Langsung ke konten utama

Jatuh, Bangkit Lagi! Gagal, Coba Lagi!

Sore ini sangat menyejukkan indera perasaku
Perihal asa, yang menguar bersama rintik hujan
Membawanya bersama air, jatuh bebas di antara kepingan memori yang berserakan

Pernahkah kau merasakan titik terendah dalam hidupmu?
Dimana kau tak lagi memiliki daya dan upaya dalam meraih impian. Dimana kau tak lagi ada gairah kembali menata hidup. Dimana kau merasa menjadi seseorang tak berguna lagi.
Yang kau ngin hanya, "MATI"

Aku, pernah merasakan hal itu.

Beban-beban berat selama beberapa lama, begitu menggunung di pundakku. Kutahan selagi mampu. Kupikul kemanapun aku melangkah. Pada beberapa waktu, aku terlena oleh masa. Membuatku terkadang lupa dengan apa itu rasa berat, karena saking terbiasanya oleh beban. Hingga lupa kapan dan bagaimana rasanya beban itu.

Hingga tiba masanya,
Keadaan membuatku kembali merasakan beban yang menggunung itu.

Beban seorang pelajar
Tak lain tak bukan adalah belajar

Menjadi siswa yang dibanggakan sepertinya menyenangkan, bukan?
Menjadi siswa berprestasi sepertinya membanggakan, bukan?
Menjadi sosok idola yang digandrungi sepertinya hebat, bukan?

Ah, tidak selalu!
Kau tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya, yang tersimpan dalam hatinya

Dia ditekan di berbagai sudut.

Satu sisi, seseorang di sekitarnya selalu mengharapkan dia mendapat sesuatu yang lebih baik dan terus lebih baik tanpa peduli apa makna gagal di pertengahan.

"Kamu pasti bisa menang!
"Kamu sih, menang terus."
"Aku nggak akan meragukanmu."
"Alah, hal ini kecil untukmu."

Di sisi lain, benaknya mengatakan, "Jika aku tak bisa, maka aku akan mengecewakan harapan mereka."

Dan saat dia gagal. Orang lain kecewa, tak jarang ada juga yang mencibir.

"Kok tumben sih, gak menang?"
Pertanyaan santai, tapi menusuk.

"Biasanya kamu dapet nilai bagus. Kok sekarang enggak?"

"Eh, kenapa si dia bisa ngalahin kamu?"

Muak??
Tentu.
Seseorang sudah berusaha semampunya, dan orang lain dengan mudah mengatakan hal yang tak menyenangkan.


Jadi, menjadi seseorang yang terlihat "Sempurna" sekalipun tidaklah sepenuhnya menyenangkan. Mungkin, memang, kata orang "Rumput tetangga lebih hijau"
Namun tak pernah kah kau melihat dirimu sendiri?
Syukuri apa saja yang ada pada dirimu. Tidak perlu menginginkan hidup orang lain, tidak perlu mengharapkan diri seperti orang lain. Tidak selalu seseorang yang kau pandang sangat bahagia memiliki hidup yang seratus persen bahagia. Mereka juga memiliki kesedihan, mereka juga memiliki sebuah kekurangan.




Jalan sukses masing-masing orang berbeda. Maka jalanilah menggunakan jalan suksesmu, karena yang mengerti dirimu hanya dirimu.



Madiun, 15 Maret 2019




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...