Langsung ke konten utama

Ketidakberuntungan

Maaf, jika tiap kusambangi kolom tulisan ini, aku selalu meninggalkan kesedihan. Padahal, misiku di 2025 adalah banyak menuliskan harapan baik. Doa yang kulantunkan pun bukan perihal ketakutan, tetapi harapan-harapan indah yang ingin kuwujudkan ke depan. Tapi, lagi dan lagi, segala harapan baik rasanya runtuh seketika. 

Oh, Tuhan. Tatkala aku menguatkan diri menjadi hamba-Mu yang bertakwa, aku kembali menemui kerikil-kerikil di perjalananku. Hari ini, pagi-pagi ketika semangatku masih membara. kukerjakan list pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini satu persatu. tiba-tiba atasanku menelpon. Dalam hati kukira akan ada tambahan pekerjaan. Ternyata? Kau tau apa? Aku diberi teguran. Apakah aku berbuat salah? kurasa tidak. Ia menegurku perihal kerudung yang kukenakan. Katanya, kerudung menutup dada tidak sesuai SOP perusahaan. Bak disambar petir di pagi hari, senyum yang dari pagi terkembang tiba-tiba luntur begitu saja. Pikiranku tak karuan. Apakah aku harus memendekkan kerudungku dan mengikatnya ke belakang seperti trend kekinian? disebutnya sebagai "kerudung profesional" yang rapi, clean. 

Astaga, kondisi yang tak pernah kubayangkan akan menimpaku. Kenapa aku selalu berada di kondisi sulit? Sejak bekerja di perusahaan pertama, aku dihadapkan dengan atasan biadab yang otaknya banyak memuat hidup duniawi, harta, dan perempuan. Di perusahaan kedua, aku harus menghadapi atasan yang tidak mampu men-deliver pekerjaan dengan baik. Di perusahaan ketiga, aku dihadapkan dengan peraturan yang melarang menggunakan hijab menutup dada. Di perusahaan ketiga pula, aku merasakan beban kerja yang tak sepadan dengan gaji.

Tulisan ini kubuat sejak tanggal 17 Februari, kemudian hanya tersimpan sebagai draft semata. Kini aku lanjutkan kembali dengan ending yang agak diluar ekspektasi, hehehe.

Tanggal 17 Mei 2025, aku mendapatkan kabar mengejutkan dari atasanku. aku dikeluarkan dari perusahaan per 25 Mei 2025. Sebenarnya, hal ini sudah kuduga sebelumnya. Bukan karena kerudung yang kukenakan, tapi karena kondisi perusahaan yang sulit. Adanya kebijakan pemerintah melarang export, saat ini uang perusahaan mencapai minus. Alhasil harus ada efisiensi, termasuk untuk para pekerjanya. Aku menjadi salah satu yang terdampak, musabab jobdesk utamaku baru akan dilaksanakan di bulan Juli atau Agustus mendatang. Dan jobdesk tersebut hanya bisa dilaksanakan apabila kegiatan export kembali berjalan. 

Beberapa hari, termenung dengan takdir Tuhan yang menurutku sudah diluar nalar. Mungkin memang aku sebagai manusia, tak sampai nalarnya dalam memahami maksud Tuhan. Tapi tak apa, ini adalah bagian takdir yang harus diterima. 

Yeah, kembali dengan siklus kesedihan yang sama, seperti tahun lalu. Tapi, kuharap, hari ini aku menjadi lebih kuat.

 

Jakarta, 27/05/2025

- Salma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...