Tidak ada salah, tatkala hatimu memilih melangkah menjauhi tanah kelahiran. Suatu keputusan besar bagi seorang anak rumahan yang tak mengerti dunia luar. Sejujurnya, jauh dari keluarga bukanlah hal yang mudah. Tapi tidak pula susah. Kamu hanya perlu kekuatan hati, dan meningkatkan hubungan baikmu dengan yang kuasa. Sebab, kejamnya dunia bisa sewaktu-waktu menghantammu. Tiada yang kamu miliki selain Dia. Bahkan orang tuamu, tak akan ada di momen seperti itu. Do'anya lah yang dapat kita genggam dari kejauhan, bukan fisiknya yang dapat kita peluk erat sambil berucap, "Yah, bu, aku lelah". Hanya Tuhan yang tak pernah jauh, apabila kau tak menjauh.
"Aku tau bagaimana ada di posisimu, pasti memerlukan waktu yang cukup lama untuk benar-benar lupa," Ujar salah seorang temanku. Tak dipungkiri, menyingkirkan perasaan cinta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, izinkan aku untuk terus berusaha. Hingga kemudian Tuhan berkata, "Kulapangkan dadamu, Kujadikan ikhlas hatimu." Walaupun tidak tahu kapan itu akan terjadi. Pertemuan malam ini, ketika kita rekan satu kelas kembali bercengkrama. Membahas kondisi terkini, atau sejenak memelihara memori empat tahun silam. Topik obrolan kita tak jauh perihal masa lalu. Aku kembali memanggil memori itu, lagi. Tak terkecuali tentangmu. Tiga bulan, kesibukan tak lantas melepaskanmu dari ingatan. Aku tidak tahu jenis kenangan seperti apa yang lantas membuatku tak kunjung melupakanmu. Kita hanya bercengkrama melalui pesan singkat, saling mencuri pandang saat bertemu, berkabar melalui telepon. Kita tak pernah saling memeluk, ataupun menggenggam tangan. Kita tak benar-b...
Komentar
Posting Komentar