Langsung ke konten utama

Berantakan

Sudah lama tidak menulis. Aku memaksakan diri membuka halaman blog, meski hanya sekadar mengetik beberapa kalimat. Tidak ada kalimat motivasi yang ingin kubagi. Hari ini hanya ingin menerima ruwetnya benang di kepalaku.

Merasa sudah berusaha, tapi tak kunjung mendapatkan hasil.

Takdir seperti tidak berpihak padaku. Sejak kecil, sudah susah. Sampai dewasa tetap susah.

Dikejar umur orang tua yang kian menua, dikejar target menikah yang semakin dekat, tapi aku belum jadi apa-apa.

Mimpiku banyak, tapi seperti cuma jadi mimpi.

Umur produktif, tapi tidak mampu memberikan dampak apapun.

Tak layak diberikan kebahagiaan, sebab kapasitasnya belum cukup untuk menerimanya.

Merasa diri tak layak menjadi pasangan siapapun, sebab masih berantakan.

Sebagai anak pun, belum bisa sepenuhnya berbakti.

Konflik dengan kondisi rumah tak pernah menemui ujung.

Setiap hari membuat orang sekitarku merasa terbebani sebab harus menghadapi sisi "Salma yang lain" ketika pikirannya semrawut.

Tidak bisa tidur sesuai jamnya, sebab pikirannya lebih aktif di malam hari.

Menikah dan punya keluarga kecil bahagia seperti hanya angan-angan semu.

Hidup sejahtera, punya tabungan cukup, slow living, bisa bangun rumah, pergi umroh, semua hanyalah harapan kosong.

Langkah saat ini tidak tahu arah.

Sempat terpikir ingin melenyapkan diri.

Tapi masih memikirkan bagaimana kondisi orang tua dan tanggung jawab yang kutinggalkan di dunia.

Takut masuk neraka.

Masih banyak dosa.

Dan saat tiba-tiba susah bernapas, jadi teringat kalau di akhirat urusannya bakal lebih panjang.

Ternyata pergi sebelum dipanggil justru menambah masalah.

 

Alhamdulillah hari ini masih hidup. Semoga besok masih hidup juga ya sal.

 

Madiun, 6 Agustus 2025

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...