Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati yang Kotor

Hati yang kotor tidak bisa memberikan perintah kepada akal untuk berpikir ke depan. Hati dibagi menjadi 3: 1. Hati yang sehat 2. Hati yang sakit 3. Hati yang mati Apa indikator hati kita adalah hati yang sehat? Imam Ibnu Rajab menyampaikan, ada 6 indikator ketika seseorang hatinya bersih. Pertama, kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduannya kepada lapar dan minum. Orang yang hatinya sehat, selalu melakukan sesuatu untuk Allah, ada kerinduan untuk senantiasa berdagang dengan Allah. Misalnya ketika bangun tidur, langsung berpikir apa saja yang bisa dikhidmahkan kepada Allah, misalnya memilih bekerja untuk Allah. Apapun yang dilakukan atas dasar beribadah kepada Allah. Kedua, selalu merasa ingin taat kepada Allah. Orang yang hatinya sehat, selalu ingin menghadirkan ketaatan kepada Allah, sensitif ketika melakukan kemaksiatan kepada Allah. Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah berbuat dosa maksiat, tapi hati yang sehat adalah hati yang sensitif ketika berbuat dosa, selalu ingin...

Memilih Tetap Hidup

Sebenarnya, hidup tanpa arah juga tidak baik dan tidak menyenangkan sama sekali. Tapi, kalo dipikir-pikir, mati pun tak memberikan manfaat apa-apa kepada siapapun. Apalagi jika menjemput kematian secara paksa, sebelum waktunya dipanggil. Alih-alih memperoleh kebahagiaan, justru mesti menanggung pertanggung jawaban di dunia. Sedang, aku saja masih punya utang matcha latte ke salah satu mantan rekan kerjaku. Selalu lupa untuk menghubunginya minta nomor rekening. Ketika memaksakan diri untuk mati, bisa jadi justru merepotkan orang lain. Kalau memilih loncat ke sungai, harus meribetkan tim sar mencari. Kalau menyakiti diri sendiri menggunakan benda tajam, alamak pedihnya terasa sekali di kulit. Kalau meminum racun serangga di kamar, alamak kasihan kedua orang tua yang menemukan badan kaku yang ternyata anaknya sendiri. Membayangkan saja tak kuasa. Aku terlalu egois apabila mengikuti bisikan-bisikan setan yang tidak jelas itu. Ternyata mati pun tak memberikan efek apa-apa pada dunia. Dunia ...

Memutar Waktu

Tempo hari, aku menonton sebuah film yang menceritakan tentang seorang wanita yang diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Ia berkeinginan mengubah hidup seorang laki-laki yang ia cintai, untuk hidup lebih sehat, agar di masa depan lelaki tersebut bisa hidup lebih lama. Tapi, apalah daya. Meskipun ia diberikan kesempatan kembali ke masa lalu, ternyata ia tak mampu mengubah apapun. Sebab, ada tiga hal yang tidak bisa diubah di dunia ini, yakni masa lalu, rasa sakit, dan kematian. Barangkali, keadaannya sama denganku. Ingin memutar waktu. Jika aku diberi kesempatan kembali ke masa lalu, mungkin aku memilih tidak dilahirkan agar tidak perlu susah payah menghadapi kehidupan dunia yang rumit. Mungkin, jika diberi kesempatan, aku mau bertukar posisi saja dengan kakakku yang sudah menghadap-Nya di usia satu bulan di dunia. Meninggal dalam kondisi masih suci, sudah pasti masuk surga dan siap mengantarkan kedua orang tua untuk menuju surga-Nya.  Ah, berat sekali mengemban amanah in...

Ruwet

Tak terasa, aku sudah skip menulis selama 4 hari. Hari ini hari memasuki hari kelima dan aku memutuskan kembali menulis. Isi kepala yang terlalu berisik, membuatku enggan atau bahkan tak mampu menuliskannya dalam bentuk kata. Terucap pun seperti tercekat di tenggorokan. Hari-hari terasa semakin berat. Mungkin musabab iman juga sedang dilanda badai. Tidak sekokoh gedung-gedung pencakar langit. Hanya seperti seutas benang yang dihembuskan oleh angin pantai. Banyak sekali yang terjadi. Konflik batin dan pikiran yang berkecamuk di kepala. Kadang membuatku salah mengetik, sebab isi kepala dan apa yang ingin diketik seperti tidak sinkron. Semakin tidak betah berlama-lama di rumah. Semakin khawatir dengan masa depan. Semakin merasa tidak siap menikah. Semakin merasa mundur dari langkah yang sudah kutempuh beberapa meter.  Perjalanan kali ini, rasanya dibawa mundur oleh waktu. Alih-alih berjalan menuju mimpi, justru rasanya semakin jauh. Beberapa hal dimudahkan, tapi dalam waktu yang sama ...

Kosong

Bahkan sudah setengah jam laptop terbuka, memandangku yang tengah menengok kesana kemari memikirkan sesuatu untuk ditulis. Pun, jiwanya ia panggil untuk menghadirkan panggilan-panggilan yang bersemayam di dalam rongga hatinya yang beku. Tetap saja, rasanya enggan menuliskan beberapa kalimat yang ingin disampaikan. Entah terlalu rumit, ataukah tidak berselera.  Sore tadi, lampu di kamarnya padam. Sudah waktunya diganti yang baru. Seperti semangatnya untuk tetap berjalan, berdiri, menyusuri perjalanan hidupnya. Mati. Sudah waktunya diganti yang baru. Ah, atau diperbaiki saja sudah cukup? Memasuki hari keempat, mempersiapkan usaha kecil-kecilan ini agar segera tumbuh membesar. Tuhan, aku ingin menyempurnakan separuh agamaku. Berikan aku kemudahan-kemudahan dalam mengumpulkan rezeki untuk mencapainya. Rizqi-Mu sangatlah luas, dan perkenankanlah aku menjemputnya dengan cara yang Engkau ridhoi. Rasanya tidak tahu ingin menuliskan apa. Sebab suara-suara hati yang ingin diungkapkan terasa ...

Role Model

Sekarang aku tau, kehidupan seperti apa yang kuinginkan di masa depan. Kamu kenal Natasha Rizky? Selebriti tanah air yang karirnya melejit karena memerani di beragam film. Aku mengaguminya, bukan sebagai pemeran film, tapi perjalanan hijrahnya yang membawanya sampai titik sekarang. Caranya mengasuh anak-anaknya yang selalu menanamkan nilai-nilai tauhid dan kehidupan, hingga profesinya menjadi penulis buku. Meskipun perjalanan cintanya harus berakhir, tapi ia tetap bersinar. Menjadi diri sendiri dan berdiri di kaki sendiri. Beberapa hal yang menjadi inspirasiku untuk terus bertumbuh. Kisahnya yang tak menyerah dengan kegagalan di percintaan, kemudian menghasilkan karya-karya luar biasa. Serta kehidupan pribadinya yang dikelilingi oleh teman yang baik, rutinitas yang bermanfaat, dan bahagia. Entah, tidak ada yang benar-benar tahu kondisi seseorang. Aku hanya seorang pengamat yang hanya mengetahui apa yang nampak dari luar dan yang dibagikan saja. Aku bukan circle ring satu, ataupun saha...

Langkah Kecil, Bergerak

Memang, tidak ada pilihan lain untuk menghadapi rasa malas selain melawannya. Keadaan yang terkunci oleh pikiran sendiri, meratapi keadaan yang tak kunjung pulih, atau menangisi takdir yang tak sesuai harapan, semua itu tak akan mampu merubah apapun. Sejenak, memang perlu waktu untuk kembali tersadar, bahwa inilah kondisi aslinya, inilah kenyataannya. Beberapa saat, memang perlu mencerna keadaan, sehingga tak lantas langsung memahami kenyataan. Meratapi keadaan adalah hal yang wajar, apabila dilakukan dalam jangka waktu tertentu saja. Kalau sudah berlebihan, mungkin waktunya sesegera mungkin menyudahi. Salah satu langkah awal untuk kembali ke kenyataan adalah kembali bergerak. Semula apabila tidur, maka duduklah. Semula apabila memejamkan mata, maka bukalah mata selebar-lebarnya. Semula apabila menunduk, tengadahlah dan hadapi. Setidaknya, satu langkah kecil itulah yang akan membawa kita ke perjalanan-perjalanan panjang yang ada di depan. Semula memilih kasur sebagai tempat menghabiska...

Percobaan ke-N: Kerjakan Sampai Batas Kemampuan

Sesuatu yang sudah berulang kali dilakukan, selalu punya masa "pertama kali". Mengendarai motor misalnya. Kegiatan yang rutin dilakukan untuk mengantarkan diri pulang pergi bekerja, tentu punya masa pertama kali-nya. Mengendarai motor pertama kali, apakah tiba-tiba langsung bisa memacu gas dengan kecepatan 60 km/jam? Tentu tidak. Bahkan di tahap pertama kalinya mengendarai motor, masih disibukkan dengan penggunaan gas dan rem yang tidak seimbang, cara memarkir dengan baik, pun tidak jarang ada yang harus mengalami jatuh dari motor.  Sama halnya dengan yang kulakukan hari ini. Pertama kali membuat salad sayur. Terdengar simpel, tapi yang namanya percobaan pertama, tidak semuanya langsung berhasil. Aku, yang sangat jarang memotong sayur, harus belajar bagaimana memotong sayur dengan benar. Meskipun beberapa kali menertawai diri sendiri, sebab bentuk sayur yang kupotong tidak ada yang sama. Mungkin kalau masuk masterchef, aku adalah peserta pertama yang pulang sebelum kompetisi ...

Semangkuk Seblak dan Kebahagiaan

Memang ya, menulis harus dilakukan ketika matahari masih dengan gagahnya berdiri di atas kepala. Sebab, ketika cahayanya sudah luntur oleh temaram malam, keinginan untuk menulis juga kadang sama tenggelamnya dengan mentari. Lelah akumulasi seharian, ataupun sibuk mengerjakan yang lain, sehingga menulis menjadi sesuatu yang tidak diprioritaskan. Dengan sisa-sisa tenaga, aku tetap berusaha menyelesaikan tulisan ini hingga akhir. Mungkin, aku akan berbagi sedikit rasa syukur dari semangkuk seblak. Agak tidak penting, tapi tak apa lah yang penting masih ada hal baik yang bisa dituliskan. Semangkuk seblak, kubeli sejak sore tadi. Hanya sekadar memenuhi ingin yang telah lama tidak terobati oleh aroma kencur dan kuah pedas. Sudah direncanakan untuk dilahap semuanya sendiri. Sore itu, setelah seblak ada di genggaman tangan, secara reflek aku membukanya dan membagi ke mangkuk yang lain. Pergerakan yang di luar rencana. Ada tiga wadah, untukku, ayah, dan ibu. Padahal, sebelumnya hanya ingin kuha...

Sedekah

Banyak sekali alasan ketika harus bersedekah. Menunggu kaya lah, banyak uang, banyak harta dan berkecukupan. Seringkali berharap, Tuhan memberikan harta yang melimpah, dengan dalih "Aku ingin bersedekah yang banyak, jadi aku ingin kaya Yaa Allah." Sebenarnya itu tidak salah, dan sah-sah saja. Akan tetapi, banyak juga manusia yang sudah kaya, justru merasa berat hati untuk mengeluarkan sepeser rupiah demi bersedekah.  Bisa saja, rasanya setelah bekerja susah payah, akan merasa berat apabila harus mengeluarkan uang. Kerja keras siang malam, menabung puluhan tahun, eh harus bersedekah dalam jumlah banyak. Mungkin, ada perasaan tidak rela. Nah, poinnya di sini, aku bukan mengatakan bahwa niat ingin kaya agar bisa bersedekah lebih banyak adalah buruk. Tapi, kalau sedekah di kondisi pas-pasan seperti sekarang saja susah, apalagi nanti? Bukannya sedekah itu perlu dibiasakan ya? Kalau tidak terbiasa, akan menjadi lebih susah ke depannya.  Kalau sedekahnya saat kondisi pas-pasan, bera...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Rapel Tulisan

Sudah dua hari aku libur menulis. Susah sekali memang untuk konsisten. Ya sudah, hukuman buatku yang absen untuk menulis adalah harus merapel tulisan dan mengkalikannya menjadi dua kali. Sudah dua hari absen, lantas harus menyelesaikan empat tulisan sekaligus ditambah satu tulisan yang memang sudah seharusnya dituliskan di hari itu.  Aku mau menulis tentang Firdaus lagi, hahaha. Tadi kubiarkan ia bermain di kamarku. Menyusuri bawah meja, kasur, kemudian menggigit lenganku sampai berbekas. Dia terlihat bahagia sekali, lari kesana kemari, aktif, lincah. Sesekali ndusel ke lenganku, ke kepalaku, dan mencium jidatku. Kadang, kalau lagi cuek ya cuek sekali. Dipanggil tak pernah menoleh. Tetapi, jika sudah manja, ya manja sekali. Rasanya seperti disayang sekali oleh makhluk itu. Pengen kupeluk tiap saat walaupun kelakuannya terkadang seperti reog. Tidak bisa diam. Ya, namanya juga sayang. Mau bagaimanapun kekurangannya, tetap diterima, kan? Ini soal kucing kok, hahaha.   -slm Minggu...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...