Langsung ke konten utama

Sedekah

Banyak sekali alasan ketika harus bersedekah. Menunggu kaya lah, banyak uang, banyak harta dan berkecukupan. Seringkali berharap, Tuhan memberikan harta yang melimpah, dengan dalih "Aku ingin bersedekah yang banyak, jadi aku ingin kaya Yaa Allah." Sebenarnya itu tidak salah, dan sah-sah saja. Akan tetapi, banyak juga manusia yang sudah kaya, justru merasa berat hati untuk mengeluarkan sepeser rupiah demi bersedekah. 

Bisa saja, rasanya setelah bekerja susah payah, akan merasa berat apabila harus mengeluarkan uang. Kerja keras siang malam, menabung puluhan tahun, eh harus bersedekah dalam jumlah banyak. Mungkin, ada perasaan tidak rela.

Nah, poinnya di sini, aku bukan mengatakan bahwa niat ingin kaya agar bisa bersedekah lebih banyak adalah buruk. Tapi, kalau sedekah di kondisi pas-pasan seperti sekarang saja susah, apalagi nanti? Bukannya sedekah itu perlu dibiasakan ya? Kalau tidak terbiasa, akan menjadi lebih susah ke depannya. 

Kalau sedekahnya saat kondisi pas-pasan, berarti sudah yakin bahwa sedekah nggak mengurangi nominal yang dimiliki, tapi justru menambah keberkahan dan nikmat yang berkali lipat dari yang dikeluarkan. Sehingga, ketika di kondisi berkecukupan pun tidak akan takut untuk mengeluarkan nominal yang banyak, karena yakin bahwa keberkahan yang didapat jauh lebih besar dari nominal yang dikeluarkan. Jadi, nggak ada lagi perasaan tidak ikhlas, tidak rela.

Entahlah. Bisa saja pikiranku salah. Tapi aku hanya berbagi isi kepalaku saja kok, hehehe. Toh juga tidak akan ada yang membaca selain diriku sendiri, hahaha.

 

-slm

Madiun, 07 Juli 2025 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dejavu

Senja kembali pada kidungnya. Sahutan adzan berkumandang, menandakan maghrib sudah datang. Adzan maghrib pertama di bulan Muharram, dikombinasikan hari jumat yang merupakan hari yang baik, rasanya merupakan waktu yang tepat untuk melantunkan doa. Tapi niat itu sirna, tatkala air mata tiba-tiba datang bertamu. Gemetar sekujur badan. Rasa-rasa yang ditakutkan kembali menjadi tamu yang tak diundang. Sesuatu yang ditakutkan sungguh-sungguh terjadi. Tapi, kabar baiknya adalah aku sudah lebih siap mendengar tamu yang tak diundang itu. Musabab sebelumnya sudah memperbaiki pola pikir, banyak charge iman agar pikiran-pikiran setan tidak menjadi dominan dalam pengambilan keputusan. Keadaan saat itu, gemetar di tangan, air mata yang lolos satu persatu, adalah keadaan yang lebih baik. Mungkin. Jika tanpa iman dan rasa pasrah terhadap kehendak-Nya, aku memilih menyudahi perjalanan panjang ini yang tak kunjung menemukan ujungnya.  Semoga aku tidak bodoh kali ini. Memilih menghadapi kejadian seru...

Pertemuan Kembali

Sebenarnya aku tidak mau lagi menuliskan tentang apapun yang pada akhirnya membuatku terus mengenang. Tapi rasanya terlalu indah apabila harus disimpan di kepala saja. Maaf ya, aku gatal sekali ingin memvisualisasikan dalam bentuk tulisan. Setelah sekitar delapan tahun tidak bercengkrama secara langsung, malam itu ia hadir, tak lagi menjelma sebagai bayangan yang selalu kusemogakan di tiap malam dan gumam. Suaranya, aku ingat betul bagaimana suaranya yang menenangkan. Berhasil membuat jantungku berdebar diikuti dengan gemetar di tangan. Suasana malam yang berisik, di tengah hiruk pikuk manusia, rasanya sunyi sebab yang kudengar hanya suaranya, yang kulihat hanya raganya. Rasanya seperti tidak nyata. Seseorang yang seringkali kubayangkan menemaniku menyantap segelas kopi, kini sungguh nyata ada di depanku. Duduk, mendengarkan celotehanku yang tak ada habisnya. Sesekali menyeka matanya yang mulai basah. Aku tidak tahu, apakah matanya terkena iritasi atau menangis, hahaha. Delapan tahun, ...

Keputusan

Konon katanya, ketika kita melepaskan sesuatu karena Allah, kita akan mendapatkan ganti yang lebih baik.  Hari ini, kembali membuat keputusan sulit, memilih tidak mengambil tawaran pekerjaan, padahal aku juga sedang butuh pemasukan. Bukan tidak butuh pekerjaan, tapi hanya memahami bagaimana porsi tanggung jawab yang semestinya aku laksanakan. Bekerja jarak jauh saja masih dilanda mood yang tidak stabil, sehingga beberapa kali kewalahan sebab pekerjaan harus dikebut di waktu-waktu tertentu ketika sudah "terpaksa" diselesaikan. Bagaimana nanti mengemban amanah yang lebih besar? Alih-alih melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, yang ada justru merasa stress dan tidak komitmen dengan keputusan yang telah diambil. Kalau stress saja, mungkin bisa termaafkan dan diterima, sebab tidak merugikan orang lain. Tapi kalau tanggung jawab tidak terlaksana dengan baik? Sudah pasti merugikan orang lain. Aku tidak ingin menggadaikan integritas dan tanggung jawabku hanya demi menabung yang t...