Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Hanya Menunggu Giliran

Ternyata, aku diberi waktu lebih di dunia ini, di saat tidak berkutik dengan pekerjaan, tak lain tak bukan adalah untuk berpikir. Merenung setiap proses yang dilalui, merenungi di setiap kejadian yang menimpa, dan mengambil pelajaran darinya. Tanpa pekerjaan, tidak lantas membuatku tak bekerja. Mencari makna setiap kehendak Tuhan kepadaku, mencari arti dari sebuah takdir. Walaupun pemahamanku belum mencapai sempurna, tapi aku mengambil setitik pelajaran dari luasnya lautan.  Di usia 23 tahun, aku melihat rekan seusiaku menikah. Aku juga melihat mereka bekerja, aku melihat mereka berkelana keliling dunia. Tapi, aku juga turut menyaksikan sebagian darinya berjuang di balik dinding rumah sakit, melawan berbagai penyakit. Semua itu tak lebih menyayat hati, tatkala terpampang jelas, bahwa juga ada rekan seusiaku tiba-tiba dipanggil ilahi, menghadap Rabb-nya.  Aku melihat bagaimana adanya pernikahan yang menyatukan keluarga, membentuk generasi baru. Pun di waktu yang sama, Allah pan...

Salma dan Lukanya

Suara-suara yang kubenci kembali nyaring di telinga. Bentakan kasar, ungkapan menyakiti, semua terekam oleh pendengaranku. Aku hanya bersembunyi di balik pelukan hangat makhluk berbulu, kucingku. Mengelusnya sembarang, memeluknya erat, tak mau kehilangan. Musabab ia satu-satunya makhluk yang tak pernah melukaiku dan meninggalkanku.  Di balik tembok kamar aku kembali terisak. Lagi, dan lagi. Luka itu tak kunjung pulih. Kembali perih, sedih, pedih. Entah sampai kapan penderitaan ini kugenggam. Entah sampai mati? Entah sampai tuhan mencabut nyawaku? Entah sampai aku menyerahkan diri kepada tuhan? aku tak tahu.  Menjadi anak semata wayang tak lantas yang paling di sayang. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Ia memeluk lukanya sendiri. Senin, 25 November 2024 -slm

Air Mata Malam Hari

 ".. Aku juga manusia. Aku berhak untuk marah, bersedih, pun bahagia." Agaknya, aku mematok bahwa hidup yang ideal adalah terus menjadi "baik". Padahal, selalu ada sisi manusiawi yang tidak semua dikatakan baik. Menahan emosi, menolak menangis.  Aku punya rekomendasi buku yang siap menemani kamu menangis. Kalau sedang ingin menangis tapi tertahan, sepertinya buku ini sangat cocok. Kepingan rindu kepada ibu, rasanya tertuang dalam setiap goresan jemari Boy Candra. Tidak perlu membaca berjam-jam, karena tidak sampai satu jam aku berhasil menyelesaikan buku ini. Bonus mata bengkak, hidung tersumbat, haha. Setiap tulisannya mampu memvalidasikan perasaan.  Aku masih belum sanggup menceritakannya lebih jauh lagi. Sebab, air mataku saja belum mengering. Baca saja, nanti tahu sendiri. Semarang, 2 Sept 2024

Sertakan Tuhan di Setiap Langkah

  "Jangan sekali-kali kau ambil keputusan tanpa melibatkan Tuhan. Sebab, ketika kau merasa salah memilih, kau akan menyalahkan dirimu berulang kali." Saat ini, aku sedang menganut ungkapan tersebut. Memilih menjadi salah satu challenge terbesar di hidupku, karena akan menimbulkan dampak yang begitu luar biasa ke depannya. Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang bervariasi, tergantung pilihan dalam bentuk apa. Contohnya saja, ketika aku memilih pekerjaan. Aku memutuskan untuk merantau ke kalimantan timur. Berbekal 'merasa' gaji sudah cukup serta benefit-benefit lainnya yang akan ku dapat, aku memutuskan yakin bekerja di tanah borneo. Nyatanya, segala janji manis owner perusahaan hanyalah semu. Aku terjebak dengan lingkungan yang buruk. Hingga akhirnya aku hanya bertahan 6 bulan saja bekerja di sana. Barangkali, saat itu aku tidak benar-benar menyerahkan segala urusanku kepada Tuhan. Aku termakan oleh narasi duniawi yang memanjakan angan.  Sekarang, aku sudah bekerja ...

Gadis di Kedai kopi

Entah sudah seberapa parah penyakit lambung yang ia derita. Rupanya itu tak membuatnya semakin menyanyangi lambungnya. Kebiasaan minum kopi dan makan pedas sudah mendarah daging. Tak lantas menjadikannya kedai kopi sebagai tempat terlarang, atau menghirup aroma kopi sebagai sesuatu yang dicegah. Kini ia tetap disini, menyantap segelas kopi susu seperti biasa. Kadangkala ia mencoba caramel machiatto, atau capuccino. Akan tetapi, kopi susu gula aren menjadi comfort coffee yang masih menjadi andalan. Sebab aroma kopi sama nikmatnya dengan perasaan kepadamu yang tak pernah mati. Sebab sakit lambung yang kuderita masih lebih baik daripada sakit ditinggalkan olehmu. Sebab duduk bersamamu di kedai kopi masih menjadi anganku yang selalu kurapalkan setiap hari. Gadis di kedai kopi yang duduk di ujung kursi. Sembari menatap jendela dengan pucat pasi. Alangkah malang nasibnya saat ini. -salma Madiun, 21 Mei 2024

Puisi - Yang Digenggam, Yang Hilang

lagi, nestapa gulana di lorong sakit aroma kimiawi dan pilu mengancam mati gadis kecil tak tau arah kesana kemari mulutnya komat kamit menyebut mantra sambil digenggamnya tiang dunia merapalkan harapan tidak kehilangan tuhan, kehendak-Nya adalah terbaik ditinggalkan pun rupanya yang terbaik mulutnya jadi terbungkam sebab saksikan kehilangan aroma kimiawi terakhir sebelum semua berakhir Madiun, 17 Mei 2024

Pembelajaran 1: Kendalikan yang Dapat Dikendalikan

 "Kendalikan apa yang bisa dikendalikan. Abaikan apa yang di luar kendalimu." Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk menjejali isi pikiran saya saat ini. Sebab, hidup selama hampir 23 tahun sadar tak sadar membuat saya selalu ingin menyenangkan semua orang, tanpa terkecuali. Ketika segala hal terjadi di luar keinginan saya, rasanya seperti mengecewakan banyak orang yang mungkin menaruh 'harap' pada saya. Contoh kecilnya, saya jadi teringat semasa sekolah menengah akhir. Saya duduk di kelas akselerasi. Ya, percepatan. Normalnya, SMA dihabiskan selama 3 tahun, tapi saya hanya membutuhkan waktu 2 tahun untuk lulus. Sudah pasti siswa-siswi akselerasi bukanlah kaleng-kaleng. Mereka adalah pilihan. Saat itu, saya sedang belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian akhir madrasah, kita sebut UAMBN. Ini merupakan ujian akhir madrasah yang menguji mata pelajaran agama islam, seperti Fiqih, Akidah Akhlak, Qur'an Hadits, hingga Bahasa Arab. Kalau tidak salah, saat ...

Duduk di Kedai Kopi

Kira-kira sebodoh apakah aku? Setiap langkah kaki menuju jalanan kota, harapku selalu bertemu dirimu dengan keadaan yang tiba-tiba. Minimal, aku bisa melihat sosokmu terkini. Walaupun aku sudah hafal betul senyumanmu, tapi aku tak pernah bosan melihatnya, lagi dan lagi. Namun, apalah daya. Di antara ratusan ribu manusia yang menjelajahi kota, aku selalu berharap ada kamu salah satunya. Seperti yang ku lakukan sekarang, menyendiri dengan tujuan menenangkan isi kepala dari berbagai cengkrama. Nyatanya, isi kepalaku semakin bising meski aku sudah duduk mojok di jendela kedai kopi kesukaanku.  Jumat, 12 April 2024

Merefleksikan Pertemuan

 "Aku tau bagaimana ada di posisimu, pasti memerlukan waktu yang cukup lama untuk benar-benar lupa," Ujar salah seorang temanku. Tak dipungkiri, menyingkirkan perasaan cinta memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, izinkan aku untuk terus berusaha. Hingga kemudian Tuhan berkata, "Kulapangkan dadamu, Kujadikan ikhlas hatimu." Walaupun tidak tahu kapan itu akan terjadi. Pertemuan malam ini, ketika kita rekan satu kelas kembali bercengkrama. Membahas kondisi terkini, atau sejenak memelihara memori empat tahun silam.  Topik obrolan kita tak jauh perihal masa lalu. Aku kembali memanggil memori itu, lagi. Tak terkecuali tentangmu. Tiga bulan, kesibukan tak lantas melepaskanmu dari ingatan. Aku tidak tahu jenis kenangan seperti apa yang lantas membuatku tak kunjung melupakanmu. Kita hanya bercengkrama melalui pesan singkat, saling mencuri pandang saat bertemu, berkabar melalui telepon. Kita tak pernah saling memeluk, ataupun menggenggam tangan. Kita tak benar-b...

Mencoba Bercerita #2

Hampir saja saya terlupa menulis kembali di hari kedua ini. Padahal baru hari kedua, tapi sudah mau tumbang saja, hahaha. Kalau ditanya apakah hari-hari saya full produktif? Mungkin saya hanya bisa menjawab dengan tertawa. Menjadi serius terus menerus agaknya cukup melelahkan. Maka dari itu, saya mencoba sedikit lebih rileks untuk menghadapi apapun termasuk obrolan mulai awal tahun ini. Setelah pulang dari rumah tetangga tadi sore, saya dan kedua orang tua mengobrol ringan di ruang tamu. Yang satu sembari menikmati biskuit r*ma kelapa dan minum teh, yang satu rebahan di lantai musabab cuaca Madiun tengah panas sekali. Sedangkan saya duduk di kursi sembari menaikkan satu kaki dan membawa botol minum berisi air putih. Obrolan kami memang tidak pernah direncanakan, selalu mengalir begitu saja. “Bagaimana sal? Sudah berhenti mengajar?” Tanya ibu. Saya hanya mengangguk. “Sepertinya murid-murid saya takut sama saya, bu.” Saya melanjutkan. “Loh, kenapa bisa?” Ibu saya kembali bertanya. “S...

Mencoba Bercerita #1

Ketika saya memutusan untuk mencoba kembali menulis, ada rasa ragu menyelinap disana. “Bagaimana jika saya tidak konsisten? Bagaimana jika hanya semangat di awal saja?” Tapi, segala kekhawatiran itu saya tepis dengan kalimat “mulai saja dulu”. Saya akan memulai #30haribercerita dengan cerita tidak penting yang baru saya alami kemarin. Malam tahun baru identik dengan perayaan, bersenang-senang. Tapi, bukan itu poin yang ingin saya sampaikan. Bagi saya, malam tahun baru adalah waktu yang tepat untuk mencari makanan/minuman diskon dan berburu promo. Beberapa brand menawarkan potongan harga yang sangat menggiurkan otak-otak konsumtif saya, ah-saya ralat, saya tidak sekonsumtif itu. Sebut saja brand kopi J, dan brand kopi P. Saya yang merupakan anak super mager ini ingin mencari minuman kopi yang bisa langsung saya minum tanpa pergi ke store-nya. Dan brand yang tersedia untuk delivery order di daerah saya yaitu brand P. Lumayan, cukup merogoh kocek sebesar 25 ribu rupiah saya sudah mend...