Langsung ke konten utama

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati yang Kotor

Hati yang kotor tidak bisa memberikan perintah kepada akal untuk berpikir ke depan.

Hati dibagi menjadi 3:

1. Hati yang sehat

2. Hati yang sakit

3. Hati yang mati

Apa indikator hati kita adalah hati yang sehat? Imam Ibnu Rajab menyampaikan, ada 6 indikator ketika seseorang hatinya bersih.

Pertama, kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduannya kepada lapar dan minum. Orang yang hatinya sehat, selalu melakukan sesuatu untuk Allah, ada kerinduan untuk senantiasa berdagang dengan Allah. Misalnya ketika bangun tidur, langsung berpikir apa saja yang bisa dikhidmahkan kepada Allah, misalnya memilih bekerja untuk Allah. Apapun yang dilakukan atas dasar beribadah kepada Allah.

Kedua, selalu merasa ingin taat kepada Allah. Orang yang hatinya sehat, selalu ingin menghadirkan ketaatan kepada Allah, sensitif ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah. Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah berbuat dosa maksiat, tapi hati yang sehat adalah hati yang sensitif ketika berbuat dosa, selalu ingin mengganti perbuatan-perbuatan dosa tersebut dengan kebaikan-kebaikan. Analogi sederhana, hati yang bersih diibaratkan dengan mobil warna putih. Mobil putih cenderung dihindari untuk dipilih karena dirasa akan cepat terlihat kalau kotor. Sedangkan, mobil hitam lebih menyamarkan noda-noda jika terdapat noda pada mobil tersebut. Seperti hati manusia, hati yang putih, bersih, cenderung lebih sensitif terhadap dosa, yang diibaratkan sebagai noda tadi.

Ketiga, sangat bakhil terhadap waktu. Bakhil terhadap waktu lebih besar daripada bakhil terhadap harta. Orang yang hatinya bersih, sangat pelit membelanjakan waktunya untuk hal-hal tidak bermanfaat. 

 

.. to be continue

- slm

Madiun, 26 Juli 2025   

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Januari

Januari, misteri. Banyak tawa menghiasi permulaan tahun. pun air mata sebab jiwa dan raga seorang Salma terus menerus bertarung dengan adaptasi di tempat baru, teman baru, kondisi yang baru. Januari, dimana workload bekerja sedang berkurang, walau tak lantas kosong melompong. Banyak hal baru yang harus segera dimengerti.  Januari, kembali memilih asing. Seseorang yang selalu kuceritakan kepadamu tiba-tiba datang lagi tanpa diminta. Padahal berkali kali kuminta pada Tuhan untuk ikhlaskan hati menerima kenyataan. Bahwa saat itu aku, kita saling meninggalkan. Ternyata aku belum siap menghadapi hal-hal besar lainnya. Kembali, aku memilih jalan untuk asing. Memberi jarak agar kita bertumbuh. Januari, toilet kantor menjadi tempat favorit kedua setelah kamar kostku. Dimana aku bisa melepas pusing, penat, emosi. Kala pekerjaan sudah semakin berat, aku memilih duduk sejenak di toilet untuk menghela napas. Terima kasih toilet, setidaknya aku tidak harus bergabung pada manusia tatkala merasa ...