Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan.
Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya.
Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, waktu yang tidak sebentar untuk berdamai dengan keadaan, membunuh rindu yang tak kunjung mati. Ternyata memang perjalanan ini sungguh panjang. Melelahkan, dan kadang membuat ingin menyerah. Tapi malam itu, aku melihat cahaya baru, yang menjadikanku lebih kuat dari sebelumnya.
Aku benci meromantisasi pertemuan, musabab tiada yang tahu apakah itu akan menjadi yang terakhir, atau menjadi awal untuk perjalanan baru. Aku benci meromantisasi kenangan, sebab tanpa romantisasipun, aku sudah pernah hancur dengan kenangan-kenangan itu. Bagaimana apabila kenangan itu semakin mengakar hebat di dalam pikiran? Tidak tahu lagi bagaimana mengumpulkan serpihan-serpihan yang sudah hancur itu.
Tiada yang tahu bagaimana perjalanan setelah ini, selain memilih terus melaju, mencari jalan keluar dari segala pertanyaan. Semoga aku melangkah dengan orang yang tepat, dan ia adalah orang yang pertama dan terakhir menemani langkahku.
-slm
Minggu, 6 Juli 2025
Komentar
Posting Komentar