Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang tak seberapa itu.
Aku yakin ada jalan lain selain ini. Ada jalan lain untuk menuju apa-apa yang aku semogakan.
"... Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu dan (beralihlah) kepada sesuatu yang tidak meragukan kamu." (HR. Tirmizi dan Nasa’i).
Barangkali begitulah bunyinya. Setelah menimbang-nimbang, rupanya banyak mudhorot yang timbul jika memilih tawaran pekerjaan tersebut. Aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah, tapi aku tetap memilih sesuatu yang kuyakini. Sebab, apabila ragu untuk melangkah, bagiku lebih baik tidak dilanjutkan. Ragu yang kumaksud adalah keraguan yang timbul atas dasar pertimbangan yang logis, bukan serta merta mengikuti perasaan dan intuisi.
Aku jadi teringat sesuatu. Tatkala aku dihadapkan pilihan untuk mengambil beasiswa fasttrack lanjut S2 langsung dan memulai perkuliahan pasca sarjana saat semester 7 di kuliah S1. Peluang di depan mata, gratis, mudah. Tapi aku memilih menolak. Karena saat itu aku tahu bahwa aku ingin menjadi praktisi, sehingga ingin memperoleh pengalaman bekerja terlebih dahulu. Walaupun ada peluang menggiurkan lain, tapi aku memilih menolak. Bukan itu tidak baik, tapi pada saat itu, keputusan langsung lanjut S2 bukan merupakan step yang menuju ke tujuan utamaku. Mungkin, opsi kuliah S2 akan aku pikirkan kembali setelah beberapa tahun lulus S1. Aku ingin mencari "why"-nya sebelum mengambil keputusan. Tidak hanya mengikuti standar yang biasanya berlaku secara umum.
Tidak tahu apakah saat ini aku benar atau salah, tapi setidaknya aku berani mengambil keputusan beserta konsekuensi dari keputusanku. Itulah manusia dewasa. Semoga Allah berikan petunjuk dan kebaikan dari keputusan-keputusanku.
-slm
Madiun, 27 Juli 2025
Komentar
Posting Komentar