Langsung ke konten utama

Si Kotak Abu

Jadi, aku sebenarnya bingung mau nulis tentang topik apa. Sudah mencoba melihat sekeliling untuk mencari inspirasi, nyatanya tak kunjung kutemukan sosok inspirasi itu. Melihat pintu, berpikir filosofi apa yang cocok untuk sebuah pintu. Melihat kucing, bingung juga ingin membahas hal apa pada kucing. Melihat koper, hmm tak ubahnya hanya sebuah benda kotak yang tersandar di pojok ruangan. Musabab diriku punya tantangan untuk mulai rutin menulis setiap harinya. Jadi, meski dimulai dengan tanpa inspirasi, sebuah tulisan harus tetap dihasilkan.

Ah, tiba-tiba saja terbersit sesuatu. Perihal koper. Ternyata ia tak hanya sebuah benda kotak yang tersandar di pojok ruangan kamarku. Ia adalah benda yang selalu menemaniku menyusuri tempat-tempat baru. Aku baru membelinya di akhir tahun 2023, tatkala diharuskan melangkah menuju tanah Borneo. 

Baju-baju, perlengkapan lainnya, semua sering kupaksakan untuk tetap "muat" tersimpan dalam benda kotak itu. Sejak akhir tahun 2023, langkahku tak pernah berhenti menyusuri belahan bumi Indonesia, meskipun hanya beberapa bagian, hehehe. Berawal dari keberanianku menempuh pendidikan sarjana di sebuah kota mepet Jakarta, aku jadi berani kemana-mana sendiri. Tak terkecuali terbang melintasi pulau untuk bekerja selama beberapa bulan disana, pada awal tahun 2024. Pertama kalinya aku membawa si kotak berwarna abu-abu itu untuk menaiki pesawat. Sebenarnya, itu adalah flight ketigaku, setelah pulang pergi Jakarta-Lombok dan Surabaya-Labuan Bajo. Tapi, mungkin langkahku ke tanah Borneo sedikit berbeda dengan perjalananku menginjak pulau berbeda sebelumnya. Saat itu, aku berkewajiban untuk bekerja.

Setelah itu, kubawa juga koper kotak abu-abu kembali pulang ke rumah ketika lebaran tahun 2024 tiba. Menyusuri bandara Juanda, menaiki kereta dari Stasiun Gubeng, hingga turun di Kota Madiun. Ia juga kubawa menaiki motor matic yang besarnya tak sebanding dengan ukuran badan si kotak abu-abu, hahaha. Untung punya ayah yang selalu bersemangat mengantarkan kemanapun aku pergi, menjemputku dimanapun aku ingin dijemput.

Selepas itu, kubawa kembali si kotak abu-abu menuju Jakarta. Pekerjaan yang tidak jelas. Tiba-tiba ditugaskan ke Jakarta selama 2 minggu. Setelah 2 minggu itulah, aku mengundurkan diri dari pekerjaan itu dan kembali membawa si kotak abu-abu pulang ke rumah.

Perjalanan tak berhenti di situ. Si kotak abu-abu nyatanya sangat betah kuajak berkeliling. Satu bulan setelahnya, aku kembali membawanya menuju Semarang, kota yang mataharinya ada lima, alias sangat panas. Selama bekerja di Semarang, aku ditugaskan dinas ke Solo 2 kali. Tetap kubawa si kotak abu-abu itu. Hingga kontrak berakhir, kubawa lagi si abu-abu pulang ke rumah.

Akhir tahun 2024, sepertinya si kotak abu-abu merindukan kemacetan Jakarta. Kembali, aku menjadi budak korporat di Jakarta selama kurang lebih 5 bulan. Dan ia masih setia menemani. Meskipun bagian roda sudah mulai koyak musabab terbentur tangga besi laknat yang ada di kosan. Hingga akhirnya mesti kubawa ia kembali ke rumah dalam keadaan agak menyedihkan, dengan tambalan lakban. 

Kasihan sekali ya, kamu. Nanti semoga aku ada rezeki lebih untuk mencari temanmu, biar nggak cuma kamu yang bisa aku andalkan di semua situasi dan kondisi. Sampai-sampai kini terluka pun harus dipaksa menemaniku kemana-mana. Tapi, kamu nggak bosan kan menemaniku? Nanti kuperbaiki bagian yang rusak, agar tetap bisa menemaniku. Aku janji tidak akan memaksakan kamu memuat barang yang lebih banyak melebihi kapasitasmu.

Jadi, setelah ini mau menemaniku kemana? Tunggu ya, semoga ada kabar baik lagi. Hehehe.

 

Madiun, 17/06/25

-sal

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merefleksikan Pertemuan

 "Aku tau bagaimana ada di posisimu, pasti memerlukan waktu yang cukup lama untuk benar-benar lupa," Ujar salah seorang temanku. Tak dipungkiri, menyingkirkan perasaan cinta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, izinkan aku untuk terus berusaha. Hingga kemudian Tuhan berkata, "Kulapangkan dadamu, Kujadikan ikhlas hatimu." Walaupun tidak tahu kapan itu akan terjadi. Pertemuan malam ini, ketika kita rekan satu kelas kembali bercengkrama. Membahas kondisi terkini, atau sejenak memelihara memori empat tahun silam.  Topik obrolan kita tak jauh perihal masa lalu. Aku kembali memanggil memori itu, lagi. Tak terkecuali tentangmu. Tiga bulan, kesibukan tak lantas melepaskanmu dari ingatan. Aku tidak tahu jenis kenangan seperti apa yang lantas membuatku tak kunjung melupakanmu. Kita hanya bercengkrama melalui pesan singkat, saling mencuri pandang saat bertemu, berkabar melalui telepon. Kita tak pernah saling memeluk, ataupun menggenggam tangan. Kita tak benar-b...

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...