Tidak ada salah, tatkala hatimu memilih melangkah menjauhi tanah kelahiran. Suatu keputusan besar bagi seorang anak rumahan yang tak mengerti dunia luar. Sejujurnya, jauh dari keluarga bukanlah hal yang mudah. Tapi tidak pula susah. Kamu hanya perlu kekuatan hati, dan meningkatkan hubungan baikmu dengan yang kuasa. Sebab, kejamnya dunia bisa sewaktu-waktu menghantammu. Tiada yang kamu miliki selain Dia. Bahkan orang tuamu, tak akan ada di momen seperti itu. Do'anya lah yang dapat kita genggam dari kejauhan, bukan fisiknya yang dapat kita peluk erat sambil berucap, "Yah, bu, aku lelah". Hanya Tuhan yang tak pernah jauh, apabila kau tak menjauh.
Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya. Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...
Komentar
Posting Komentar