Langsung ke konten utama

Energi Negatif

Keren juga aku, sudah 6 hari tak terputus untuk menulis. Ya, meskipun tulisanku masih sangat receh dan tidak tau arahnya kemana. Tapi, semoga istiqomah deh. Untuk permulaan, yang penting nulis dulu. Entah isi tulisannya bagaimana, yang penting menulis. Kalau menunggu sempurna, nggak akan pernah selesai tulisanku.

Hari ini aku akan membahas sedikit tentang kekuatan energi pada sebuah barang. Pernah nggak sih, merasa pikiran berantakan lantas kamarmu juga berantakan? Kalau aku sih, yes. Hampir selalu seperti itu. Rasanya, keadaan kamar merupakan cerminan isi kepala. Isi kepala berantakan, kamar juga. Isi kepala sedang tenang, kamar pun juga rapi. 

Tapi, bagaimana kalo dibalik? Isi kamar mencerminkan isi kepala. Kamar rapi, kepala juga tenang. Kamar berantakan, isi kepala juga berantakan. 

Aku pernah membaca sebuah buku, judulnya "Berbenah Jadi Duit". Bukan hanya membahas tentang bagaimana barang-barang yang tak terpakai bisa menghasilkan cuan, tapi juga sisi psikologis hubungan manusia dengan barang. Ternyata, menyimpan barang sangat berkaitan dengan keadaan psikologis seseorang.

Mungkin, itu memang benar, Karena aku juga pernah dengar hal serupa, membaca entah dari mana. Jikalau sedang stress, maka cobalah bergerak, bersih-bersih rumah. Niscaya akan meredakan isi kepala yang riuh. Setelah aku buktikan, ternyata memang benar. Ketika menyimpan barang terlalu banyak, menumpuk dalam jangka waktu yang lama, justru akan menimbun energi negatif. Apalagi jika barang tersebut memang tidak dapat digunakan atau tidak tau kapan akan digunakan lagi. 

Salah satu tahapan kecil yang bisa dilakukan dalam melakukan "Bersih-bersih" versiku, yaitu bisa dimulai dari dompet. Lah, kenapa dompet? Bukan berarti membersihkan dan membuang uang-uang di dompet ya, hahaha. Pernah nggak sih, kamu menyimpan struk-struk dari minimarket, struk parkir, struk dari ATM, ke dalam dompet dan dibiarkan mengendap berbulan-bulan. Tumpukan kertas yang tak digunakan lagi, dibiarkan menjejali dompet yang tak ada uangnya itu, hahaha. Aku pernah! dan itu ternyata secara tidak langsung bisa membuat stress loh. Nah, aku biasanya memulai kegiatan bersih-bersih dengan membuang kertas-kertas tak terpakai yang ada di dompet. Kemudian, aku mengurutkan uang-uang kertas dari nominal besar ke nominal terkecil. Ternyata, kerapihan dompet bisa mengurangi rasa stress dan memudahkan ketika ingin mengeluarkan uang untuk membayar.

Selanjutnya, baru mensortir barang di tempat tinggal. Caranya bagaimana? Kamu bisa memulai dari barang-barang yang mengendap paling lama di tempat tinggalmu. Apabila dalam jangka waktu lama, ternyata barangmu tetap tidak terpakai, berarti sudah waktunya dikeluarkan dari tempat tinggal. Aku membuat sistem time blocking. Misalnya kubiarkan saja barang A hingga maksimal 6 bulan. Jika tidak terpakai, akan kubuang atau kusumbangkan ke orang lain. 

Aku baru menerapkan ini sekali sih, ketika mensortir baju. Ternyata bajuku ada banyak, tapi sudah tidak terpakai. Maka baju yang masih layak dan baik, kuberikan ke orang yang lebih membutuhkan. Manfaatnya banyak sekali ternyata. Rumah jadi lebih bersih, mengurangi stress menumpuk barang, bahkan yang lebih gongnya adalah menambah kebahagiaan karena barang tersebut masih bermanfaat bagi orang lain.

Semua yang kulakukan di atas adalah penerapan dari buku yang kubaca tadi, juga dari podcast-podcast yang berseliweran di media sosial. Karena selama ini fokusnya adalah pikiran stress maka kamar berantakan. Kini coba aku balik jadi "Kamar berantakan maka pikiran stress". Lumayan worth it juga. Barangkali bisa kamu coba juga. Semoga bisa jadi terapi untuk pikiranmu ya.

 

Selasa, 01 Juli 2025

- salma 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...