Langsung ke konten utama

Mau Jadi Apa Ya

Sudah sekitar semingguan tidak membuka aplikasi Linkedin. Musabab tidak ada semangat mendaftar pekerjaan. Rasanya sudah muak dengan lowongan-lowongan pekerjaan, bekerja dengan orang. Tapi, kalau tidak bekerja, nanti bakal bagaimana? Manusia kan realistis saja, butuh pemasukan. Bukan semata-mata untuk membeli barang yang diinginkan, tapi mewujudkan impian-impian besar yang ingin dicapai.

Selain bekerja, mungkin bisa membuka usaha. Tapi, itu juga sama-sama sulit. Bertaruh dengan kegagalan, kebangkrutan. Belum lagi modal juga tidak sedikit. Cari investor juga tidak mudah. Sebenarnya letak kesulitan utamanya adalah ilmu belum cukup. Sehingga jika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan perencanaan, butuh ilmu untuk pengambilan keputusan. Jadi, kuncinya adalah? Ya, belajar. Menunggu mood ya tidak akan pernah muncul mood itu. Siapa sih yang kuat dengan sesuatu yang sulit apabila tidak dipaksa, terpaksa, atau kepepet? 

Mungkin bisa dimulai dari mencari lingkungan yang mendukung untuk bertumbuh. Seperti yang diucapkan seseorang di podcast tentang bisnis yang baru saja kudengar. "Kalau mau jadi pembisnis, cari lingkungan yang juga pembisnis. Mereka akan memberikan dukungan, menceritakan pengalaman. Bukan menakut-nakuti untuk berbisnis."

Mungkin seperti itu.

 

30/06/25

-slm 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...