Langsung ke konten utama

Produktif


Bangun tidur mengecek ponsel, harap-harap si doi mengirimkan ucapan selamat pagi. ah, boro-boro mengucapkan selamat pagi, punya doi saja tidak, hahaha. Paling hanya sekadar melihat notifikasi serta melirik jam menunjukkan pukul berapa. Padahal sudah siang, tapi mata menolak untuk riang. Tangan kembali melaksanakan tugasnya menarik selimut menutupi seluruh badan. Pagi yang menggigil. 

Pukul sepuluh, badan baru bangkit dari tempat persembunyian. Meregangkan seluruh otot untuk menyapa dunia yang sudah panas oleh cahaya mentari. Tangan mulai menuliskan to do list yang sudah terlambat itu. Brunch, apply pekerjaan, mencuci baju, menjemur baju, membersihkan kamar, menulis di blog, berlatih bahasa inggris. Kasihan sekali makhluk sepertinya yang bukan "morning person" dan cenderung kelelawar person. Ketika pagi harus mendengkur di balik selimut, tetapi malam berjaga penuh karena mata tak ingin segera beristirahat.

Menjaga diri untuk tetap produktif itu perlu. Agar setiap waktu dipergunakan dengan baik. Agar waktu yang dimiliki digunakan secara efektif dan efisien. Berbeda dengan sekadar sibuk, yang tak tahu arah tujuan dari apa yang dikerjakan. 

Tujuan utamaku adalah mahir bahasa inggris dan mengasah potensi menulisku. Lantas aku akan mengalokasikan waktu lebih banyak kepadanya. Sedang, waktu yang tersisa kugunakan untuk menuntaskan kewajibanku yang lain, seperti rapat kepanitiaan, mengurus keperluan pribadi, hingga keperluan adik-adik binaan di asrama. 

Hidup seperti ini menyenangkan. Hanya saja bagian kebiasaan bangun siang apabila tidak ada kuliah dan sedang libur beribadah harus aku perbaiki. Karena yang aku sering dengar, orang sukses kebanyakan bangun pagi. Dan aku ingin menjadi orang sukses.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...