Langsung ke konten utama

Menjadi Pendengar yang Baik

Menjadi pendengar yang baik. Nyatanya, skill menjadi pendengar yang baik bukanlah skill yang lama mengendap di genggaman tangan. Bukanlah bawaan lahir yang sudah mengakar kuat. Rasa tidak peduli akan urusan orang, acuh tak acuh dengan keadaan. Seolah menggambarkan seorang 'aku' saat dulu. Seolah-olah hidup hanya tentangku. Bumi berotasi dan berevolusi berpusat padaku. Kenyataannya, aku hanya butiran kerikil, sama seperti yang lain.

Aku, Salma si suka bercerita. Bagian diriku yang tak dapat dipisahkan baik oleh jiwa maupun raga. Ungkapan-ungkapan bahagia, kekesalan, suka, duka, kecewa, tak pernah dusta dari mimik wajah dan gerak-gerik tubuh. Semuanya mengalir, deras tanpa tanggul yang menahan. Setiap detail kehidupanku, menjadi dongeng pengantar tidur orang lain. Tak peduli bagaimana tanggapan mereka. Tertidurkah, menyimakkah, atau masa bodokah? Seorang aku hanya berpikir bahwa kehidupan akan selalu berpusat padaku.

Kini, setelah aku menjadi bagian dari keluarga Senior Resident. Banyak hal berubah. Tiap detik yang sebelumnya menjadi milikku, kini telah direngut paksa oleh kehidupan orang lain, adik-adik asrama. Bahkan mata yang terlelap tidaklah menjadi tenang, sebab ada rasa was-was untuk keadaan orang lain. Setiap berkunjung ke kamar mereka, telinga tak henti-hentinya mendengar keluh kesah, cerita-cerita antusias, bahkan ungkapan bahagia. Kehidupan tidak lagi menjadi milikku.

Tapi, aku menjadi lebih banyak mendengar, ketimbang berbicara. Satu hal yang sulit kulakukan ketika dulu, aku hanya bertanggung jawab untuk diriku. Kini, ada mereka yang menjadi tanggung jawabku. Aku secara tiba-tiba menjadi seorang kakak yang memiliki adik dengan jarak umur yang tak terlampau jauh. Adik yang secara tiba-tiba dipertemukan tatkala aku menginjak dewasa. 

Ternyata, belajar mendengar tidaklah mudah. Aku harus memposisikan diriku sebagai 'mereka' yang sedang merasakan. Rasa empatiku diuji. Aku harus memberikan respon terbaik untuk masalah-masalah mereka. Bersikap bijak dan obyektif secara bersamaan. Memahami masalah dengan cepat dan mengedepankan empati serta simpati.

Pembelajaran ini sungguh berharga. Kelak menjadi bekalku di beragam arena. Entah di perusahaan, entah tatkala aku berperan sebagai ibu, entah di keadaan apa.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Menikah - Series Opiniku

Sedikit demi sedikit, aku tahu maksud pengalaman-pengalaman orang yang sering kudengar sebelumnya, tulisan-tulisan tentang perjalanan menikah seseorang, ataupun kisah-kisah yang bermunculan di berbagai platform media sosial tentang kehidupan sebelum menikah. Kata orang, menikah itu sekali seumur hidup, selamanya. Kata orang, menikah itu seperti judi. Kata orang, menikah itu seperti gerbang yang menentukan masa depan seorang perempuan apakah nantinya akan "cerah" atau justru "redup". Kata orang, memilih pasangan tidak hanya tentang dirinya tapi juga keluarganya. Satu persatu aku mulai memahami maksud dari itu semua. Menikah adalah perjalanan panjang yang sangat dilarang untuk salah dalam pengambilan keputusannya. Tidak seperti bekerja yang bisa resign kalau tidak cocok, menikah akan membuat seseorang terjebak "selamanya" dalam kondisi pernikahan itu. Maka dari itu harus dipastikan bahwa terjebak di kondisi yang nyaman, aman, tentram, tenang, bahagia. Bayang...