Langsung ke konten utama

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah.

Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua.

Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayangkan, kalau terjebak di kondisi bak neraka, apa yang bisa dilakukan? Opsi berpisah bukanlah opsi yang diinginkan. Oleh karena itu, sangat diperkenankan untuk berhati-hati dalam pengambilan keputusan.

Menikah, itu seperti judi. Menurutku, itu tidak salah, tapi juga tidak benar. Apabila judi hanya mengandalkan ketidakpastian tanpa data, menikah bisa diputuskan dengan beberapa data pendukung sebelum mengambil keputusan. Judi tidak dengan ilmu yang haq, sedangkan menikah bisa dipertimbangkan dengan ilmu yang haq. Persamaan antara menikah dengan berjudi hanya satu menurutku, yaitu hasil keputusannya. Kita sama-sama buta dan tidak dapat meramal masa depan. Ketika memilih untuk menikah, hanya mengandalkan data yang dimiliki, keterbatasan ilmu, keterbatasan hubungan dengan Tuhan, dan seadanya bekal. Hanya semampu seorang manusia dalam pengendaliannya. Apakah pernikahan itu berhasil atau tidak, manusia tidak mampu lagi mengendalikan dan membuat hasilnya.  

Ditambah lagi, manusia itu dinamis. Orang yang kita temui saat ini, karakternya tentu tidak akan sama hingga sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan lima puluh tahun lagi. Manusia adalah makhluk dinamis yang akan terus bertumbuh dan berkembang. Kita tidak pernah tahu apakah manusia yang akan kita pilih sebagai pendamping hidup adalah manusia yang memiliki karakteristik sesuai dengan kita hingga puluhan tahun mendatang. 

Menikah, itu berisiko tinggi. Sangat. Tapi, kita hanya manusia biasa yang tidak akan mampu mengendalikan masa depan selain dengan usaha dan do'a. Semoga Allah swt senantiasa melindungi aku, kamu, kita semua dan memberikan pasangan terbaik yang memang Allah siapkan untuk kita.

 

-slm

Madiun, 10 Agustus 2026 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...