Kira-kira sebodoh apakah aku? Setiap langkah kaki menuju jalanan kota, harapku selalu bertemu dirimu dengan keadaan yang tiba-tiba. Minimal, aku bisa melihat sosokmu terkini. Walaupun aku sudah hafal betul senyumanmu, tapi aku tak pernah bosan melihatnya, lagi dan lagi. Namun, apalah daya. Di antara ratusan ribu manusia yang menjelajahi kota, aku selalu berharap ada kamu salah satunya. Seperti yang ku lakukan sekarang, menyendiri dengan tujuan menenangkan isi kepala dari berbagai cengkrama. Nyatanya, isi kepalaku semakin bising meski aku sudah duduk mojok di jendela kedai kopi kesukaanku.
Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini. Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Komentar
Posting Komentar