Langsung ke konten utama

Postingan

Masih Hidup

Normalnya, manusia bekerja 8-10 jam sehari. Tapi, sepertinya sebagian besar manusia juga melakukan hal anomali dengan menghabiskan hampir 16 jam waktunya untuk bekerja, dan hanya tiga sampai empat jam waktu untuk tidur. Aku, mungkin bagian dari sebagian besar manusia anomali tersebut. Menghabiskan waktu matahari yang terik hingga tenggelam, hanya di depan laptop sembari mengerjakan banyak hal. Tapi, tak lantas kusebut sebagai produktif. Mungkin itu yang membedakanku dengan manusia lainnya. Terkadang, tak satupun pekerjaanku yang selesai meski waktu sudah kuhabiskan tiga perempat hari, hanya untuk mengamati layar laptop. Seperti kosong. Ia hanya ingin tetap hidup, seperti manusia pada umumnya. Walaupun entah apa yang ia lakukan. Hampa. Kosong. Tidak tau dengan inginnya. Ataukah, barangkali yang ia inginkan tak kunjung didapatkan? Tidak ada waktu mengeluh. Sudah waktunya terus berjalan, melakukan apapun yang bisa mengalihkan pikiran-pikiran buruk. Walaupun sesekali mesti mengusap wajah s...

Hiduplah Sehari Lagi, dan Sehari Lagi

Barangkali, tidak ada pilihan lain selain... Tetap hidup. Mungkin, menjadi tetap hidup adalah satu-satunya cara paling efektif tatkala merasa takut dengan api neraka, takut meninggalkan dunia dengan cara paksa, takut meninggalkan orang-orang yang sedih karena kepergianku. Aku percaya, dari banyaknya orang tidak peduli dengan keberadaanku, masih ada satu atau dua orang yang bersyukur aku ada. Setidaknya, meski hanya satu atau dua orang. Kadang merasa tidak berguna dalam hidup. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, mati sama saja tak bergunanya. Ada satu kekurangan dari mengakhiri hidup secara paksa, yakni membuat orang-orang yang menyayangiku bersedih. Tak apalah tetap hidup, setidaknya hanya untuk membuat beberapa orang tetap tersenyum. Sebab, mati pun masih akan menyusahkan. Harus membiayai pemakamanku, pengajian, dan lain sebagainya. Aku masih ingin menggunakan waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk memohon ampun. Aku tahu, sisi positifku biasanya tidak bertahan lama. Hanya 2-3 hari saja....

Berantakan

Sudah lama tidak menulis. Aku memaksakan diri membuka halaman blog, meski hanya sekadar mengetik beberapa kalimat. Tidak ada kalimat motivasi yang ingin kubagi. Hari ini hanya ingin menerima ruwetnya benang di kepalaku. Merasa sudah berusaha, tapi tak kunjung mendapatkan hasil. Takdir seperti tidak berpihak padaku. Sejak kecil, sudah susah. Sampai dewasa tetap susah. Dikejar umur orang tua yang kian menua, dikejar target menikah yang semakin dekat, tapi aku belum jadi apa-apa. Mimpiku banyak, tapi seperti cuma jadi mimpi. Umur produktif, tapi tidak mampu memberikan dampak apapun. Tak layak diberikan kebahagiaan, sebab kapasitasnya belum cukup untuk menerimanya. Merasa diri tak layak menjadi pasangan siapapun, sebab masih berantakan. Sebagai anak pun, belum bisa sepenuhnya berbakti. Konflik dengan kondisi rumah tak pernah menemui ujung. Setiap hari membuat orang sekitarku merasa terbebani sebab harus menghadapi sisi "Salma yang lain" ketika pikirannya semrawut. Tidak bisa tidu...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati yang Kotor

Hati yang kotor tidak bisa memberikan perintah kepada akal untuk berpikir ke depan. Hati dibagi menjadi 3: 1. Hati yang sehat 2. Hati yang sakit 3. Hati yang mati Apa indikator hati kita adalah hati yang sehat? Imam Ibnu Rajab menyampaikan, ada 6 indikator ketika seseorang hatinya bersih. Pertama, kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduannya kepada lapar dan minum. Orang yang hatinya sehat, selalu melakukan sesuatu untuk Allah, ada kerinduan untuk senantiasa berdagang dengan Allah. Misalnya ketika bangun tidur, langsung berpikir apa saja yang bisa dikhidmahkan kepada Allah, misalnya memilih bekerja untuk Allah. Apapun yang dilakukan atas dasar beribadah kepada Allah. Kedua, selalu merasa ingin taat kepada Allah. Orang yang hatinya sehat, selalu ingin menghadirkan ketaatan kepada Allah, sensitif ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah. Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah berbuat dosa maksiat, tapi hati yang sehat adalah hati yang sensitif ketika berbuat dosa, selalu ingin...

Memilih Tetap Hidup

Sebenarnya, hidup tanpa arah juga tidak baik dan tidak menyenangkan sama sekali. Tapi, kalo dipikir-pikir, mati pun tak memberikan manfaat apa-apa kepada siapapun. Apalagi jika menjemput kematian secara paksa, sebelum waktunya dipanggil. Alih-alih memperoleh kebahagiaan, justru mesti menanggung pertanggung jawaban di dunia. Sedang, aku saja masih punya utang matcha latte ke salah satu mantan rekan kerjaku. Selalu lupa untuk menghubunginya minta nomor rekening. Ketika memaksakan diri untuk mati, bisa jadi justru merepotkan orang lain. Kalau memilih loncat ke sungai, harus meribetkan tim sar mencari. Kalau menyakiti diri sendiri menggunakan benda tajam, alamak pedihnya terasa sekali di kulit. Kalau meminum racun serangga di kamar, alamak kasihan kedua orang tua yang menemukan badan kaku yang ternyata anaknya sendiri. Membayangkan saja tak kuasa. Aku terlalu egois apabila mengikuti bisikan-bisikan setan yang tidak jelas itu. Ternyata mati pun tak memberikan efek apa-apa pada dunia. Dunia ...

Memutar Waktu

Tempo hari, aku menonton sebuah film yang menceritakan tentang seorang wanita yang diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Ia berkeinginan mengubah hidup seorang laki-laki yang ia cintai, untuk hidup lebih sehat, agar di masa depan lelaki tersebut bisa hidup lebih lama. Tapi, apalah daya. Meskipun ia diberikan kesempatan kembali ke masa lalu, ternyata ia tak mampu mengubah apapun. Sebab, ada tiga hal yang tidak bisa diubah di dunia ini, yakni masa lalu, rasa sakit, dan kematian. Barangkali, keadaannya sama denganku. Ingin memutar waktu. Jika aku diberi kesempatan kembali ke masa lalu, mungkin aku memilih tidak dilahirkan agar tidak perlu susah payah menghadapi kehidupan dunia yang rumit. Mungkin, jika diberi kesempatan, aku mau bertukar posisi saja dengan kakakku yang sudah menghadap-Nya di usia satu bulan di dunia. Meninggal dalam kondisi masih suci, sudah pasti masuk surga dan siap mengantarkan kedua orang tua untuk menuju surga-Nya.  Ah, berat sekali mengemban amanah in...