembari menatap jendela dengan pucat pasi. Alangkah malang nasibnya saat ini. -salma Madiun, 21 Mei 2024