Ternyata, aku diberi waktu lebih di dunia ini, di saat tidak berkutik dengan pekerjaan, tak lain tak bukan adalah untuk berpikir. Merenung setiap proses yang dilalui, merenungi di setiap kejadian yang menimpa, dan mengambil pelajaran darinya. Tanpa pekerjaan, tidak lantas membuatku tak bekerja. Mencari makna setiap kehendak Tuhan kepadaku, mencari arti dari sebuah takdir. Walaupun pemahamanku belum mencapai sempurna, tapi aku mengambil setitik pelajaran dari luasnya lautan.
Di usia 23 tahun, aku melihat rekan seusiaku menikah. Aku juga melihat mereka bekerja, aku melihat mereka berkelana keliling dunia. Tapi, aku juga turut menyaksikan sebagian darinya berjuang di balik dinding rumah sakit, melawan berbagai penyakit. Semua itu tak lebih menyayat hati, tatkala terpampang jelas, bahwa juga ada rekan seusiaku tiba-tiba dipanggil ilahi, menghadap Rabb-nya.
Aku melihat bagaimana adanya pernikahan yang menyatukan keluarga, membentuk generasi baru. Pun di waktu yang sama, Allah panggil salah satu makhluk-Nya di muka bumi. Begitu kematian digantikan oleh kehidupan yang baru.
Dan.. semua itu akan bersiklus sama. Yang membentuk kehidupan baru, pada akhirnya merasakan kematian, kemudian digantikan oleh kehidupan baru yang akan dibangun oleh makhluk-Nya yang lain.
Oh, ternyata, hidup ini hanya menunggu kematian. Sejatinya setiap proses hidup ini muaranya tetap satu, akhirat, kematian. Aku juga akan merasakan kematian, meninggalkan, atau ditinggalkan. Aku hanya menunggu suratan takdir. Bekal apa yang sudah kubawa menghadap rabb-ku? Maksiat yang kerap dilakukan? Keluh kesah yang tak ada sudah? Air mata tobat palsu yang kerap diulang-ulang? Amalan kosong yang sering berharap imbalan? Atau niat yang tak lurus mengharap ridho-Nya?
Tuhan, dari gelimangan dosaku, semoga engkau ampuni semua. Dari rasa sakit yang menimpaku, semoga engkau angkat sakitnya. Dari amalanku yang tak beberapa, semoga engkau catat dan terima.
bersama hujan, kutuliskan renungan ini agar aku tetap ingat untuk terus bertahan. sebab, sejatinya aku hanya menunggu giliran, dan dilarang mendahului antrian tersebut secara paksa.
-slm
Madiun, 3 Des 2024
Komentar
Posting Komentar