Langsung ke konten utama

Hutan, Separuh Napas Manusia

Menurut UU No 41 Tahun 1999, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Hutan Indonesia sering dikatakan sebagai paru-paru dunia. Bagaimana tidak, menurut data FAO, luas hutan Indonesia mencapai 92 juta ha pada 2020. Luasan hutan Indonesia menjadi yang terbesar kedelapan di dunia. Dengan luasan yang cukup besar ini, maka hutan di Indonesia sangat berpengaruh bagi stabilitas ekosistem makhluk hidup di dunia.

Hutan menyimpan banyak sekali sumber kehidupan. Udara bersih yang terjaga, air yang melimpah, pun satwa yang sejahtera. Apabila semua sumber kehidupan tersebut seimbang, maka dapat menyokong kehidupan manusia secara optimal. 

Pohon dapat memberikan suplai oksigen yang melimpah. Melalui mekanisme fotosintesis, pohon menggunakan karbondioksida yang merupakan gas berbahaya hasil pembakaran menjadi oksigen yang aman dihirup oleh manusia. Karbondioksida juga merupakan salah satu komponen terbesar gas rumah kaca yang mampu mengakibatkan pemanasan global. Dengan mekanisme fotosintesis tersebut, pohon kembali melahirkan oksigen yang baik bagi kesehatan manusia dan mengurangi dampak pemanasan global. Selain itu, hutan mampu menjaga iklim mikro tetap stabil. Adanya tajuk pohon yang memberikan naungan, dapat memberikan kelembaban udara dan menjaga suhu tetap stabil.

Tidak hanya udara bersih, adanya hutan mampu memberikan persediaan air yang melimpah di muka bumi. Pohon-pohon di hutan mempunyai akar yang cukup dalam. Air hujan yang jatuh tidak serta merta dialirkan di atas permukaan tanah begitu saja. Tetapi juga diserap oleh akar-akar pohon dan diolahkan menjadi makanan pohon sehingga menjadi salah satu komponen penting bagi pertumbuhan pohon. Air yang diserap ke dalam tanah tersebut menjadi persediaan air bagi kehidupan manusia. 

Tanah hutan juga merupakan tanah yang subur, sebab siklus hara tertutup terjadi di dalam hutan. Hutan menghasilkan serasah daun, ranting, yang kemudian jatuh ke tanah. Oleh mikroorganisme tanah, serasah tersebut diurai kemudian menjadi bahan organik tanah. Bahan organik tanah baik untuk nutrisi tanah dan pertumbuhan pohon.

Manfaat hutan tidak selalu bersifat antroposentris. Hutan memberikan kehidupan pula kepada hewan dan satwa liar. Berbagai hewan seperti monyet, ular, harimau, gajah, dan hewan lainnya menjadikan hutan sebagai tempat tinggal. Rantai makanan juga terjadi, sehingga ekosistem hutan juga stabil.

Lantas, dari berbagai macam peran dan manfaat hutan tersebut apakah saat ini berjalan optimal dan baik-baik saja? Melihat berbagai kasus kebakaran hutan, perambahan, perburuan satwa liar, hingga alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, tentu sangat berdampak bagi keseimbangan ekosistem hutan. Apabila ada kebakaran hutan, bagaimana nasib para satwa liar? Bagaimana hutan dapat memberikan suplai oksigen? Justru hutan melepaskan karbondioksida karena adanya kebakaran. Pernah mendengar kasus harimau masuk ke perkebunan kelapa sawit? Ataupun harimau masuk ke pemukiman warga? Apabila itu terjadi, apakah kita akan menyalahkan hewan yang tidak memiliki akal dan hanya dapat mengandalkan instingnya saja?

Sebagai manusia, tentu harus berkaca. Mengapa semua hal itu terjadi? Tentu hewan tidak memiliki akal dan tak akan mampu mengandalkan apa yang ia lakukan. Tapi, manusia dapat mengontrol agar hal tersebut tidak terjadi. Dengan cara menjaga hutan tetap lestari, mencegah timbulnya kebakaran, mempertahankan eksistensi hutan dengan tidak mengalihfungsikan menjadi perkebunan, ataupun dengan tidak berburu satwa liar yang dilindungi, merupakan sesuatu yang dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem hutan. 

Maka dari itu, mari kita menjaga ekosistem hutan agar tetap lestari. Tidak perlu muluk-muluk, cukup mulai dai diri sendiri ataupun dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan. Karena, hutan tanpa manusia tentu tetap baik-baik saja, tapi kalau manusia tanpa hutan, tak akan mampu hidup baik-baik saja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Januari

Januari, misteri. Banyak tawa menghiasi permulaan tahun. pun air mata sebab jiwa dan raga seorang Salma terus menerus bertarung dengan adaptasi di tempat baru, teman baru, kondisi yang baru. Januari, dimana workload bekerja sedang berkurang, walau tak lantas kosong melompong. Banyak hal baru yang harus segera dimengerti.  Januari, kembali memilih asing. Seseorang yang selalu kuceritakan kepadamu tiba-tiba datang lagi tanpa diminta. Padahal berkali kali kuminta pada Tuhan untuk ikhlaskan hati menerima kenyataan. Bahwa saat itu aku, kita saling meninggalkan. Ternyata aku belum siap menghadapi hal-hal besar lainnya. Kembali, aku memilih jalan untuk asing. Memberi jarak agar kita bertumbuh. Januari, toilet kantor menjadi tempat favorit kedua setelah kamar kostku. Dimana aku bisa melepas pusing, penat, emosi. Kala pekerjaan sudah semakin berat, aku memilih duduk sejenak di toilet untuk menghela napas. Terima kasih toilet, setidaknya aku tidak harus bergabung pada manusia tatkala merasa ...