Langsung ke konten utama

Sertakan Tuhan di Setiap Langkah

 "Jangan sekali-kali kau ambil keputusan tanpa melibatkan Tuhan. Sebab, ketika kau merasa salah memilih, kau akan menyalahkan dirimu berulang kali."

Saat ini, aku sedang menganut ungkapan tersebut. Memilih menjadi salah satu challenge terbesar di hidupku, karena akan menimbulkan dampak yang begitu luar biasa ke depannya. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang bervariasi, tergantung pilihan dalam bentuk apa. Contohnya saja, ketika aku memilih pekerjaan. Aku memutuskan untuk merantau ke kalimantan timur. Berbekal 'merasa' gaji sudah cukup serta benefit-benefit lainnya yang akan ku dapat, aku memutuskan yakin bekerja di tanah borneo. Nyatanya, segala janji manis owner perusahaan hanyalah semu. Aku terjebak dengan lingkungan yang buruk. Hingga akhirnya aku hanya bertahan 6 bulan saja bekerja di sana. Barangkali, saat itu aku tidak benar-benar menyerahkan segala urusanku kepada Tuhan. Aku termakan oleh narasi duniawi yang memanjakan angan. 

Sekarang, aku sudah bekerja sebagai pegawai kontrak di salah satu BUMN. Setelah menganggur selama satu bulan, akhirnya aku bekerja lagi. Belajar dari yang lalu, kini aku mengambil keputusan dengan meminta kepada Tuhan. Yang sedang aku tanamkan di otak adalah.. 

"Sertakan Tuhan di setiap keputusan. Apabila berdampak baik di hidupmu, maka bersyukurlah sebab Tuhan tidak akan salah memberikan kehendak-Nya. Apabila tidak berdampak baik untuk hidupmu, maka tetaplah bersyukur. Mungkin itulah cara Tuhan memberikan pembelajaran berharga untuk keputusan-keputusan yang akan kau ambil ke depannya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...