Menjadi pendengar yang baik. Nyatanya, skill menjadi pendengar yang baik bukanlah skill yang lama mengendap di genggaman tangan. Bukanlah bawaan lahir yang sudah mengakar kuat. Rasa tidak peduli akan urusan orang, acuh tak acuh dengan keadaan. Seolah menggambarkan seorang 'aku' saat dulu. Seolah-olah hidup hanya tentangku. Bumi berotasi dan berevolusi berpusat padaku. Kenyataannya, aku hanya butiran kerikil, sama seperti yang lain.
Aku, Salma si suka bercerita. Bagian diriku yang tak dapat dipisahkan baik oleh jiwa maupun raga. Ungkapan-ungkapan bahagia, kekesalan, suka, duka, kecewa, tak pernah dusta dari mimik wajah dan gerak-gerik tubuh. Semuanya mengalir, deras tanpa tanggul yang menahan. Setiap detail kehidupanku, menjadi dongeng pengantar tidur orang lain. Tak peduli bagaimana tanggapan mereka. Tertidurkah, menyimakkah, atau masa bodokah? Seorang aku hanya berpikir bahwa kehidupan akan selalu berpusat padaku.
Kini, setelah aku menjadi bagian dari keluarga Senior Resident. Banyak hal berubah. Tiap detik yang sebelumnya menjadi milikku, kini telah direngut paksa oleh kehidupan orang lain, adik-adik asrama. Bahkan mata yang terlelap tidaklah menjadi tenang, sebab ada rasa was-was untuk keadaan orang lain. Setiap berkunjung ke kamar mereka, telinga tak henti-hentinya mendengar keluh kesah, cerita-cerita antusias, bahkan ungkapan bahagia. Kehidupan tidak lagi menjadi milikku.
Tapi, aku menjadi lebih banyak mendengar, ketimbang berbicara. Satu hal yang sulit kulakukan ketika dulu, aku hanya bertanggung jawab untuk diriku. Kini, ada mereka yang menjadi tanggung jawabku. Aku secara tiba-tiba menjadi seorang kakak yang memiliki adik dengan jarak umur yang tak terlampau jauh. Adik yang secara tiba-tiba dipertemukan tatkala aku menginjak dewasa.
Ternyata, belajar mendengar tidaklah mudah. Aku harus memposisikan diriku sebagai 'mereka' yang sedang merasakan. Rasa empatiku diuji. Aku harus memberikan respon terbaik untuk masalah-masalah mereka. Bersikap bijak dan obyektif secara bersamaan. Memahami masalah dengan cepat dan mengedepankan empati serta simpati.
Pembelajaran ini sungguh berharga. Kelak menjadi bekalku di beragam arena. Entah di perusahaan, entah tatkala aku berperan sebagai ibu, entah di keadaan apa.
Komentar
Posting Komentar