Langsung ke konten utama

ARAH LANGKAH

Ada sedih yang tergambar kala aku melihat sosokku sendiri. Terbang tinggi dalam angan bila kacamata khalayak memandang. Akan tetapi, tenggelam dalam lautan bila mataku sendiri yang menatap. Dibesarkan dengan ambisiusitas tinggi, dengan beragam persaingan, dan seringkali memenangkan. Membuat pola pikir seorang aku menjadi sedikit lebih kompetitif dibanding teman sebayaku. Angan-angan tinggi yang masih terawang tak karuan, berbetuk seperti apakah dia, namun mengapa jiwa seorang aku begitu menderu ingin segera meraih? Entahlah. Jiwanya sudah termakan harap yang tak ada ujung. 

Sosok itu kemudian telah tumbuh beranjak dewasa. Kini dikelilingi lingkungan yang sedikit berbeda dari masa kecilnya. Over kompetitif. Kuliah di perguruan tinggi yang nan jauh dari rumah membuat jiwa ambisiusnya meluntur sedikit demi sedikit. Dunianya yang dulu masih terkesan sempit dan ia masih begitu agung untuk menyerukan namanya dalam kemenangan. Kini, kemenangan tak hanya dapat diraih olehnya. Beribu jalan bisa dicapai siapapun. Pola pikirnya mulai berubah. 

Dimulai dari sinilah ceritanya baru saja dimulai. Harapan-harapan yang pernah dirancang mulai berguguran. Terselip ragu yang cukup besar di sela-sela percaya diri yang dulu pernah terbangun. Orang pintar ternyata tidak sedikit. 

Ada sebuah tembok besar yang membuatnya tiada berkembang. Diam dalam kata. Sunyi dalam pikir. Temaram dalam karam. Perihal arah langkah, jalan pikiran, kualitas bercanda yang seratus delapan puluh derajat  berbeda dari lingkungan sebelumnya. Ia hanya menjadi gadis kecil yang 'iya' saja tanpa pertentangan —di depan mereka. Dan menjadi penggagas cakap di dalam dirinya sendiri. Sebuah perbedaan besar atas dirinya yang dulu, keceriaan dan ribuan kata yang biasanya terlontar cepat meski dalam hitungan menit.

Tak pernah terpikirkan bahwa suatu hari akan datang kondisi sedemikian rupa. Terlilit oleh pikiran sendiri, bercengkrama oleh ketakutan. Sekarang, diam adalah pilihan. Berkarya dalam diam adalah jalan seorang aku. Dan aku harap, suatu hari aku dapat menyuarakan tulisanku. Suatu hari aku dapat mengatakan aku mampu. 


Untuk aku sendiri,

Tetap semangat meniti hidup!


-Slm/19/08/2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".   Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya.    Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya tit...