Langsung ke konten utama

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya.

Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya.

Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa.

Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas sekali karena sumber literaturnya susah didapat, harus mencari jurnal internasional karena belum banyak yang meneliti di Indonesia.

Belum lagi, ketika baru saja menyiapkan alat dan bahan banyak sekali kendala terjadi. Kami bertiga ­terkena pungli dari penjaga rumah kaca. Aih, kampus besar sekelas kampusku apakah belum dapat menyejahterakan karyawannya sampai-sampai oknum tersebut melakukan pungli pada kami? Kurasa bukan kampusku yang bermasalah, tapi memang oknum itu saja yang tidak baik.

Agar aku tidak terlalu stress dengan skripsi, maka aku mengambil kesibukan di tempat lain. Aku akan melaksanakan magang di salah satu Lembaga penelitian mulai pertengahan Februari nanti. Alhamdulillah, setelah banyak penolakan. Sudah puluhan pekerjaan dan magang yang aku daftar, alhamdulillah ada yang menerimaku. Semoga aku bisa belajar lebih banyak lagi di sana.

Selain itu, aku juga sedang membina adik-adikku di asrama PKU IPB dan menjadi content writer di sebuah komunitas bidang lingkungan. Alhamdulillah ala kulli hal. Semoga semua dapat berjalan dengan baik, serta aku dapat menyelesaikan skripsiku tepat waktu.

Semoga kamu yang membaca ini juga semakin bersemangat lagi menjalani hari-hari. Segala tantangan untuk dihadapi. Dan jangan lupa isi kegiatan positif setiap hari. Semangat, sahabat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...