Langsung ke konten utama

Langkah Kecil, Bergerak

Memang, tidak ada pilihan lain untuk menghadapi rasa malas selain melawannya. Keadaan yang terkunci oleh pikiran sendiri, meratapi keadaan yang tak kunjung pulih, atau menangisi takdir yang tak sesuai harapan, semua itu tak akan mampu merubah apapun. Sejenak, memang perlu waktu untuk kembali tersadar, bahwa inilah kondisi aslinya, inilah kenyataannya. Beberapa saat, memang perlu mencerna keadaan, sehingga tak lantas langsung memahami kenyataan. Meratapi keadaan adalah hal yang wajar, apabila dilakukan dalam jangka waktu tertentu saja. Kalau sudah berlebihan, mungkin waktunya sesegera mungkin menyudahi.

Salah satu langkah awal untuk kembali ke kenyataan adalah kembali bergerak. Semula apabila tidur, maka duduklah. Semula apabila memejamkan mata, maka bukalah mata selebar-lebarnya. Semula apabila menunduk, tengadahlah dan hadapi. Setidaknya, satu langkah kecil itulah yang akan membawa kita ke perjalanan-perjalanan panjang yang ada di depan. Semula memilih kasur sebagai tempat menghabiskan waktu sepanjang hari, lalu diganti dengan berjalan, menyusuri jalanan komplek untuk sekadar bertegur sapa dengan tetangga. 

Hari ini, aku memulai perubahan itu dari sebuah langkah kecil. Bangun lebih pagi, kemudian membawa laptop dan seperangkat alat kerjaku ke working space yang terletak di pusat kota, menjauhi kasur. Rasanya lumayan produktif, ada output yang dihasilkan. Setidaknya, waktu yang kumiliki tak hilang oleh scrolling sosial media yang tiada habisnya itu. Apalagi aku tak perlu mengeluarkan budget puluhan ribu untuk menggunakan wifi dan mengerjakan tugas-tugasku, seperti yang kulakukan biasanya apabila bekerja dari coffee shop. Lumayanlah.


-slm

Madiun, 10 Juli 2025 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Menyapa

Lama sekali tidak kusambangi lorong-lorong tulisan kosongku, yang tersimpan di dalam draft-draft mangkrak. Aku membaca kembali, banyaknya luka serta syukur yang pernah kulewati. Satu hal yang kusadari, sejak dulu aku dengan setia memeluk lukaku sendiri. Luka yang harusnya segera diobati sejak dahulu kala, tapi aku seperti enggan berpisah dengannya. Ah, aku hanya ingin menulis sedikit saja. Musabab semua hal di kepalaku terasa menyiksa batin serta fisik. Banyak hal terjadi belakangan ini.  Tahu tidak, aku merindukan diriku ketika umur 13-14 tahun. Dimana hidupku saat itu dipenuhi oleh ambisi, mencoba banyak hal, bersemangat di banyak hal. Tidak seperti sekarang yang selalu menyerah dengan keadaan. Tidak ingin berlarut dalam keputusasaan, tapi kesedihan selalu muncul tatkala mentari sudah bersembunyi di ufuk barat. Menyiratkan sebentar lagi cahaya rembulan menggantikan tugasnya. Apalagi ketika temaram malam sudah mulai menyapa, dan kadang hujan turut bertandang menambah emosi yang ki...

Kucing Gemoy

Tidak ada inspirasi bermutu hari ini. Daripada sibuk mencari tema tulisan, aku ingin menceritakan padamu saja tentang kucing hitam-krem mujair yang sudah kurawat sejak sembilan tahun yang lalu. Namanya Firdaus. Sebagian orang pasti bertanya-tanya, "Kucing kok namanya seperti manusia sih?" Hahaha. Tentu saja. Dia seperti kuanggap manusia. Menjadi teman ngobrol, bermain, hingga aku pun bisa ngambek kepadanya. Musabab dia suka sekali menggigit lenganku, kepalaku, hingga kakiku dengan gemas. Bukan gigitan emosi, namun hanya gemas. Tapi tetap saja, rasanya sakit karena giginya yang tajam itu. Umur sembilan tahun bukan umur yang muda untuk seekor kucing. Sudah dibilang tua. Tapi tingkah kucingku tak seperti tua. Masih suka bermain dan aktif. Alhamdulillah. Dia adalah makhluk kecil yang menjadi penghangat di keluargaku. Tatkala sedih karena ayah ibuku berargumen panas, aku bisa memeluknya sembari menangis. Kehadirannya sungguh menjadi pelengkap dan aku sangat menyayanginya. Dia buka...

Mencintai Harus Memiliki?

Mencintai dan patah adalah satu paket yang tak terpisahkan. Tidak mungkin sekadar patah, tanpa mencintai. Pun, tak mungkin sekadar mencintai, tanpa risiko patah. Terkadang seseorang hanya siap dalam mencintai, tapi tidak siap terluka, patah, kecewa. Padahal keduanya bak sebuah dua sisi mata uang. Sepaket, tidak bisa saling terlepas. Jadi, ketika siap mencintai, maka juga harus siap terluka, bahkan kehilangan. Kehilangan ya? Kehilangan. Mungkin tema tulisanku hari ini tak jauh dari kata "Kehilangan".   Kehilangan. Sebuah kata yang menggambarkan lepasnya kepemilikan dari si pemilik. Ketika memiliki buku, lantas buku tersebut hilang, berarti kehilangan buku. Ketika mempunyai ponsel, kemudian ponsel tersebut hilang, maka kehilangan ponsel. Atau, ketika mencintai seseorang, menikahinya, kemudian dia pergi, lantas disebut kehilangan sosoknya.    Tapi, benarkah kau kehilangan? Padahal kau tak benar-benar memiliki. Buku, ponsel, pasangan, semua itu bukan milikmu. Mereka hanya tit...