Barangkali, tidak ada pilihan lain selain...
Tetap hidup.
Mungkin, menjadi tetap hidup adalah satu-satunya cara paling efektif tatkala merasa takut dengan api neraka, takut meninggalkan dunia dengan cara paksa, takut meninggalkan orang-orang yang sedih karena kepergianku. Aku percaya, dari banyaknya orang tidak peduli dengan keberadaanku, masih ada satu atau dua orang yang bersyukur aku ada. Setidaknya, meski hanya satu atau dua orang.
Kadang merasa tidak berguna dalam hidup. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, mati sama saja tak bergunanya. Ada satu kekurangan dari mengakhiri hidup secara paksa, yakni membuat orang-orang yang menyayangiku bersedih. Tak apalah tetap hidup, setidaknya hanya untuk membuat beberapa orang tetap tersenyum. Sebab, mati pun masih akan menyusahkan. Harus membiayai pemakamanku, pengajian, dan lain sebagainya. Aku masih ingin menggunakan waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk memohon ampun.
Aku tahu, sisi positifku biasanya tidak bertahan lama. Hanya 2-3 hari saja. Walaupun demikian, aku tetap ingin memanfaatkan waktu itu untuk hal baik. Mengikuti webinar untuk me-refresh pola pikir, join bisnis mentor, menyelesaikan pekerjaan, apply beberapa pekerjaan, membuat stok konten dari sebuah akun yang ingin kujadikan reminder setiap hari, dan menulis blog ini. Meski banyak to do list yang tidak tercentang, seperti menyelesaikan course data analyst yang sejak bulan lalu sudah mangkrak, mendengarkan kajian, ataupun jogging di pagi atau sore hari. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuperbaiki di bulan ini. Tapi tak apalah satu persatu, sedikit demi sedikit ya.
Sedang belajar tidak memikirkan tercapai atau tidaknya tujuan-tujuan besarku itu. Hidup dalam tujuan secara strict cukup membuatku burn out. Saat ini hanya memikirkan bagaimana caranya aku tetap hidup sehari lagi, kemudian sehari lagi, sehari lagi, dan seterusnya. Tak apa kan aku menjadi seperti ini? Kalaupun salah, nanti coba kuevaluasi lagi caraku.
Madiun, 7 Agustus 2025
-sal
Komentar
Posting Komentar