Langsung ke konten utama

Role Model

Sekarang aku tau, kehidupan seperti apa yang kuinginkan di masa depan. Kamu kenal Natasha Rizky? Selebriti tanah air yang karirnya melejit karena memerani di beragam film. Aku mengaguminya, bukan sebagai pemeran film, tapi perjalanan hijrahnya yang membawanya sampai titik sekarang. Caranya mengasuh anak-anaknya yang selalu menanamkan nilai-nilai tauhid dan kehidupan, hingga profesinya menjadi penulis buku. Meskipun perjalanan cintanya harus berakhir, tapi ia tetap bersinar. Menjadi diri sendiri dan berdiri di kaki sendiri.

Beberapa hal yang menjadi inspirasiku untuk terus bertumbuh. Kisahnya yang tak menyerah dengan kegagalan di percintaan, kemudian menghasilkan karya-karya luar biasa. Serta kehidupan pribadinya yang dikelilingi oleh teman yang baik, rutinitas yang bermanfaat, dan bahagia. Entah, tidak ada yang benar-benar tahu kondisi seseorang. Aku hanya seorang pengamat yang hanya mengetahui apa yang nampak dari luar dan yang dibagikan saja. Aku bukan circle ring satu, ataupun sahabat baiknya.

Sesuatu yang tergambar di kepalaku, kehidupan menjadi seorang penulis yang produktif dan menjadikan kegelisahan menjadi tulisan, mengadakan book talk & poetry reading di banyak negara berbeda, tetap mempertahankan syariat islam dalam berpakaian dan bersosial, memiliki anak yang pintar dan sholih/sholihah, menikmati matcha dan kopi hampir setiap hari, memiliki bisnis gamis dan hijab, dan masih banyak sekali kehidupannya yang menjadi inspirasiku. Masyaa Allah.

Semoga hal-hal baik yang ada padanya bisa kucontoh ya. Semua indah, kecuali tentang perpisahannya dengan suaminya. Semoga aku kecipratan dan suatu hari bisa merasakan hal baiknya, plus ditemani suami yang baik pula dan selalu bersama hingga surga-Nya. Aamiin.

Minimal, aku sudah tau kehidupan seperti apa yang aku impikan.

 

-slm

Madiun, 11 Juli 2025 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".   Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya.    Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya tit...