Langsung ke konten utama

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik. 

Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang tak seberapa itu.

Aku yakin ada jalan lain selain ini. Ada jalan lain untuk menuju apa-apa yang aku semogakan.

"... Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan kamu dan (beralihlah) kepada sesuatu yang tidak meragukan kamu." (HR. Tirmizi dan Nasa’i). 

 Barangkali begitulah bunyinya. Setelah menimbang-nimbang, rupanya banyak mudhorot yang timbul jika memilih tawaran pekerjaan tersebut. Aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau salah, tapi aku tetap memilih sesuatu yang kuyakini. Sebab, apabila ragu untuk melangkah, bagiku lebih baik tidak dilanjutkan. Ragu yang kumaksud adalah keraguan yang timbul atas dasar pertimbangan yang logis, bukan serta merta mengikuti perasaan dan intuisi.

Aku jadi teringat sesuatu. Tatkala aku dihadapkan pilihan untuk mengambil beasiswa fasttrack lanjut S2 langsung dan memulai perkuliahan pasca sarjana saat semester 7 di kuliah S1. Peluang di depan mata, gratis, mudah. Tapi aku memilih menolak. Karena saat itu aku tahu bahwa aku ingin menjadi praktisi, sehingga ingin memperoleh pengalaman bekerja terlebih dahulu. Walaupun ada peluang menggiurkan lain, tapi aku memilih menolak. Bukan itu tidak baik, tapi pada saat itu, keputusan langsung lanjut S2 bukan merupakan step yang menuju ke tujuan utamaku. Mungkin, opsi kuliah S2 akan aku pikirkan kembali setelah beberapa tahun lulus S1. Aku ingin mencari "why"-nya sebelum mengambil keputusan. Tidak hanya mengikuti standar yang biasanya berlaku secara umum. 

Tidak tahu apakah saat ini aku benar atau salah, tapi setidaknya aku berani mengambil keputusan beserta konsekuensi dari keputusanku. Itulah manusia dewasa. Semoga Allah berikan petunjuk dan kebaikan dari keputusan-keputusanku.

 

-slm

Madiun, 27 Juli 2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...