Langsung ke konten utama

Semangkuk Seblak dan Kebahagiaan

Memang ya, menulis harus dilakukan ketika matahari masih dengan gagahnya berdiri di atas kepala. Sebab, ketika cahayanya sudah luntur oleh temaram malam, keinginan untuk menulis juga kadang sama tenggelamnya dengan mentari. Lelah akumulasi seharian, ataupun sibuk mengerjakan yang lain, sehingga menulis menjadi sesuatu yang tidak diprioritaskan.

Dengan sisa-sisa tenaga, aku tetap berusaha menyelesaikan tulisan ini hingga akhir. Mungkin, aku akan berbagi sedikit rasa syukur dari semangkuk seblak. Agak tidak penting, tapi tak apa lah yang penting masih ada hal baik yang bisa dituliskan.

Semangkuk seblak, kubeli sejak sore tadi. Hanya sekadar memenuhi ingin yang telah lama tidak terobati oleh aroma kencur dan kuah pedas. Sudah direncanakan untuk dilahap semuanya sendiri. Sore itu, setelah seblak ada di genggaman tangan, secara reflek aku membukanya dan membagi ke mangkuk yang lain. Pergerakan yang di luar rencana. Ada tiga wadah, untukku, ayah, dan ibu. Padahal, sebelumnya hanya ingin kuhabiskan sendiri dalam satu mangkuk. Ayah yang melihatku tengah membagi seblak, antusias menghampiri. Bertanya, seolah bingung, "Ini makanan apa?" Rupanya jajanan anak muda ini memang belum pernah menyentuh golongan baby boomers seperti ayahku. Sedang, ibuku tengah asyik mengurus kucing-kucing adopsinya yang sedang jadwalnya makan.

Ayah antusias mencoba seblak, bahkan mencampurnya dengan nasi. Sungguh agak di luar prediksi BMKG, tapi namanya juga masyarakat konoha yang apapun makanan disandingkan dengan nasi. 

Rasa seblak hari ini sedikit berbeda, lebih nikmat dari biasanya. Padahal aku hanya memakan sepertiga dari porsi normal, tapi aku bisa kenyang sampai malam tiba. Malam pun beberapa kali bersendawa, dan rasanya kencur, hahaha. 

Rasa seblak hari ini sedikit berbeda, tak seperti seblak yang biasa kubeli saat di Jakarta dan Bogor, yang biasanya kunikmati sendiri, dengan porsi full. Sedikit, tapi lebih nikmat. Sebab, kedua orang tuaku turut merasakan apa yang membuatku bahagia, semangkuk seblak. Ternyata, seporsi seblak lebih enak dimakan bertiga daripada sendiri. Ataukah, sebenarnya yang kuinginkan bukan seblaknya? Entahlah. Semoga nanti aku menemukan jawabannya. 

 

-slm

Madiun, 8 Juli 2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Skripsi, Apa Kabar?

Awal Februari sudah mendengar kabar teman sekelas yang telah menyelesaikan skripsi dan baru saja selesai melaksanakan seminar hasil. Sedang aku, masih sibuk menentukan bagaimana caraku untuk memulai mengerjakannya. Januari awal, terakhir kali aku membuka draft skripsi yang membuatku mual itu. Meskipun sudah kuberi nama “skripsweet” di folder, tetapi tetap saja rasanya tidak ada manis-manisnya. Memang salahku, sejak menentukan judul sudah ada rasa berat hati dan keraguan. Judul yang bagiku terlalu kompleks, literatur yang tidak banyak, hingga proses pengambilan data yang lama. Membuatku berpikir dua kali untuk mengambil judul itu. Tapi, apalah daya dosen pembimbing meminta aku dan teman-teman seperbimbingan untuk penelitian dengan cara menanam. Hati kecilku berteriak ingin sebatas mengambil data sekunder. Yasudah, tak apa. Sedikit menyesal, karena aku yang tidak berani dengan pendapatku. Merasa tidak enak dengan dosen. Sekarang, ketika menjalaninya justru berat hati. Aduh, malas...

Januari

Januari, misteri. Banyak tawa menghiasi permulaan tahun. pun air mata sebab jiwa dan raga seorang Salma terus menerus bertarung dengan adaptasi di tempat baru, teman baru, kondisi yang baru. Januari, dimana workload bekerja sedang berkurang, walau tak lantas kosong melompong. Banyak hal baru yang harus segera dimengerti.  Januari, kembali memilih asing. Seseorang yang selalu kuceritakan kepadamu tiba-tiba datang lagi tanpa diminta. Padahal berkali kali kuminta pada Tuhan untuk ikhlaskan hati menerima kenyataan. Bahwa saat itu aku, kita saling meninggalkan. Ternyata aku belum siap menghadapi hal-hal besar lainnya. Kembali, aku memilih jalan untuk asing. Memberi jarak agar kita bertumbuh. Januari, toilet kantor menjadi tempat favorit kedua setelah kamar kostku. Dimana aku bisa melepas pusing, penat, emosi. Kala pekerjaan sudah semakin berat, aku memilih duduk sejenak di toilet untuk menghela napas. Terima kasih toilet, setidaknya aku tidak harus bergabung pada manusia tatkala merasa ...