Langsung ke konten utama

Jawaban dari "Kenapa?"

Akan kulanjutkan kembali project menulis secara rutin tanpa menghakimi bagaimana bentuk tulisanku. Bukankah hal besar juga dimulai dari sesuatu yang kecil? Maka dari itu, aku jadikan langkah kecilku ini sebagai salah satu tahapan untuk menuju sesuatu yang besar. Menulis, menjadi salah satu terapi untuk melegakan isi kepala yang riuh. Musabab tidak semua hal bisa diceritakan kepada manusia. Ada banyak hal yang ingin dijadikan rahasia diri, pun terkadang tak semua hal bisa dirangkai dengan kalimat yang mudah dimengerti oleh orang lain. Aku akan menulis, sesuatu yang hanya dimengerti oleh diriku, dan dipahami oleh diriku. Anggap saja, aku adalah dua orang berbeda yang saling menguatkan dan memeluk.

Rasanya riuh sekali kepalaku. Seperti ada pasar malam yang aktif sepanjang hari, termasuk pagi dan siang. Atau, bak kegiatan pertambangan yang tak kenal siang dan malam, terus beroperasi sepanjang waktu. Tiap yang dipikirkan seperti alat-alat berat yang mengeruk tanah untuk mendapatkan sumber daya alam yang melimpah. Atau, wahana-wahana bianglala yang terus berputar di pasar malam. Riuhnya sukar digambarkan. Aku hanya bisa memberikan gambaran singkat dengan perumpamaan itu.

Bahkan, aku juga bingung dengan yang aku pikirkan. "Aku ini kenapa? Sebentar tenang, sebentar takut, sebentar sakit kepala."

Kemudian, aku berpikir sejenak. Kira-kira hal apa yang bisa membuatku merasa lebih baik? Aku sejenak bercengkrama dengan sisiku yang lain. Pelan-pelan, aku ingat-ingat kapan terakhir mengaji? Kapan terakhir datang ke kajian ilmu? Kapan terakhir membaca dzikir pagi petang? Kapan terakhir membaca buku? Kapan terakhir berdo'a dengan khusyu'?

Rupanya sudah sekitar 2-4 pekan yang lalu. Waktu yang kumiliki habis dengan pikiran-pikiran tak tentu. Menghabiskan waktu untuk lari kesana kemari, mencari jawaban dari banyaknya pertanyaan di kepala. Tak lantas menemukan jawaban, justru raga dan jiwa mudah sekali lelah. 

Akhirnya, aku buka lagi mushaf-ku. Aku buka lagi kajian yang biasa kudengarkan saat kepalaku mulai berisik. Memang ya, kepala dan isi beranda youtube terkadang seperti ada benang merah yang menghubungkan. Tak sengaja kutemukan topik kajian yang sesuai dengan kebutuhanku.

Saat itu, topik kajian membicarakan tentang takdir. Masih ingat dengan tulisanku bulan lalu? aku menceritakan tentang pertanyaan "kenapa" yang jawabannya tak selalu terjawab saat itu juga. Ternyata, ada perspektif lain tentang pertanyaan itu. Secara tauhid, ternyata ketika muncul pertanyaan "Kenapa aku Yaa Allah? Kenapa takdirku begini Ya Allah?" jawabannya simpel. Ya suka-suka Allah-lah. Memangnya kita siapa kok menentang takdir Allah? Kita cuma manusia, aku cuma manusia. Allah punya kuasa atas segala sesuatu, dan Allah lebih tau mana yang terbaik. 

Salah satu analogi yang dipaparkan oleh ustadz tersebut, yaitu ketika seorang ayah punya anak kecil. Anaknya minta makan permen sebelum tidur. Tentu Sang Ayah tidak akan mengizinkan kepada anaknya untuk makan permen sebelum tidur, karena tidak baik untuk kesehatan, pun untuk giginya. Sang ayah memberikan pengertian, "Boleh, tapi besok ya setelah bangun tidur." Tapi, tidak mungkin Sang Anak iya-iya saja dan mendengarkan penuturan ayahnya. Sang anak merengek dan menangis, tetap minta permen saat itu juga.

Sama halnya ketika aku minta kepada Allah. "Yaa Allah aku mau A." Aku merasa bahwa A ini baik bagiku. Tapi Allah tak kunjung mengabulkan permintaanku. Bisa saja bukan berarti Allah tak mengabulkan, hanya saja Allah lebih tau mana yang terbaik. Allah menunda dalam mengabulkan permintaan itu karena mungkin ketika dikabulkan saat itu juga, justru akan berdampak buruk bagiku. Seperti permen tadi. Ketika diberikan saat itu juga, akan mengganggu kesehatan sang anak. 

Pesan cinta Allah itu luar biasa. Tapi untuk sampai tahap memahami pesan cinta itu, perlu waktu yang tak sebentar. Aku perlu mengaktifkan seluruh indera-- indera perasa, mata, hati, kepala, telinga. 

Kedua, pesan cinta Allah ini juga bisa dianalogikan sebagai seorang ayah yang punya anak. Kemudian, anaknya hidup dengan penuh manja. Apapun dikabulkan, tidak perlu ia bersusah payah. Hasilnya? banyak anak yang tidak bisa survive ketika tanpa ayah, atau tumbuh dengan menyepelekan dan menganggap semua keinginannya bisa terkabul. Berbeda dengan anak yang diajari cara mandiri, berjuang untuk keinginannya sendiri, ia akan lebih memahami sebuah proses. Maka ketika ia memperoleh apa yang ia inginkan, ia tidak lantas sombong dan justru lebih menghargai perjuangan.

Sama halnya ketika Allah mengabulkan apapun yang kita minta, tanpa harus berjuang terlebih dahulu. Mungkin ke depannya kita akan sombong dan merasa semua itu mudah. Tidak perlu proses, berjuang. Sedangkan ketika Allah menunda jawaban permintaan kita, kita akan terus berjuang. Maka, ketika sudah mendapatkan keinginan tersebut, akan lebih mampu menghargai setiap prosesnya. 

Kurang lebih seperti itu yang dapat aku petik hikmahnya. Jawaban "Kenapa" memang tak harus terjawab saat itu juga. Selain karena itu memang hak Allah untuk berkehendak, juga mengajarkan kepada kita menghargai setiap proses.

Wallahu'alam bishshawab.

 

- slm

Madiun, 25/06/25 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merefleksikan Pertemuan

 "Aku tau bagaimana ada di posisimu, pasti memerlukan waktu yang cukup lama untuk benar-benar lupa," Ujar salah seorang temanku. Tak dipungkiri, menyingkirkan perasaan cinta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, izinkan aku untuk terus berusaha. Hingga kemudian Tuhan berkata, "Kulapangkan dadamu, Kujadikan ikhlas hatimu." Walaupun tidak tahu kapan itu akan terjadi. Pertemuan malam ini, ketika kita rekan satu kelas kembali bercengkrama. Membahas kondisi terkini, atau sejenak memelihara memori empat tahun silam.  Topik obrolan kita tak jauh perihal masa lalu. Aku kembali memanggil memori itu, lagi. Tak terkecuali tentangmu. Tiga bulan, kesibukan tak lantas melepaskanmu dari ingatan. Aku tidak tahu jenis kenangan seperti apa yang lantas membuatku tak kunjung melupakanmu. Kita hanya bercengkrama melalui pesan singkat, saling mencuri pandang saat bertemu, berkabar melalui telepon. Kita tak pernah saling memeluk, ataupun menggenggam tangan. Kita tak benar-b...

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...