Langsung ke konten utama

Pembelajaran 1: Kendalikan yang Dapat Dikendalikan

 "Kendalikan apa yang bisa dikendalikan. Abaikan apa yang di luar kendalimu." Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk menjejali isi pikiran saya saat ini. Sebab, hidup selama hampir 23 tahun sadar tak sadar membuat saya selalu ingin menyenangkan semua orang, tanpa terkecuali. Ketika segala hal terjadi di luar keinginan saya, rasanya seperti mengecewakan banyak orang yang mungkin menaruh 'harap' pada saya.

Contoh kecilnya, saya jadi teringat semasa sekolah menengah akhir. Saya duduk di kelas akselerasi. Ya, percepatan. Normalnya, SMA dihabiskan selama 3 tahun, tapi saya hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk lulus. Sudah pasti siswa-siswi akselerasi bukanlah kaleng-kaleng. Mereka adalah pilihan. Saat itu, saya sedang belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian akhir madrasah, kita sebut UAMBN. Ini merupakan ujian akhir madrasah yang menguji mata pelajaran agama islam, seperti Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadits, hingga Bahasa Arab. Kalau tidak salah, saat itu saya sedang belajar mata pelajaran Fiqih. Saya memang termasuk anak yang rajin, karena mindset saya saat itu "ketika kamu rajin belajar, kamu akan jadi orang yang sukses". Mengenai benar atau tidaknya mindset saya saat itu, akan kita bahas di tulisan yang lain.

Saya sangat suka belajar, walaupun sering dipatahkan oleh harapan-harapan saya sendiri. Ketika saya mengerjakan UAMBN mata pelajaran Fiqih, saya merasa kesulitan. Entah kenapa. Padahal saya sudah belajar habis-habisan. Saya juga sudah melaksanakan ibadah dengan baik, meminta do'a restu kedua orang tua. Semua sudah saya jalankan. Tapi entah mengapa saat itu pikiran mendadak blank dan saya asal-asalan menjawab soal. 

Pulang dari ujian, saya menangis di kamar. Saya merasa gagal mengerjakan ujian dengan baik. Padahal saat itu saya memiliki target untuk mendapatkan nilai UAMBN tertinggi, minimal 3-5 besar dalam satu angkatan. Saya selalu punya target atas apa yang saya kerjakan. Tapi, melihat cara saya menjawab soal tadi, sepertinya target tersebut tidak akan tercapai. Saya merasa gagal. Ketika try out UAMBN, saya mendapatkan nilai yang tinggi. Otomatis ketika sudah hari H ujian, saya juga mengharapkan itu terjadi pada saya. 

Saya merasa guru-guru yang mengajar di kelas saya, terutama yang cukup dekat dengan saya juga menaruh harapan yang sama. Orang tua saya yang mengetahui progres-progres saya juga berharap hal yang sama. Semua orang yang bangga dengan saya juga demikian. Saya merasa memegang tanggung jawab yang besar atas ekspektasi-ekspektasi orang lain. Ketika saya gagal memenuhi ekspektasi mereka, saya merasa gagal di seluruh sendi kehidupan. Dan ini tidak hanya terjadi perihal UAMBN, tapi kasus-kasus lainnya yang menimpa saya hingga umur 23 tahun ini.

Saat itu, ibu saya mengetahui saya menangis histeris. Ibu akhirnya memeluk saya dan menenangkan. Saya tidak tahu, sebenarnya apakah orang lain benar-benar menaruh harapan yang begitu besar pada saya, ataukah memang saya yang 'hanya merasa' orang lain menaruh harap? Entahlah. Tapi beban yang saya rasakan begitu besar. Saya selalu terbiasa menjadi yang terbaik, maka ketika saya gagal, saya sangat jatuh (down). 

Setelah menginjak dewasa, tepatnya saat ini, di umur hampir 23 tahun, di saat saya baru saja keluar dari pekerjaan, saya berusaha mengurai benang-benang ruwet yang mungkin sudah menjejali isi pikiran saya selama ini. Satu persatu saya coba cari jalan keluar. Salah satunya tentang alasan saya bertahan dan berjuang.

Pernah saya membaca buku Filosofi Teras, karya Henry Manampiring. Buku itu tentang Stoikesme. Cara berpikir "stoic". Singkatnya, inti dari buku tersebut adalah "fokus dengan apa yang bisa kita kontrol." Misalnya, ketika mau ujian. Hal yang kita bisa kontrol adalah "usaha"nya, yaitu belajar, berdoa, dan minta do'a restu orang tua. Sedangkan, 'hasil' yang kita sebut sebagai nilai, kelulusan, adalah di luar kontrol kita. Maka seberapa kuatpun kita mengendalikan 'hasil' yang merupakan di luar kontrol, tidak akan mampu dikendalikan. 

Singkatnya, saya akan mencoba mengurangi overthinking dengan fokus pada hal yang bisa saya kendalikan. Karena sadar tidak sadar, selama ini saya terkungkung dengan pikiran-pikiran yang memang di luar kendali saya.

Saat ini, saya sudah keluar dari pekerjaan. Mungkin tentang ini akan saya jabarkan di tulisan yang lain. Intinya, saat ini saya kembali menjadi jobseeker dengan pengalaman bekerja 'hanya' 7 bulan. Yang dapat saya lakukan hanyalah apply pekerjaan, memperkaya pikiran dengan ilmu-ilmu baru, dan membuat plan-plan selama saya menganggur. Urusan apakah saya diterima kerja, hingga kapan saya akan mengganggu, itu di luar kendali saya. Maka daripada saya menghabiskan energi dan pikiran untuk hal di luar kendali, maka saya akan lebih memfokuskan diri dengan hal-hal yang bisa saya kendalikan. That's it.

Yeah, menulis menjadi bagian terapi saya untuk terus menjadi lebih baik lagi. Barangkali, ketika saya lupa, saya bisa membaca kembali tulisan saya untuk membangkitkan semangat. Besok saya akan kembali dengan cerita yang lain. 


Madiun, 16 Mei 2024

-salma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merefleksikan Pertemuan

 "Aku tau bagaimana ada di posisimu, pasti memerlukan waktu yang cukup lama untuk benar-benar lupa," Ujar salah seorang temanku. Tak dipungkiri, menyingkirkan perasaan cinta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, izinkan aku untuk terus berusaha. Hingga kemudian Tuhan berkata, "Kulapangkan dadamu, Kujadikan ikhlas hatimu." Walaupun tidak tahu kapan itu akan terjadi. Pertemuan malam ini, ketika kita rekan satu kelas kembali bercengkrama. Membahas kondisi terkini, atau sejenak memelihara memori empat tahun silam.  Topik obrolan kita tak jauh perihal masa lalu. Aku kembali memanggil memori itu, lagi. Tak terkecuali tentangmu. Tiga bulan, kesibukan tak lantas melepaskanmu dari ingatan. Aku tidak tahu jenis kenangan seperti apa yang lantas membuatku tak kunjung melupakanmu. Kita hanya bercengkrama melalui pesan singkat, saling mencuri pandang saat bertemu, berkabar melalui telepon. Kita tak pernah saling memeluk, ataupun menggenggam tangan. Kita tak benar-b...

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...