Langsung ke konten utama

Memilih Tetap Hidup

Sebenarnya, hidup tanpa arah juga tidak baik dan tidak menyenangkan sama sekali. Tapi, kalo dipikir-pikir, mati pun tak memberikan manfaat apa-apa kepada siapapun. Apalagi jika menjemput kematian secara paksa, sebelum waktunya dipanggil. Alih-alih memperoleh kebahagiaan, justru mesti menanggung pertanggung jawaban di dunia. Sedang, aku saja masih punya utang matcha latte ke salah satu mantan rekan kerjaku. Selalu lupa untuk menghubunginya minta nomor rekening.

Ketika memaksakan diri untuk mati, bisa jadi justru merepotkan orang lain. Kalau memilih loncat ke sungai, harus meribetkan tim sar mencari. Kalau menyakiti diri sendiri menggunakan benda tajam, alamak pedihnya terasa sekali di kulit. Kalau meminum racun serangga di kamar, alamak kasihan kedua orang tua yang menemukan badan kaku yang ternyata anaknya sendiri. Membayangkan saja tak kuasa.

Aku terlalu egois apabila mengikuti bisikan-bisikan setan yang tidak jelas itu. Ternyata mati pun tak memberikan efek apa-apa pada dunia. Dunia masih berputar, orang-orang kantoran masih tetap ngantor, teman-temanku juga masih tetap ngafe cantik. Yang kasihan justru orang tuaku. Meratapi anak semata wayangnya yang terbujur kaku. Alamak, belum lagi harus kekal di neraka. Aku tidak mau.

Mau bagaimanapun keadaan dunia, menyerah bukan solusi. Sebab, mau mati pun masih tetap menyusahkan orang lain. Lebih baik tetap hidup, meski hanya demi mendengar kucingku mengeong acapkali aku memandang ke arahnya, atau karena segelas es kopi yang ingin kucoba dari beragam coffee shop, pun sekecil ingin rebahan seharian menonton film. Setidaknya, di posisi itu, aku tidak menyusahkan orang lain.

Terima kasih, sudah bertahan. Selanjutnya, semoga terus bertahan.

 

-slm

23 Juli 2025 

23.03 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Januari

Januari, misteri. Banyak tawa menghiasi permulaan tahun. pun air mata sebab jiwa dan raga seorang Salma terus menerus bertarung dengan adaptasi di tempat baru, teman baru, kondisi yang baru. Januari, dimana workload bekerja sedang berkurang, walau tak lantas kosong melompong. Banyak hal baru yang harus segera dimengerti.  Januari, kembali memilih asing. Seseorang yang selalu kuceritakan kepadamu tiba-tiba datang lagi tanpa diminta. Padahal berkali kali kuminta pada Tuhan untuk ikhlaskan hati menerima kenyataan. Bahwa saat itu aku, kita saling meninggalkan. Ternyata aku belum siap menghadapi hal-hal besar lainnya. Kembali, aku memilih jalan untuk asing. Memberi jarak agar kita bertumbuh. Januari, toilet kantor menjadi tempat favorit kedua setelah kamar kostku. Dimana aku bisa melepas pusing, penat, emosi. Kala pekerjaan sudah semakin berat, aku memilih duduk sejenak di toilet untuk menghela napas. Terima kasih toilet, setidaknya aku tidak harus bergabung pada manusia tatkala merasa ...