Langsung ke konten utama

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".
 
Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya. 
 
Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya titipan Tuhan yang dengan kehendak-Nya dititipkan kepadamu untuk kau jaga, kau rawat, kau sayangi. Tapi ketika mereka pergi, tak lantas dapat disebut sebagai kehilangan. Namun, sebagian dari kita merasa ada yang hilang. Padahal tak benar-benar memiliki. Karena merasa terlalu mencintai, sehingga berat melepaskan yang pergi. Padahal ya terserah-Nya mau ambil kapanpun.
 
Sedikit penasaran, aku mencari tau eksistensi kepemilikan. Musabab rasanya banyak sekali rasa kehilangan dari dalam jiwaku. Hilang arah, hilang pekerjaan, hilang semangat. Pun, takut kehilangan hal-hal lain yang masih menjadi skenario buruk di kepala. Aku pun tau, sumber dari rasa kehilangan adalah rasa kepemilikan terhadap sesuatu itu. Aku merasa memiliki hidup, memiliki pekerjaan, memiliki semangat. Dan rasa kepemilikan muncul ketika kadar mencintai sudah mulai meningkat, atau bahkan memang sejak awal sudah sangat mencintai. Kemudian, aku membuka youtube. Berusaha mencari jawaban dari pertanyaanku tentang sebuah kepemilikan dan mencintai.
 
Muncul salah seorang pengajar, pendakwah, dosen filsafat, yang membagikan insight menarik terkait dengan cinta. Aku mendengarkan, lalu kutuliskan sedikit ucapannya secara garis besar. Akan kuceritakan sedikit di sini, untuk tetap mengikat ilmu tersebut.
 
Banyak orang salah menafsirkan bahwa cinta itu memiliki. Tapi, para filsuf tidak sependapat. Cinta lebih dari sekadar memiliki. Mungkin selama ini mengaku cinta, padahal hanya takut kesepian, merasa ada ketergantungan. Cinta juga bukan memiliki. Sebab, ketika sudah memiliki, rasanya akan kehilangan minat dengan sesuatu yang ia rasa sebagai memiliki. Sifat manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki saat ini. Selalu ingin lebih karena merasa "segini saja bisa, nanti juga harus bisa dapat lebih lagi". Cinta itu seperti melihat sekuntum bunga yang tumbuh dengan baik. Membiarkannya tumbuh dengan baik, menjadi lebih indah, tanpa harus memetiknya dan menjadikan ia milikmu. 
 
Menurutku, ini masuk akal. Kenapa ada rasa kehilangan? Ya, simpelnya karena merasa memiliki. Padahal cinta tidak harus memiliki. Cinta itu ketulusan, memberi tanpa mengharap kembali. Membiarkan sesuatu yang dicintai tumbuh menjadi indah, tanpa mengekangnya dengan kepemilikan.
 
Tulisanku kali ini agak kemana-mana ya. Tapi kamu nggak harus paham kok. Sebab, aku menuliskannya untuk diriku sendiri, hehehe. 
 
Gampang ya ternyata. Tidak perlu merasa memiliki agar tak takut kehilangan. Tapi, prakteknya tentu tidak semudah tulisan. 
 
 
- slm
27/06/25 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...