Sebenarnya, hidup tanpa arah juga tidak baik dan tidak menyenangkan sama sekali. Tapi, kalo dipikir-pikir, mati pun tak memberikan manfaat apa-apa kepada siapapun. Apalagi jika menjemput kematian secara paksa, sebelum waktunya dipanggil. Alih-alih memperoleh kebahagiaan, justru mesti menanggung pertanggung jawaban di dunia. Sedang, aku saja masih punya utang matcha latte ke salah satu mantan rekan kerjaku. Selalu lupa untuk menghubunginya minta nomor rekening.
Ketika memaksakan diri untuk mati, bisa jadi justru merepotkan orang lain. Kalau memilih loncat ke sungai, harus meribetkan tim sar mencari. Kalau menyakiti diri sendiri menggunakan benda tajam, alamak pedihnya terasa sekali di kulit. Kalau meminum racun serangga di kamar, alamak kasihan kedua orang tua yang menemukan badan kaku yang ternyata anaknya sendiri. Membayangkan saja tak kuasa.
Aku terlalu egois apabila mengikuti bisikan-bisikan setan yang tidak jelas itu. Ternyata mati pun tak memberikan efek apa-apa pada dunia. Dunia masih berputar, orang-orang kantoran masih tetap ngantor, teman-temanku juga masih tetap ngafe cantik. Yang kasihan justru orang tuaku. Meratapi anak semata wayangnya yang terbujur kaku. Alamak, belum lagi harus kekal di neraka. Aku tidak mau.
Mau bagaimanapun keadaan dunia, menyerah bukan solusi. Sebab, mau mati pun masih tetap menyusahkan orang lain. Lebih baik tetap hidup, meski hanya demi mendengar kucingku mengeong acapkali aku memandang ke arahnya, atau karena segelas es kopi yang ingin kucoba dari beragam coffee shop, pun sekecil ingin rebahan seharian menonton film. Setidaknya, di posisi itu, aku tidak menyusahkan orang lain.
Terima kasih, sudah bertahan. Selanjutnya, semoga terus bertahan.
-slm
23 Juli 2025
23.03
Komentar
Posting Komentar