Langsung ke konten utama

Manusia di Sudut Ruangan

    Langit gelap menaungi riuh lalu lalang kesibukan manusia. Cahaya lampu menyorot sana sini. Suara klakson nyaring berbunyi. Pada suatu rumah, di sudut kota. Nyaris tak terdengar hiruk pikuk aktivitas penduduk bumi. Seorang wanita menyandarkan kepala di sudut ruangan. Gelap bukan lagi perihal langit, tapi juga pikirannya. Kemudian sesak bukan saja karena lalu lalang kesibukan manusia, tetapi juga gemuruh di dada. Jua, air mata adalah hujan yang tiada henti mengalir di pipinya. Di sudut ruang itulah, kepingan raga yang lelah ia biarkan rehat. Meski jiwanya tak benar-benar istirahat.

    Sekian gelap malam telah dilewati dengan bayangan menakutkan dari segala pikir. Rembulan jua tak tahu harus memberikan nasihat apa. Terlalu rumit, ungkapnya kala itu. Malam yang panjang ia habiskan untuk memandangi layar. Menyaksikan perjalanan dua dasawarsa yang tak terasa telah ditempuh. 

    Kata orang, ia introvert. ansos. kuper. pendiam. Padahal diamnya menyeru lantang suara. Hanya orang yang mengerti yang dapat memahami. Baginya, bertemu orang lain adalah anugerah, sekaligus bencana. Alih-alih bertemu orang yang tepat. Kalau bertemu orang yang tidak tepat? Sisi overthinking-nya tak akan diam saja. Apalagi dengan beragam komentar soal standar kesuksesan, pencapaian-pencapaian orang lain, hingga ungkapan menyudutkan. "Kamu tuh gabisa apa-apa," Ungkap salah seorang.

    Satu atau dua kali mungkin biasa saja. Tapi apabila terakumulasi? Setelah itu hanya bisa berdiam diri, meratapi, diam di sudut ruangan. Untuk mengungkapkan saja sudah tidak sanggup. Hanya air mata yang menjadi saksi. Kemudian senyum seolah sebagai figur teman yang menguatkan. 

    Semakin dewasa, teman semakin dapat dihitung jari. Tidak akan semua selalu ada. Bahkan untuk bersandar pada diri sendiri saja tidak dapat dilakukan, karena diri sendiri mudah rapuh. Hati manusia memangnya terbuat dari apa? Kuat, tapi juga rapuh. 

    Ia bangkit, membasuh wajah dengan air wudhu. Menegakkan sembahyang dan mengangkat kedua tangan. Meminta pada tuhan untuk segala kekuatan. Sejatinya hati sendiri pun milik-Nya. Ketika tiada lagi manusia yang selalu ada, masih ada Tuhan yang setia mendengar keluh kesahnya. Padahal, dosa yang dilakukan tak tebendung jumlahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...