Langsung ke konten utama

Salma dan Lukanya

Suara-suara yang kubenci kembali nyaring di telinga. Bentakan kasar, ungkapan menyakiti, semua terekam oleh pendengaranku. Aku hanya bersembunyi di balik pelukan hangat makhluk berbulu, kucingku. Mengelusnya sembarang, memeluknya erat, tak mau kehilangan. Musabab ia satu-satunya makhluk yang tak pernah melukaiku dan meninggalkanku. 

Di balik tembok kamar aku kembali terisak. Lagi, dan lagi. Luka itu tak kunjung pulih. Kembali perih, sedih, pedih. Entah sampai kapan penderitaan ini kugenggam. Entah sampai mati? Entah sampai tuhan mencabut nyawaku? Entah sampai aku menyerahkan diri kepada tuhan? aku tak tahu. 

Menjadi anak semata wayang tak lantas yang paling di sayang. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri.


Senin, 25 November 2024

-slm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Hanya Menunggu Giliran

Ternyata, aku diberi waktu lebih di dunia ini, di saat tidak berkutik dengan pekerjaan, tak lain tak bukan adalah untuk berpikir. Merenung setiap proses yang dilalui, merenungi di setiap kejadian yang menimpa, dan mengambil pelajaran darinya. Tanpa pekerjaan, tidak lantas membuatku tak bekerja. Mencari makna setiap kehendak Tuhan kepadaku, mencari arti dari sebuah takdir. Walaupun pemahamanku belum mencapai sempurna, tapi aku mengambil setitik pelajaran dari luasnya lautan.  Di usia 23 tahun, aku melihat rekan seusiaku menikah. Aku juga melihat mereka bekerja, aku melihat mereka berkelana keliling dunia. Tapi, aku juga turut menyaksikan sebagian darinya berjuang di balik dinding rumah sakit, melawan berbagai penyakit. Semua itu tak lebih menyayat hati, tatkala terpampang jelas, bahwa juga ada rekan seusiaku tiba-tiba dipanggil ilahi, menghadap Rabb-nya.  Aku melihat bagaimana adanya pernikahan yang menyatukan keluarga, membentuk generasi baru. Pun di waktu yang sama, Allah pan...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...