Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Energi Negatif

Keren juga aku, sudah 6 hari tak terputus untuk menulis. Ya, meskipun tulisanku masih sangat receh dan tidak tau arahnya kemana. Tapi, semoga istiqomah deh. Untuk permulaan, yang penting nulis dulu. Entah isi tulisannya bagaimana, yang penting menulis. Kalau menunggu sempurna, nggak akan pernah selesai tulisanku. Hari ini aku akan membahas sedikit tentang kekuatan energi pada sebuah barang. Pernah nggak sih, merasa pikiran berantakan lantas kamarmu juga berantakan? Kalau aku sih, yes. Hampir selalu seperti itu. Rasanya, keadaan kamar merupakan cerminan isi kepala. Isi kepala berantakan, kamar juga. Isi kepala sedang tenang, kamar pun juga rapi.  Tapi, bagaimana kalo dibalik? Isi kamar mencerminkan isi kepala. Kamar rapi, kepala juga tenang. Kamar berantakan, isi kepala juga berantakan.  Aku pernah membaca sebuah buku, judulnya "Berbenah Jadi Duit". Bukan hanya membahas tentang bagaimana barang-barang yang tak terpakai bisa menghasilkan cuan, tapi juga sisi psikologis hubungan...

Mau Jadi Apa Ya

Sudah sekitar semingguan tidak membuka aplikasi Linkedin. Musabab tidak ada semangat mendaftar pekerjaan. Rasanya sudah muak dengan lowongan-lowongan pekerjaan, bekerja dengan orang. Tapi, kalau tidak bekerja, nanti bakal bagaimana? Manusia kan realistis saja, butuh pemasukan. Bukan semata-mata untuk membeli barang yang diinginkan, tapi mewujudkan impian-impian besar yang ingin dicapai. Selain bekerja, mungkin bisa membuka usaha. Tapi, itu juga sama-sama sulit. Bertaruh dengan kegagalan, kebangkrutan. Belum lagi modal juga tidak sedikit. Cari investor juga tidak mudah. Sebenarnya letak kesulitan utamanya adalah ilmu belum cukup. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan perencanaan, butuh ilmu untuk pengambilan keputusan. Jadi, kuncinya adalah? Ya, belajar. Menunggu mood ya tidak akan pernah muncul mood itu. Siapa sih yang kuat dengan sesuatu yang sulit apabila tidak dipaksa, terpaksa, atau kepepet?  Mungkin bisa dimulai dari mencari lingkungan yang mendukung untuk ber...

Hidup Gini Gini Aja

Terkadang ada kerinduan untuk menuliskan kalimat-kalimat motivasi tai kucing yang sering kugaungkan di sela-sela tulisan, atau di lembaran buku harianku. Meskipun hidup banyak sekali rasa-rasa, seperti susu cimory, hingga membuat tumbang, jatuh, tersungkur, berdarah-darah. Tapi, apakah yang jatuh tidak boleh bangkit? Yang berdarah-darah, tidak boleh pulih? Tentu semua ada masanya.  Punya impian banyak, tapi usahanya minim. Sepertinya harus punya bahan bakar baru untuk ngeboost semangat ini. Walaupun semangat tentu punya fasenya. Kadang naik, kadang turun. Tapi, mau sampai kapan impian yang besar itu tak kunjung dikejar dengan segera?  Ah, persetan dengan kegagalan. Melangkah dulu sajalah. Kebanyakan mikir jadi nggak maju-maju. Kali ini tulisanku singkat dulu ya. Yang terpenting, aku memenuhi targetanku untuk menulis setiap hari. Hehehe.   29/06/25 -slm 

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".   Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya.    Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya tit...

Jawaban dari "Kenapa?"

Akan kulanjutkan kembali project menulis secara rutin tanpa menghakimi bagaimana bentuk tulisanku. Bukankah hal besar juga dimulai dari sesuatu yang kecil? Maka dari itu, aku jadikan langkah kecilku ini sebagai salah satu tahapan untuk menuju sesuatu yang besar. Menulis, menjadi salah satu terapi untuk melegakan isi kepala yang riuh. Musabab tidak semua hal bisa diceritakan kepada manusia. Ada banyak hal yang ingin dijadikan rahasia diri, pun terkadang tak semua hal bisa dirangkai dengan kalimat yang mudah dimengerti oleh orang lain. Aku akan menulis, sesuatu yang hanya dimengerti oleh diriku, dan dipahami oleh diriku. Anggap saja, aku adalah dua orang berbeda yang saling menguatkan dan memeluk. Rasanya riuh sekali kepalaku. Seperti ada pasar malam yang aktif sepanjang hari, termasuk pagi dan siang. Atau, bak kegiatan pertambangan yang tak kenal siang dan malam, terus beroperasi sepanjang waktu. Tiap yang dipikirkan seperti alat-alat berat yang mengeruk tanah untuk mendapatkan sumber d...

Kembali Kepada-Nya

Langkah kaki yang telah membawa ke segala arah. Bahkan, hembusan napas yang tersengal musabab terlampau lelah. Dari ujung ke ujung telah dilalu, kesana kemari mencari jawaban dari berbagai teka-teki. "Kemana ketenangan itu hadir?" ujarnya sembari terisak.  Padahal jawabannya ada di Al-Quran   ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Ternyata, simpel. Tapi cari jawabannya kemana-mana. Mesti mengeluarkan budget liburan keluar kota, keliling kota, scroll sosial media setiap hari, bahkan menangis sepanjang malam. Astaghfirullah, astaghfirullah.    Wallahu'alam bishshawab.   Madiun, 24/06/25    

Tanpa Jawaban

lorong sunyi yang meredam bising membisikkan segenggam asa dan langkah jemari kaki berpijak pada aspal hitam legam ditiupnya semilir angin kebebasan dinyalakannya cahaya rembulan menyelinap di sela-sela jajaran teka-teki mereka bersandiwara, seolah cahaya dan angin menjawab ingin tapi langkah kaki terhenti musabab cahaya hanyalah tipu daya -slm 23/06/25

Si Kotak Abu

Jadi, aku sebenarnya bingung mau nulis tentang topik apa. Sudah mencoba melihat sekeliling untuk mencari inspirasi, nyatanya tak kunjung kutemukan sosok inspirasi itu. Melihat pintu, berpikir filosofi apa yang cocok untuk sebuah pintu. Melihat kucing, bingung juga ingin membahas hal apa pada kucing. Melihat koper, hmm tak ubahnya hanya sebuah benda kotak yang tersandar di pojok ruangan. Musabab diriku punya tantangan untuk mulai rutin menulis setiap harinya. Jadi, meski dimulai dengan tanpa inspirasi, sebuah tulisan harus tetap dihasilkan. Ah, tiba-tiba saja terbersit sesuatu. Perihal koper. Ternyata ia tak hanya sebuah benda kotak yang tersandar di pojok ruangan kamarku. Ia adalah benda yang selalu menemaniku menyusuri tempat-tempat baru. Aku baru membelinya di akhir tahun 2023, tatkala diharuskan melangkah menuju tanah Borneo.  Baju-baju, perlengkapan lainnya, semua sering kupaksakan untuk tetap "muat" tersimpan dalam benda kotak itu. Sejak akhir tahun 2023, langkahku tak p...