Sejak bangku taman kanak-kanak, sudah diperkenalkan bagaimana cara membaca, menghafal al-Qur'an, menulis, bermain. Menginjak sekolah dasar, tingkatan belajar meningkat menjadi belajar matematika, IPA, bahasa indonesia, bahasa inggris, pendidikan agama islam, meliputi fiqih, aqidah akhlak, bahasa arab, qur'an hadits, dan beberapa mata pelajaran lainnya. Menginjak sekolah menengah pertama, pelajaran masih tetap sama, tapi dengan tingkat kesulitan yang meningkat. Menginjak sekolah menengah atas, pelajaran jadi semakin sulit. IPA, yang sebelumnya adalah satu pelajaran saja, berubah menjadi Biologi, Kimia, dan Fisika. Tidak berhenti di situ, saat menginjak perguruan tinggi, diharuskan untuk menamatkan lembaran skripsi yang berkali-kali revisi.
Sekilas, rasanya sia-sia mempelajari pelajaran-pelajaran tak masuk akal itu. Untuk apa menghitung kecepatan bola jatuh dari ketinggian sekian meter? Membaca grafik X, Y dan persamaan-persamaan matematika lainnya, atau bahkan menghafal tabel periodik yang sukar diingat? Dulu, rasanya sangat tidak masuk akal. Hingga umurku menginjak 23 tahun menuju 24 tahun. Hal-hal yang kurasa tidak masuk akal tersebut termyata punya maksud dan tujuan.
Bukan perihal apa yang dihafal, apa yang dipelajari, tetapi bagaimana proses pembelajaran di dalamnya. Sekarang, mungkin menghitung kecepatan bola jatuh di ketinggian tertentu sudah tidak relevan. tapi bagaimana cara berpikir dan merasionalisasi kecepatan bola tersebut jatuh, itulah yang dinamakan efek dari belajar. Mengerjakan skripsi, puluhan lembar dengan berkali-kali revisi, tidak dilihat dari bentuk skripsi ini sekarang. Tapi proses mengerjakannya yang membentuk mental menjadi lebih tangguh, tidak mudah kalah dengan problem, dengan pertanyaan-pertanyaan, dengan hal-hal yang tak sesuai harapan.
Proses pembelajaran yang panjang, barangkali memang tidak dapat dirasakan dampaknya dalam jangka pendek, setahun ataupun dua tahun setelahnya. Akan tetapi, bisa dirasakan setelah lima tahun setelahnya, sepuluh tahun setelahnya, atau bahkan dua puluh tahun setelahnya. Segala pertanyaan-pertanyaan "kenapa?" tidak mesti harus menemukan jawabannya saat itu juga. Bisa jadi, jawabannya nanti. Ketika kita sudah siap dengan jawaban itu. Ketika waktunya sudah tepat. Ketika kita sudah siap.
Sama halnya dengan takdir Tuhan yang tidak sesuai keinginan kita, tidak sesuai dengan rencana-rencana matang yang telah kita tetapkan. Saat ini, pertanyaan "kenapa?" mungkin berkali-kali dilontarkan. Tapi, boleh jadi jawabannya bukan saat ini. Tapi nanti, saat sudah siap menerima jawabannya. Saat ketika mengetahui jawabannya, pikiran jernih kita bisa mencerna dengan baik.
Jakarta, 27/05/25
- salma
Komentar
Posting Komentar