Langsung ke konten utama

Postingan

Salma dan Lukanya

Suara-suara yang kubenci kembali nyaring di telinga. Bentakan kasar, ungkapan menyakiti, semua terekam oleh pendengaranku. Aku hanya bersembunyi di balik pelukan hangat makhluk berbulu, kucingku. Mengelusnya sembarang, memeluknya erat, tak mau kehilangan. Musabab ia satu-satunya makhluk yang tak pernah melukaiku dan meninggalkanku.  Di balik tembok kamar aku kembali terisak. Lagi, dan lagi. Luka itu tak kunjung pulih. Kembali perih, sedih, pedih. Entah sampai kapan penderitaan ini kugenggam. Entah sampai mati? Entah sampai tuhan mencabut nyawaku? Entah sampai aku menyerahkan diri kepada tuhan? aku tak tahu.  Menjadi anak semata wayang tak lantas yang paling di sayang. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Senin, 25 November 2024 -slm

Air Mata Malam Hari

 ".. Aku juga manusia. Aku berhak untuk marah, bersedih, pun bahagia." Agaknya, aku mematok bahwa hidup yang ideal adalah terus menjadi "baik". Padahal, selalu ada sisi manusiawi yang tidak semua dikatakan baik. Menahan emosi, menolak menangis.  Aku punya rekomendasi buku yang siap menemani kamu menangis. Kalau sedang ingin menangis tapi tertahan, sepertinya buku ini sangat cocok. Kepingan rindu kepada ibu, rasanya tertuang dalam setiap goresan jemari Boy Candra. Tidak perlu membaca berjam-jam, karena tidak sampai satu jam aku berhasil menyelesaikan buku ini. Bonus mata bengkak, hidung tersumbat, haha. Setiap tulisannya mampu memvalidasikan perasaan.  Aku masih belum sanggup menceritakannya lebih jauh lagi. Sebab, air mataku saja belum mengering. Baca saja, nanti tahu sendiri. Semarang, 2 Sept 2024

Sertakan Tuhan di Setiap Langkah

  "Jangan sekali-kali kau ambil keputusan tanpa melibatkan Tuhan. Sebab, ketika kau merasa salah memilih, kau akan menyalahkan dirimu berulang kali." Saat ini, aku sedang menganut ungkapan tersebut. Memilih menjadi salah satu challenge terbesar di hidupku, karena akan menimbulkan dampak yang begitu luar biasa ke depannya. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang bervariasi, tergantung pilihan dalam bentuk apa. Contohnya saja, ketika aku memilih pekerjaan. Aku memutuskan untuk merantau ke kalimantan timur. Berbekal 'merasa' gaji sudah cukup serta benefit-benefit lainnya yang akan ku dapat, aku memutuskan yakin bekerja di tanah borneo. Nyatanya, segala janji manis owner perusahaan hanyalah semu. Aku terjebak dengan lingkungan yang buruk. Hingga akhirnya aku hanya bertahan 6 bulan saja bekerja di sana. Barangkali, saat itu aku tidak benar-benar menyerahkan segala urusanku kepada Tuhan. Aku termakan oleh narasi duniawi yang memanjakan angan.  Sekarang, aku sudah bekerja ...

Gadis di Kedai kopi

Entah sudah seberapa parah penyakit lambung yang ia derita. Rupanya itu tak membuatnya semakin menyanyangi lambungnya. Kebiasaan minum kopi dan makan pedas sudah mendarah daging. Tak lantas menjadikannya kedai kopi sebagai tempat terlarang, atau menghirup aroma kopi sebagai sesuatu yang dicegah. Kini ia tetap disini, menyantap segelas kopi susu seperti biasa. Kadangkala ia mencoba caramel machiatto, atau capuccino. Akan tetapi, kopi susu gula aren menjadi comfort coffee yang masih menjadi andalan. Sebab aroma kopi sama nikmatnya dengan perasaan kepadamu yang tak pernah mati. Sebab sakit lambung yang kuderita masih lebih baik daripada sakit ditinggalkan olehmu. Sebab duduk bersamamu di kedai kopi masih menjadi anganku yang selalu kurapalkan setiap hari. Gadis di kedai kopi yang duduk di ujung kursi. Sembari menatap jendela dengan pucat pasi. Alangkah malang nasibnya saat ini. -salma Madiun, 21 Mei 2024

Puisi - Yang Digenggam, Yang Hilang

lagi, nestapa gulana di lorong sakit aroma kimiawi dan pilu mengancam mati gadis kecil tak tau arah kesana kemari mulutnya komat kamit menyebut mantra sambil digenggamnya tiang dunia merapalkan harapan tidak kehilangan tuhan, kehendak-Nya adalah terbaik ditinggalkan pun rupanya yang terbaik mulutnya jadi terbungkam sebab saksikan kehilangan aroma kimiawi terakhir sebelum semua berakhir Madiun, 17 Mei 2024

Pembelajaran 1: Kendalikan yang Dapat Dikendalikan

 "Kendalikan apa yang bisa dikendalikan. Abaikan apa yang di luar kendalimu." Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk menjejali isi pikiran saya saat ini. Sebab, hidup selama hampir 23 tahun sadar tak sadar membuat saya selalu ingin menyenangkan semua orang, tanpa terkecuali. Ketika segala hal terjadi di luar keinginan saya, rasanya seperti mengecewakan banyak orang yang mungkin menaruh 'harap' pada saya. Contoh kecilnya, saya jadi teringat semasa sekolah menengah akhir. Saya duduk di kelas akselerasi. Ya, percepatan. Normalnya, SMA dihabiskan selama 3 tahun, tapi saya hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk lulus. Sudah pasti siswa-siswi akselerasi bukanlah kaleng-kaleng. Mereka adalah pilihan. Saat itu, saya sedang belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian akhir madrasah, kita sebut UAMBN. Ini merupakan ujian akhir madrasah yang menguji mata pelajaran agama islam, seperti Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadits, hingga Bahasa Arab. Kalau tidak salah, saat ...

Duduk di Kedai Kopi

Kira-kira sebodoh apakah aku? Setiap langkah kaki menuju jalanan kota, harapku selalu bertemu dirimu dengan keadaan yang tiba-tiba. Minimal, aku bisa melihat sosokmu terkini. Walaupun aku sudah hafal betul senyumanmu, tapi aku tak pernah bosan melihatnya, lagi dan lagi. Namun, apalah daya. Di antara ratusan ribu manusia yang menjelajahi kota, aku selalu berharap ada kamu salah satunya. Seperti yang ku lakukan sekarang, menyendiri dengan tujuan menenangkan isi kepala dari berbagai cengkrama. Nyatanya, isi kepalaku semakin bising meski aku sudah duduk mojok di jendela kedai kopi kesukaanku.  Jumat, 12 April 2024