Tempo hari, aku menonton sebuah film yang menceritakan tentang seorang wanita yang diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Ia berkeinginan mengubah hidup seorang laki-laki yang ia cintai, untuk hidup lebih sehat, agar di masa depan lelaki tersebut bisa hidup lebih lama. Tapi, apalah daya. Meskipun ia diberikan kesempatan kembali ke masa lalu, ternyata ia tak mampu mengubah apapun. Sebab, ada tiga hal yang tidak bisa diubah di dunia ini, yakni masa lalu, rasa sakit, dan kematian.
Barangkali, keadaannya sama denganku. Ingin memutar waktu. Jika aku diberi kesempatan kembali ke masa lalu, mungkin aku memilih tidak dilahirkan agar tidak perlu susah payah menghadapi kehidupan dunia yang rumit. Mungkin, jika diberi kesempatan, aku mau bertukar posisi saja dengan kakakku yang sudah menghadap-Nya di usia satu bulan di dunia. Meninggal dalam kondisi masih suci, sudah pasti masuk surga dan siap mengantarkan kedua orang tua untuk menuju surga-Nya.
Ah, berat sekali mengemban amanah ini. Menjadi manusia yang utuh, bermanfaat, menjaga kedua orang tuaku selama di dunia. Tak bisakah kamu saja, Kak Afra yang menggantikanku? Kenapa dulu kamu pergi dan membiarkanku menjadi anak satu-satunya? Setidaknya, jangan biarkan aku sendiri, kak. Minimal ajak aku, atau kita tukar posisi. Aku sudah terlalu dewasa untuk pergi dari dunia ini secara tiba-tiba. Sebab, setelah aku pergi pasti banyak sekali kesedihan dan tanggung jawab yang kutinggalkan di dunia. Kalau masih seumuran kamu, mungkin orang-orang tidak akan seberat itu untuk melepaskanku. Saat ini dosaku sudah menumpuk, dan aku takut mati, karena tahu tidak akan semudah itu masuk ke surga-Nya. Tapi, kalau aku pergi bersamamu sejak pertama kali lahir, sepertinya akan sangat mudah aku kekal di surga-Nya.
Kak, kenapa harus aku yang menjaga ayah ibu? Aku nggak sanggup sendirian. Kenapa aku ditinggalkan kamu kak? Aku bahkan tidak pernah bertemu denganmu, tapi rasanya rindu sekali. Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku tak sanggup? Bagaimana kalau aku menyerah?
Aku berhasil jadi kebanggaan ayah ibu, kak. Dari dulu ayah ibu selalu mendengar namaku dan nama mereka dipanggil di atas panggung, entah menjadi juara lomba, peringkat pertama, atau bahkan lulusan terbaik. Tapi, aku sampai sekarang belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mereka, kak. Aku gagal di pekerjaan, dan punya trauma untuk berpasangan dengan manusia. Aku nggak tahu tujuanku terus hidup untuk apa kalau nggak menghasilkan apa-apa. Mau menyusul saja sama kakak, tapi aku takut mati sebab dosaku masih banyak dan kasihan sama ayah ibu karena saat ini mereka cuma punya aku. Aku harus gimana ya kak?
Kak, tiap malam aku nangis. Aku sampai lelah karena bangunku selalu melebihi jam sholat subuh, sebab sering tidak bisa tidur malam. Aku kehilangan nikmat sholat subuh tepat waktu, kak. Sebab tiap malam aku menangis, meski aku pun tidak tahu alasan aku menangis. Aku memilih terus memejamkan mata walau mendengar adzan berkumandang, karena kepalaku selalu berat, mataku perih. Allah lama-lama marah ke aku kali ya, kak. Tapi, aku masih terus mengaji walaupun kadang hanya sebagai rutinitas.
Kak, jangan kecewa sama aku ya. Meskipun aku banyak kurangnya, aku akan tetap hidup. Setidaknya untuk terus jagain ayah ibu di dunia. Nanti kalau ternyata aku nggak masuk surga, tetap bawa ayah ibu ke surga ya. Kalau bisa angkut aku, sekalian ya hahaha. Rindu Kak Afra banyak-banyak. I love you, i miss you so much.
- slm
Senin, 21 Juli 2025
Komentar
Posting Komentar