Memang, tidak ada pilihan lain untuk menghadapi rasa malas selain melawannya. Keadaan yang terkunci oleh pikiran sendiri, meratapi keadaan yang tak kunjung pulih, atau menangisi takdir yang tak sesuai harapan, semua itu tak akan mampu merubah apapun. Sejenak, memang perlu waktu untuk kembali tersadar, bahwa inilah kondisi aslinya, inilah kenyataannya. Beberapa saat, memang perlu mencerna keadaan, sehingga tak lantas langsung memahami kenyataan. Meratapi keadaan adalah hal yang wajar, apabila dilakukan dalam jangka waktu tertentu saja. Kalau sudah berlebihan, mungkin waktunya sesegera mungkin menyudahi.
Salah satu langkah awal untuk kembali ke kenyataan adalah kembali bergerak. Semula apabila tidur, maka duduklah. Semula apabila memejamkan mata, maka bukalah mata selebar-lebarnya. Semula apabila menunduk, tengadahlah dan hadapi. Setidaknya, satu langkah kecil itulah yang akan membawa kita ke perjalanan-perjalanan panjang yang ada di depan. Semula memilih kasur sebagai tempat menghabiskan waktu sepanjang hari, lalu diganti dengan berjalan, menyusuri jalanan komplek untuk sekadar bertegur sapa dengan tetangga.
Hari ini, aku memulai perubahan itu dari sebuah langkah kecil. Bangun lebih pagi, kemudian membawa laptop dan seperangkat alat kerjaku ke working space yang terletak di pusat kota, menjauhi kasur. Rasanya lumayan produktif, ada output yang dihasilkan. Setidaknya, waktu yang kumiliki tak hilang oleh scrolling sosial media yang tiada habisnya itu. Apalagi aku tak perlu mengeluarkan budget puluhan ribu untuk menggunakan wifi dan mengerjakan tugas-tugasku, seperti yang kulakukan biasanya apabila bekerja dari coffee shop. Lumayanlah.
-slm
Madiun, 10 Juli 2025
Komentar
Posting Komentar