"Kendalikan apa yang bisa dikendalikan. Abaikan apa yang di luar kendalimu." Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk menjejali isi pikiran saya saat ini. Sebab, hidup selama hampir 23 tahun sadar tak sadar membuat saya selalu ingin menyenangkan semua orang, tanpa terkecuali. Ketika segala hal terjadi di luar keinginan saya, rasanya seperti mengecewakan banyak orang yang mungkin menaruh 'harap' pada saya.
Contoh kecilnya, saya jadi teringat semasa sekolah menengah akhir. Saya duduk di kelas akselerasi. Ya, percepatan. Normalnya, SMA dihabiskan selama 3 tahun, tapi saya hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk lulus. Sudah pasti siswa-siswi akselerasi bukanlah kaleng-kaleng. Mereka adalah pilihan. Saat itu, saya sedang belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian akhir madrasah, kita sebut UAMBN. Ini merupakan ujian akhir madrasah yang menguji mata pelajaran agama islam, seperti Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadits, hingga Bahasa Arab. Kalau tidak salah, saat itu saya sedang belajar mata pelajaran Fiqih. Saya memang termasuk anak yang rajin, karena mindset saya saat itu "ketika kamu rajin belajar, kamu akan jadi orang yang sukses". Mengenai benar atau tidaknya mindset saya saat itu, akan kita bahas di tulisan yang lain.
Saya sangat suka belajar, walaupun sering dipatahkan oleh harapan-harapan saya sendiri. Ketika saya mengerjakan UAMBN mata pelajaran Fiqih, saya merasa kesulitan. Entah kenapa. Padahal saya sudah belajar habis-habisan. Saya juga sudah melaksanakan ibadah dengan baik, meminta do'a restu kedua orang tua. Semua sudah saya jalankan. Tapi entah mengapa saat itu pikiran mendadak blank dan saya asal-asalan menjawab soal.
Pulang dari ujian, saya menangis di kamar. Saya merasa gagal mengerjakan ujian dengan baik. Padahal saat itu saya memiliki target untuk mendapatkan nilai UAMBN tertinggi, minimal 3-5 besar dalam satu angkatan. Saya selalu punya target atas apa yang saya kerjakan. Tapi, melihat cara saya menjawab soal tadi, sepertinya target tersebut tidak akan tercapai. Saya merasa gagal. Ketika try out UAMBN, saya mendapatkan nilai yang tinggi. Otomatis ketika sudah hari H ujian, saya juga mengharapkan itu terjadi pada saya.
Saya merasa guru-guru yang mengajar di kelas saya, terutama yang cukup dekat dengan saya juga menaruh harapan yang sama. Orang tua saya yang mengetahui progres-progres saya juga berharap hal yang sama. Semua orang yang bangga dengan saya juga demikian. Saya merasa memegang tanggung jawab yang besar atas ekspektasi-ekspektasi orang lain. Ketika saya gagal memenuhi ekspektasi mereka, saya merasa gagal di seluruh sendi kehidupan. Dan ini tidak hanya terjadi perihal UAMBN, tapi kasus-kasus lainnya yang menimpa saya hingga umur 23 tahun ini.
Saat itu, ibu saya mengetahui saya menangis histeris. Ibu akhirnya memeluk saya dan menenangkan. Saya tidak tahu, sebenarnya apakah orang lain benar-benar menaruh harapan yang begitu besar pada saya, ataukah memang saya yang 'hanya merasa' orang lain menaruh harap? Entahlah. Tapi beban yang saya rasakan begitu besar. Saya selalu terbiasa menjadi yang terbaik, maka ketika saya gagal, saya sangat jatuh (down).
Setelah menginjak dewasa, tepatnya saat ini, di umur hampir 23 tahun, di saat saya baru saja keluar dari pekerjaan, saya berusaha mengurai benang-benang ruwet yang mungkin sudah menjejali isi pikiran saya selama ini. Satu persatu saya coba cari jalan keluar. Salah satunya tentang alasan saya bertahan dan berjuang.
Pernah saya membaca buku Filosofi Teras, karya Henry Manampiring. Buku itu tentang Stoikesme. Cara berpikir "stoic". Singkatnya, inti dari buku tersebut adalah "fokus dengan apa yang bisa kita kontrol." Misalnya, ketika mau ujian. Hal yang kita bisa kontrol adalah "usaha"nya, yaitu belajar, berdoa, dan minta do'a restu orang tua. Sedangkan, 'hasil' yang kita sebut sebagai nilai, kelulusan, adalah di luar kontrol kita. Maka seberapa kuatpun kita mengendalikan 'hasil' yang merupakan di luar kontrol, tidak akan mampu dikendalikan.
Singkatnya, saya akan mencoba mengurangi overthinking dengan fokus pada hal yang bisa saya kendalikan. Karena sadar tidak sadar, selama ini saya terkungkung dengan pikiran-pikiran yang memang di luar kendali saya.
Saat ini, saya sudah keluar dari pekerjaan. Mungkin tentang ini akan saya jabarkan di tulisan yang lain. Intinya, saat ini saya kembali menjadi jobseeker dengan pengalaman bekerja 'hanya' 7 bulan. Yang dapat saya lakukan hanyalah apply pekerjaan, memperkaya pikiran dengan ilmu-ilmu baru, dan membuat plan-plan selama saya menganggur. Urusan apakah saya diterima kerja, hingga kapan saya akan mengganggu, itu di luar kendali saya. Maka daripada saya menghabiskan energi dan pikiran untuk hal di luar kendali, maka saya akan lebih memfokuskan diri dengan hal-hal yang bisa saya kendalikan. That's it.
Yeah, menulis menjadi bagian terapi saya untuk terus menjadi lebih baik lagi. Barangkali, ketika saya lupa, saya bisa membaca kembali tulisan saya untuk membangkitkan semangat. Besok saya akan kembali dengan cerita yang lain.
Madiun, 16 Mei 2024
-salma
Komentar
Posting Komentar