Sore ini sangat menyejukkan indera perasaku
Perihal asa, yang menguar bersama rintik hujan
Membawanya bersama air, jatuh bebas di antara kepingan memori yang berserakan
Pernahkah kau merasakan titik terendah dalam hidupmu?
Dimana kau tak lagi memiliki daya dan upaya dalam meraih impian. Dimana kau tak lagi ada gairah kembali menata hidup. Dimana kau merasa menjadi seseorang tak berguna lagi.
Yang kau ngin hanya, "MATI"
Aku, pernah merasakan hal itu.
Beban-beban berat selama beberapa lama, begitu menggunung di pundakku. Kutahan selagi mampu. Kupikul kemanapun aku melangkah. Pada beberapa waktu, aku terlena oleh masa. Membuatku terkadang lupa dengan apa itu rasa berat, karena saking terbiasanya oleh beban. Hingga lupa kapan dan bagaimana rasanya beban itu.
Hingga tiba masanya,
Keadaan membuatku kembali merasakan beban yang menggunung itu.
Beban seorang pelajar
Tak lain tak bukan adalah belajar
Menjadi siswa yang dibanggakan sepertinya menyenangkan, bukan?
Menjadi siswa berprestasi sepertinya membanggakan, bukan?
Menjadi sosok idola yang digandrungi sepertinya hebat, bukan?
Ah, tidak selalu!
Kau tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya, yang tersimpan dalam hatinya
Dia ditekan di berbagai sudut.
Satu sisi, seseorang di sekitarnya selalu mengharapkan dia mendapat sesuatu yang lebih baik dan terus lebih baik tanpa peduli apa makna gagal di pertengahan.
"Kamu pasti bisa menang!
"Kamu sih, menang terus."
"Aku nggak akan meragukanmu."
"Alah, hal ini kecil untukmu."
Di sisi lain, benaknya mengatakan, "Jika aku tak bisa, maka aku akan mengecewakan harapan mereka."
Dan saat dia gagal. Orang lain kecewa, tak jarang ada juga yang mencibir.
"Kok tumben sih, gak menang?"
Pertanyaan santai, tapi menusuk.
"Biasanya kamu dapet nilai bagus. Kok sekarang enggak?"
"Eh, kenapa si dia bisa ngalahin kamu?"
Muak??
Tentu.
Seseorang sudah berusaha semampunya, dan orang lain dengan mudah mengatakan hal yang tak menyenangkan.
Jadi, menjadi seseorang yang terlihat "Sempurna" sekalipun tidaklah sepenuhnya menyenangkan. Mungkin, memang, kata orang "Rumput tetangga lebih hijau"
Namun tak pernah kah kau melihat dirimu sendiri?
Syukuri apa saja yang ada pada dirimu. Tidak perlu menginginkan hidup orang lain, tidak perlu mengharapkan diri seperti orang lain. Tidak selalu seseorang yang kau pandang sangat bahagia memiliki hidup yang seratus persen bahagia. Mereka juga memiliki kesedihan, mereka juga memiliki sebuah kekurangan.
Jalan sukses masing-masing orang berbeda. Maka jalanilah menggunakan jalan suksesmu, karena yang mengerti dirimu hanya dirimu.
Madiun, 15 Maret 2019
Perihal asa, yang menguar bersama rintik hujan
Membawanya bersama air, jatuh bebas di antara kepingan memori yang berserakan
Pernahkah kau merasakan titik terendah dalam hidupmu?
Dimana kau tak lagi memiliki daya dan upaya dalam meraih impian. Dimana kau tak lagi ada gairah kembali menata hidup. Dimana kau merasa menjadi seseorang tak berguna lagi.
Yang kau ngin hanya, "MATI"
Aku, pernah merasakan hal itu.
Beban-beban berat selama beberapa lama, begitu menggunung di pundakku. Kutahan selagi mampu. Kupikul kemanapun aku melangkah. Pada beberapa waktu, aku terlena oleh masa. Membuatku terkadang lupa dengan apa itu rasa berat, karena saking terbiasanya oleh beban. Hingga lupa kapan dan bagaimana rasanya beban itu.
Hingga tiba masanya,
Keadaan membuatku kembali merasakan beban yang menggunung itu.
Beban seorang pelajar
Tak lain tak bukan adalah belajar
Menjadi siswa yang dibanggakan sepertinya menyenangkan, bukan?
Menjadi siswa berprestasi sepertinya membanggakan, bukan?
Menjadi sosok idola yang digandrungi sepertinya hebat, bukan?
Ah, tidak selalu!
Kau tak pernah tahu apa yang ada dibenaknya, yang tersimpan dalam hatinya
Dia ditekan di berbagai sudut.
Satu sisi, seseorang di sekitarnya selalu mengharapkan dia mendapat sesuatu yang lebih baik dan terus lebih baik tanpa peduli apa makna gagal di pertengahan.
"Kamu pasti bisa menang!
"Kamu sih, menang terus."
"Aku nggak akan meragukanmu."
"Alah, hal ini kecil untukmu."
Di sisi lain, benaknya mengatakan, "Jika aku tak bisa, maka aku akan mengecewakan harapan mereka."
Dan saat dia gagal. Orang lain kecewa, tak jarang ada juga yang mencibir.
"Kok tumben sih, gak menang?"
Pertanyaan santai, tapi menusuk.
"Biasanya kamu dapet nilai bagus. Kok sekarang enggak?"
"Eh, kenapa si dia bisa ngalahin kamu?"
Muak??
Tentu.
Seseorang sudah berusaha semampunya, dan orang lain dengan mudah mengatakan hal yang tak menyenangkan.
Jadi, menjadi seseorang yang terlihat "Sempurna" sekalipun tidaklah sepenuhnya menyenangkan. Mungkin, memang, kata orang "Rumput tetangga lebih hijau"
Namun tak pernah kah kau melihat dirimu sendiri?
Syukuri apa saja yang ada pada dirimu. Tidak perlu menginginkan hidup orang lain, tidak perlu mengharapkan diri seperti orang lain. Tidak selalu seseorang yang kau pandang sangat bahagia memiliki hidup yang seratus persen bahagia. Mereka juga memiliki kesedihan, mereka juga memiliki sebuah kekurangan.
Jalan sukses masing-masing orang berbeda. Maka jalanilah menggunakan jalan suksesmu, karena yang mengerti dirimu hanya dirimu.
Madiun, 15 Maret 2019
Komentar
Posting Komentar