Tidak ada salah, tatkala hatimu memilih melangkah menjauhi tanah kelahiran. Suatu keputusan besar bagi seorang anak rumahan yang tak mengerti dunia luar. Sejujurnya, jauh dari keluarga bukanlah hal yang mudah. Tapi tidak pula susah. Kamu hanya perlu kekuatan hati, dan meningkatkan hubungan baikmu dengan yang kuasa. Sebab, kejamnya dunia bisa sewaktu-waktu menghantammu. Tiada yang kamu miliki selain Dia. Bahkan orang tuamu, tak akan ada di momen seperti itu. Do'anya lah yang dapat kita genggam dari kejauhan, bukan fisiknya yang dapat kita peluk erat sambil berucap, "Yah, bu, aku lelah". Hanya Tuhan yang tak pernah jauh, apabila kau tak menjauh.
Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...
Komentar
Posting Komentar