Langsung ke konten utama

Menjadi Sendiri

Terkadang, memilih sendiri bukan berarti sepi. Memilih sendiri bukan berarti sunyi. Memilih sendiri, kadangkala menjadi hal paling diperlu, karena hiruk pikuk dunia sudah mulai berkecamuk. Ketenangan menjadi mahal. Menikmati pergantian detik menjadi langka. Seolah waktu lekas bergulir tanpa dirasa. Ketenangan harus rela dibayar percuma oleh kesibukan. 

Bercengkrama pada diri sendiri tak lagi sering. Menyapa diri sendiri seolah acuh tak acuh. Padahal, diri perlu disapa, walau hanya bertanya "bagaimana kabarmu hari ini?".

 Sudah beribu langkah sejauh ini. ah, tak usah muluk-muluk memikirkan begitu banyak langkah selama 2 dasawarsa ini. Cukup tengok jejak kemarin, yang masih membekas tiap replikanya. Menuju jalan dimana kamu berdiri sekarang. dan hari ini bahumu masih kokoh seperti kemarin. Senyummu kian mengembang tanda kebahagiaan. Padahal, bebanmu semakin bertambah. Untung saja diri ini buatan Tuhan, kalau saja buatan C**a pasti remuk sedari dulu.

Ujian ke depannya bukan lagi soal penjumlahan perkalian, tapi analisis kehidupan yang semakin nyata. Kelak, kamu akan menemukan, ujian yang begitu menjemukan. Tapi aku yakin, bahumu akan semakin kokoh. Maka, bertahanlah! Ciptaan Tuhan lebih kuat dari apapun. Kamu harus bangga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...