Langsung ke konten utama

Apresiasi Diri

Banyak hal yang terjadi setiap harinya. Tetapi, lantas kapan terakhir kali merasa bersyukur atas setiap hal yang terjadi? Kadang suatu hal menyakitkan pula tetap patut disyukuri sebab Allah masih memberi kita air mata untuk menangis. Walaupun taraf bersyukur saat duka rasanya sangatlah sulit. Minimal, bersyukur tatkala merasa nikmat yang diberikan-Nya begitu melimpah. Mampu bernapas setiap harinya, sehat tanpa sakit, bahagia karena berbagi. Sesimpel itu.

Aku bersyukur, hari ini mampu mengendalikan emosi amarah menjadi lebih terkontrol. Tatkala pikiran mulai ruwet, mulut mendorong untuk 'ngedumel', tapi logika tetap mengatakan untuk menahan. "Tahan Salma, selesaikan pekerjaan ini dulu. Kalau sudah selesai, kamu boleh marah," Ucapku kala dihadapkan dengan tugas kelompok yang tidak kunjung selesai padahal sebentar lagi waktunya presentasi. Jobdesk temanku tak kunjung dikerjakan hingga melewati deadline pun. Dengan cepat, aku mencari jaringan wifi dan sinyal yang lebih baik, kemudian ngebut mengerjakan tugas yang telah di ujung tanduk tersebut.

Lelah pasca ngebut, kemudian presentasi, membuatku lemas seketika. Rasanya ingin tidur saja. Alhasil, selesai melakukan presentasi, aku merebahkan diri di atas kasur selama satu jam untuk mengembalikan energiku yang menguar bersama ketik demi ketikan tulisan makalah. Aku tidur, tidak jadi marah. Setidaknya ini lebih baik daripada harus meluapkan emosi yang berapi-api. 

Terima kasih diriku, hari ini kamu berhasil mengontrol emosi dengan lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...