Dear, Allah
Kutanya pada angin, mengapa seberisik ini?
Kutanya pada hujan, mengapa sederas ini?
Kutanya pada matahari, mengapa seterik ini?
Kutanya pada luka, mengapa kau tak nampak namun sesakit ini?
Dan, kutanya pada Engkau, mengapa hujan berkali-kali jatuh pada pipiku?
Hidup, ingin kukatakan bahwa sudah membosankan rasanya. Dunia dengan kerlap-kerlipnya begitu memanjakan setiap pasang mata. Namun, aku terlalu jenuh dengan semua itu. Terlihat indah, namun sia-sia.
Rasanya, tempatku mengeluh pun beranjak pergi karena memilih kilau dunia. Dia tak berpihak lagi padaku.
Rasanya, ingin berteriak memanggil sepi, karena hanya dia yang mampu menemaniku sekarang.
Kebisingan, menjadi musuh. Kebahagiaan, tak lagi berteman. Tergantikan dengan rasa sakit serta luka yang semakin membumi.
Dear, Allah
Kuatkan hatiku yang rapuh
Siramilah air ketenangan untuk gelisahnya hatiku
Gantilah air mataku ini dengan segenap bahagia nanti
Kuatkan aku
Kutanya pada angin, mengapa seberisik ini?
Kutanya pada hujan, mengapa sederas ini?
Kutanya pada matahari, mengapa seterik ini?
Kutanya pada luka, mengapa kau tak nampak namun sesakit ini?
Dan, kutanya pada Engkau, mengapa hujan berkali-kali jatuh pada pipiku?
Hidup, ingin kukatakan bahwa sudah membosankan rasanya. Dunia dengan kerlap-kerlipnya begitu memanjakan setiap pasang mata. Namun, aku terlalu jenuh dengan semua itu. Terlihat indah, namun sia-sia.
Rasanya, tempatku mengeluh pun beranjak pergi karena memilih kilau dunia. Dia tak berpihak lagi padaku.
Rasanya, ingin berteriak memanggil sepi, karena hanya dia yang mampu menemaniku sekarang.
Kebisingan, menjadi musuh. Kebahagiaan, tak lagi berteman. Tergantikan dengan rasa sakit serta luka yang semakin membumi.
Dear, Allah
Kuatkan hatiku yang rapuh
Siramilah air ketenangan untuk gelisahnya hatiku
Gantilah air mataku ini dengan segenap bahagia nanti
Kuatkan aku
Komentar
Posting Komentar