lorong sunyi yang meredam bising
membisikkan segenggam asa
dan langkah jemari kaki
berpijak pada aspal hitam legam
ditiupnya semilir angin kebebasan
dinyalakannya cahaya rembulan
menyelinap di sela-sela jajaran teka-teki
mereka bersandiwara,
seolah cahaya dan angin menjawab ingin
tapi langkah kaki terhenti
musabab cahaya hanyalah tipu daya
-slm
23/06/25
Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya. Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...
Komentar
Posting Komentar