Langsung ke konten utama

Postingan

Ketidakberuntungan

Maaf, jika tiap kusambangi kolom tulisan ini, aku selalu meninggalkan kesedihan. Padahal, misiku di 2025 adalah banyak menuliskan harapan baik. Doa yang kulantunkan pun bukan perihal ketakutan, tetapi harapan-harapan indah yang ingin kuwujudkan ke depan. Tapi, lagi dan lagi, segala harapan baik rasanya runtuh seketika.  Oh, Tuhan. Tatkala aku menguatkan diri menjadi hamba-Mu yang bertakwa, aku kembali menemui kerikil-kerikil di perjalananku. Hari ini, pagi-pagi ketika semangatku masih membara. kukerjakan list pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini satu persatu. tiba-tiba atasanku menelpon. Dalam hati kukira akan ada tambahan pekerjaan. Ternyata? Kau tau apa? Aku diberi teguran. Apakah aku berbuat salah? kurasa tidak. Ia menegurku perihal kerudung yang kukenakan. Katanya, kerudung menutup dada tidak sesuai SOP perusahaan. Bak disambar petir di pagi hari, senyum yang dari pagi terkembang tiba-tiba luntur begitu saja. Pikiranku tak karuan. Apakah aku harus memendekkan kerudungku d...

Proses Adalah Belajar

Sejak bangku taman kanak-kanak, sudah diperkenalkan bagaimana cara membaca, menghafal al-Qur'an, menulis, bermain. Menginjak sekolah dasar, tingkatan belajar meningkat menjadi belajar matematika, IPA, bahasa indonesia, bahasa inggris, pendidikan agama islam, meliputi fiqih, aqidah akhlak, bahasa arab, qur'an hadits, dan beberapa mata pelajaran lainnya. Menginjak sekolah menengah pertama, pelajaran masih tetap sama, tapi dengan tingkat kesulitan yang meningkat. Menginjak sekolah menengah atas, pelajaran jadi semakin sulit. IPA, yang sebelumnya adalah satu pelajaran saja, berubah menjadi Biologi, Kimia, dan Fisika. Tidak berhenti di situ, saat menginjak perguruan tinggi, diharuskan untuk menamatkan lembaran skripsi yang berkali-kali revisi. Sekilas, rasanya sia-sia mempelajari pelajaran-pelajaran tak masuk akal itu. Untuk apa menghitung kecepatan bola jatuh dari ketinggian sekian meter? Membaca grafik X, Y dan persamaan-persamaan matematika lainnya, atau bahkan menghafal tabel pe...

Bisa Karena Terpaksa

Banyak orang mengaku sulit melakukan sesuatu karena tidak terbiasa, menolak berkata mampu sebab jarang dilaku. berkata tak bisa sebab tak mencoba. Tapi, entah kenapa ketika dalam keadaan terdesak, yang tak mungkin jadi mungkin, yang tak mampu jadi mampu, yang dirasa ragu jadi dilaku.  Pernah mendengar orang berhasil lari berkilo kilo hanya karena dikejar anjing? padahal jika tidak dikejar anjing, mungkin ia akan cepat merasa lelah meski baru melangkah beberapa meter saja.  Ya, barangkali begitulah kehidupan menuntun diri ini untuk "bisa" karena keadaan. Menjadi anak satu-satunya yang diharapkan kesuksesannya, itu terkesan berat. Namun, karena keadaan orang tua yang semakin menua, tuntutan dalam diri pun semakin besar. Menjadi budak korporat yang dilimpahi jobdesk tak terkira, awalnya juga merasa tak mampu. Tapi karena butuh gaji, mau tidak mau tetap harus mampu. Apakah perihal menikah juga sama? Rasanya diriku masih sangat kecil, belum mengerti kehidupan dewasa yang kompleks ...

Januari

Januari, misteri. Banyak tawa menghiasi permulaan tahun. pun air mata sebab jiwa dan raga seorang Salma terus menerus bertarung dengan adaptasi di tempat baru, teman baru, kondisi yang baru. Januari, dimana workload bekerja sedang berkurang, walau tak lantas kosong melompong. Banyak hal baru yang harus segera dimengerti.  Januari, kembali memilih asing. Seseorang yang selalu kuceritakan kepadamu tiba-tiba datang lagi tanpa diminta. Padahal berkali kali kuminta pada Tuhan untuk ikhlaskan hati menerima kenyataan. Bahwa saat itu aku, kita saling meninggalkan. Ternyata aku belum siap menghadapi hal-hal besar lainnya. Kembali, aku memilih jalan untuk asing. Memberi jarak agar kita bertumbuh. Januari, toilet kantor menjadi tempat favorit kedua setelah kamar kostku. Dimana aku bisa melepas pusing, penat, emosi. Kala pekerjaan sudah semakin berat, aku memilih duduk sejenak di toilet untuk menghela napas. Terima kasih toilet, setidaknya aku tidak harus bergabung pada manusia tatkala merasa ...

Hanya Menunggu Giliran

Ternyata, aku diberi waktu lebih di dunia ini, di saat tidak berkutik dengan pekerjaan, tak lain tak bukan adalah untuk berpikir. Merenung setiap proses yang dilalui, merenungi di setiap kejadian yang menimpa, dan mengambil pelajaran darinya. Tanpa pekerjaan, tidak lantas membuatku tak bekerja. Mencari makna setiap kehendak Tuhan kepadaku, mencari arti dari sebuah takdir. Walaupun pemahamanku belum mencapai sempurna, tapi aku mengambil setitik pelajaran dari luasnya lautan.  Di usia 23 tahun, aku melihat rekan seusiaku menikah. Aku juga melihat mereka bekerja, aku melihat mereka berkelana keliling dunia. Tapi, aku juga turut menyaksikan sebagian darinya berjuang di balik dinding rumah sakit, melawan berbagai penyakit. Semua itu tak lebih menyayat hati, tatkala terpampang jelas, bahwa juga ada rekan seusiaku tiba-tiba dipanggil ilahi, menghadap Rabb-nya.  Aku melihat bagaimana adanya pernikahan yang menyatukan keluarga, membentuk generasi baru. Pun di waktu yang sama, Allah pan...

Salma dan Lukanya

Suara-suara yang kubenci kembali nyaring di telinga. Bentakan kasar, ungkapan menyakiti, semua terekam oleh pendengaranku. Aku hanya bersembunyi di balik pelukan hangat makhluk berbulu, kucingku. Mengelusnya sembarang, memeluknya erat, tak mau kehilangan. Musabab ia satu-satunya makhluk yang tak pernah melukaiku dan meninggalkanku.  Di balik tembok kamar aku kembali terisak. Lagi, dan lagi. Luka itu tak kunjung pulih. Kembali perih, sedih, pedih. Entah sampai kapan penderitaan ini kugenggam. Entah sampai mati? Entah sampai tuhan mencabut nyawaku? Entah sampai aku menyerahkan diri kepada tuhan? aku tak tahu.  Menjadi anak semata wayang tak lantas yang paling di sayang. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Senin, 25 November 2024 -slm

Air Mata Malam Hari

 ".. Aku juga manusia. Aku berhak untuk marah, bersedih, pun bahagia." Agaknya, aku mematok bahwa hidup yang ideal adalah terus menjadi "baik". Padahal, selalu ada sisi manusiawi yang tidak semua dikatakan baik. Menahan emosi, menolak menangis.  Aku punya rekomendasi buku yang siap menemani kamu menangis. Kalau sedang ingin menangis tapi tertahan, sepertinya buku ini sangat cocok. Kepingan rindu kepada ibu, rasanya tertuang dalam setiap goresan jemari Boy Candra. Tidak perlu membaca berjam-jam, karena tidak sampai satu jam aku berhasil menyelesaikan buku ini. Bonus mata bengkak, hidung tersumbat, haha. Setiap tulisannya mampu memvalidasikan perasaan.  Aku masih belum sanggup menceritakannya lebih jauh lagi. Sebab, air mataku saja belum mengering. Baca saja, nanti tahu sendiri. Semarang, 2 Sept 2024