Langsung ke konten utama

Kehilangan

Jumat malam, 14 Agustus 2026 aku kehilangan makhluk yang sangat kusayangi, kucingku Firdaus. Sejak lebaran idul fitri, nafsu makannya berkurang meskipun masih tetap mau makan. Sejak kutinggal ke luar kota, kondisinya terus menurun. Tidak selincah dan seaktif biasanya. Aku tidak menyangka bahwa Firdaus dalam kondisi tidak baik-baik saja. Ditambah lagi aku harus menempuh pendidikan selama 1,5 bulan dengan kondisi minim ponsel dan komunikasi. Aku jarang menanyakan tentang kabarnya. 

 Tanggal 2 Agustus 2026, aku tiba di rumah kembali. Melihat kondisi Firdaus yang ternyata jauh berbeda dibandingkan bulan Mei terakhir aku di rumah. Tubuhnya semakin kurus, bulunya mulai gimbal tak terurus. Kemudian, aku dan ibu membawanya ke dokter hewan untuk diperiksa. Ia masih bisa mengeong tapi tak selincah biasanya. Kata dokter, hanya pilek biasa. Setelah itu, ibu merawatnya dengan memberikan obat dan menyuapi makanan, sebab Firdaus enggan makan.

Hari demi hari kondisinya semakin menurun. Tidak tau apa penyebabnya. Puncaknya, ketika tanggal 14 Agustus 2026 pagi-pagi mengeong kesakitan. Aku dan ibu lantas membawanya ke dokter hewan yang memiliki kualitas lebih baik daripada sebelumnya. Ternyata Firdaus tidak bisa kencing. Kondisi ginjal menurun, pilek menahun, kemampuan syaraf berkurang, kemampuan untuk mengeluarkan kotoran juga berkurang. Sudah sangat parah. 

Dokter memberikan penanganan yang terbaik dan menyarankan untuk membawa Firdaus pulang ke rumah dan dirawat di rumah. Perasaanku sudah semakin tak enak. Di rumah, kondisinya semakin menurun. Nafasnya terengah-engah dan tak mampu menelan makanan maupun minuman. 

Tepat di malam hari, sekitar pukul 9 malam, Firdaus menghembuskan napas terakhirnya di depanku. Aku terus mengelus-elus hingga akhir hembusan napasnya sembari berdo'a. 

Rasanya masih terus tidak percaya. Bahwa aku ditinggalkan makhluk setia yang sudah mendampingi proses hidupku selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Makhluk yang selalu setia mengganggu waktu-waktu belajarku, tidur di sajadah ketika aku hendak beribadah, menggigit lenganku, menggigit kakiku, menjambak rambutku ketika tidur. Firdaus, maafkan aku ya kalau belum maksimal merawatmu. Maafkan segala kekuranganku dalam merawatmu ya. Semoga kita bertemu lagi di Surga-Nya ya. Mbak Salma rindu sekali dengan Firdaus.

 

Sel, 18 Agustus 2026

- slm 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...

Sedikit Ungkapan

Beberapa bulan setelah momen itu, pelan-pelan aku mulai membuka diri. Menerima kebaikan-kebaikan di sekitarku tanpa merasa adanya ancaman. Ketakutanku masih ada, sangat ada. Tetapi ia kukubur dalam-dalam agar tak menghantui. Aku salah. Nyatanya ketakutan itu tetap bergentayang, dengan wujud lain. Membentuk sebuah trauma besar yang nyata.  Ketakutan ditinggalkan, ketakutan hal-hal bahagia hanya berangsur sementara, ketakutan akan dunia yang tak selamanya ada di pihakku. Aku tahu aku kenapa. Aku tahu ada yang salah pada diriku. Aku tahu aku tidak baik-baik saja.  Aku tahu. Sab, 8 Agustus 2026 -slm