Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan.
Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.
Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian serupa, yang memanggil memori yang telah lama tertinggal, menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Entah kemana kaki membawanya bermuara. Di lautan air mata, ataukah bahagia.
Lagi. Tahun baru tetap menjadi momok menakutkan. Tidak hanya tahun baru masehi, Ternyata tahun baru hijriyah pun sama saja. Semoga perjalanan ini tidak sia-sia. Aku sudah menghabiskan awal remajaku hingga tumbuh dewasa untuk seorang yang namanya tak pernah absen di setiap doaku, di keadaan paling menyakitkan sekalipun. Jikalau akhir ceritanya tetap menyakitkan, semoga Allah melindungiku dari rasa sakit dan terluka. Semoga apapun akhir ceritanya tetap membuatku tersenyum penuh ridha, ikhlas, legowo. Apapun keadaannya.
Hasbunnallah wani'mal wakiil. Ni'mal maula wani'mannashir.
Madiun, 28 Juni 2025
- slm
Komentar
Posting Komentar