Langsung ke konten utama

Postingan

Hutan, Separuh Napas Manusia

Menurut UU No 41 Tahun 1999, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan Indonesia sering dikatakan sebagai paru-paru dunia. Bagaimana tidak, menurut data FAO, luas hutan Indonesia mencapai 92 juta ha pada 2020. Luasan hutan Indonesia menjadi yang terbesar kedelapan di dunia. Dengan luasan yang cukup besar ini, maka hutan di Indonesia sangat berpengaruh bagi stabilitas ekosistem makhluk hidup di dunia. Hutan menyimpan banyak sekali sumber kehidupan. Udara bersih yang terjaga, air yang melimpah, pun satwa yang sejahtera. Apabila semua sumber kehidupan tersebut seimbang, maka dapat menyokong kehidupan manusia secara optimal.  Pohon dapat memberikan suplai oksigen yang melimpah. Melalui mekanisme fotosintesis, pohon menggunakan karbondioksida yang merupakan gas berbahaya hasil pembakaran menjadi oksigen yang aman dihir...

Bersyukur

Rasanya, hidup yang sedang dijalani banyak diisi dengan keluhan. Menangis, menggerutu, dan menyalahkan keadaan. Merasa paling malang dibandingkan manusia seantero bumi. Padahal, belum tentu menjadi manusia paling menyedihkan se dunia.  Kemudian, tertampar tatkala tidak sengaja membaca sebuah postingan. Sesuatu menyedihkan sedang diberitakan. Seorang kurir meninggal dunia karena kelelahan . Aih, seram sekali. Karena beban kerja berlebih, hingga letih melilit sakit. Kemudian, tumbang sebab raga tak mampu menahan lagi. Demi sesuap nasi, hingga akhirnya mengorbankan nyawa. Semoga Allah memberinya surga. Sebab, ia dipanggil tatkala sedang bekerja.  Tertampar hati ini. Banyak sekali mengeluh. Merasa materi yang dimiliki kurang, bahagia tak sepenuhnya, lelah belajar, dan lain sebagainya. Gaya hidup yang hedon. Makan harus tiga kali sehari dengan lauk ayam ataupun ikan. Padahal, di luar sana masih banyak yang cukup sekadar meneguk segelas air, ataupun menyendok sesuap nasi. Astaghfiru...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Manis

Sudah berapa air mata mengagungkan sabda? Meraung setiap rumit ditelan pahit. Sebab, segala ingin hanya berlalu angin. Sebab, perihal harap hanya berujung ratap. Usai menulis mimpi, nyatanya tak sesuai ekspektasi. Padahal, rasa pahit tak mesti sakit. Tatkala engkau menelan obat, rasa pahit menyeruak. Padahal, ia adalah salah satu rasa menuju pulih. Biarkan pahit itu sampai di tenggorokan, dan bekerja menyembuhkan apa yang kau keluhkan. Pun tak semua manis adalah baik. Tatkala engkau candu akan manisnya minuman kemasan, kau teguk berliter dalam semalam. Maka, selamat datang berbagai penyakit yang akan menghadirkan pahit di akhir. Pun setiap jalan kehidupan. Manis berlebih juga tak selamanya berujung apik. Sesekali merasakan pahit agar segala luka kembali pulih.

Produktif

Bangun tidur mengecek ponsel, harap-harap si doi mengirimkan ucapan selamat pagi. ah, boro-boro mengucapkan selamat pagi, punya doi saja tidak, hahaha. Paling hanya sekadar melihat notifikasi serta melirik jam menunjukkan pukul berapa. Padahal sudah siang, tapi mata menolak untuk riang. Tangan kembali melaksanakan tugasnya menarik selimut menutupi seluruh badan. Pagi yang menggigil.  Pukul sepuluh, badan baru bangkit dari tempat persembunyian. Meregangkan seluruh otot untuk menyapa dunia yang sudah panas oleh cahaya mentari. Tangan mulai menuliskan to do list yang sudah terlambat itu. Brunch, apply pekerjaan, mencuci baju, menjemur baju, membersihkan kamar, menulis di blog, berlatih bahasa inggris. Kasihan sekali makhluk sepertinya yang bukan "morning person" dan cenderung kelelawar person. Ketika pagi harus mendengkur di balik selimut, tetapi malam berjaga penuh karena mata tak ingin segera beristirahat. Menjaga diri untuk tetap produktif itu perlu. Agar setiap waktu dipergu...

Menjadi Pendengar yang Baik

Menjadi pendengar yang baik. Nyatanya, skill menjadi pendengar yang baik bukanlah skill yang lama mengendap di genggaman tangan. Bukanlah bawaan lahir yang sudah mengakar kuat. Rasa tidak peduli akan urusan orang, acuh tak acuh dengan keadaan. Seolah menggambarkan seorang 'aku' saat dulu. Seolah-olah hidup hanya tentangku. Bumi berotasi dan berevolusi berpusat padaku. Kenyataannya, aku hanya butiran kerikil, sama seperti yang lain. Aku, Salma si suka bercerita. Bagian diriku yang tak dapat dipisahkan baik oleh jiwa maupun raga. Ungkapan-ungkapan bahagia, kekesalan, suka, duka, kecewa, tak pernah dusta dari mimik wajah dan gerak-gerik tubuh. Semuanya mengalir, deras tanpa tanggul yang menahan. Setiap detail kehidupanku, menjadi dongeng pengantar tidur orang lain. Tak peduli bagaimana tanggapan mereka. Tertidurkah, menyimakkah, atau masa bodokah? Seorang aku hanya berpikir bahwa kehidupan akan selalu berpusat padaku. Kini, setelah aku menjadi bagian dari keluarga Senior Residen...

Apresiasi Diri

Banyak hal yang terjadi setiap harinya. Tetapi, lantas kapan terakhir kali merasa bersyukur atas setiap hal yang terjadi? Kadang suatu hal menyakitkan pula tetap patut disyukuri sebab Allah masih memberi kita air mata untuk menangis. Walaupun taraf bersyukur saat duka rasanya sangatlah sulit. Minimal, bersyukur tatkala merasa nikmat yang diberikan-Nya begitu melimpah. Mampu bernapas setiap harinya, sehat tanpa sakit, bahagia karena berbagi. Sesimpel itu. Aku bersyukur, hari ini mampu mengendalikan emosi amarah menjadi lebih terkontrol. Tatkala pikiran mulai ruwet, mulut mendorong untuk 'ngedumel', tapi logika tetap mengatakan untuk menahan. "Tahan Salma, selesaikan pekerjaan ini dulu. Kalau sudah selesai, kamu boleh marah," Ucapku kala dihadapkan dengan tugas kelompok yang tidak kunjung selesai padahal sebentar lagi waktunya presentasi. Jobdesk temanku tak kunjung dikerjakan hingga melewati deadline pun. Dengan cepat, aku mencari jaringan wifi dan sinyal yang lebih ba...